200 บรรทัดแรก
DELHI 2010
Banyak orang percaya, hanya ada 7 kisah di dunia.
Tapi aku percaya, setiap orang mempunyai kisahnya sendiri.
Kalian pasti mengira, hidup pria tua biasa-biasa saja ini pasti membosankan.
Kalian mana tahu, bahwa hidupku...
...lebih berwarna dibanding rambut ubanku.
Makan, makan... sial...
Pak Robert.
Ini toko utama./ Dia lagi...
Pemiliknya adalah pak Bharat. Assalamu'alaikum.
Halo, Pak Gulati./ Halo, Pak.
Inilah Pak Gupta.
Pemborong top.
Halo.
Ini pemodal asing kami, Pak Robert.
Aku tidak melihat Pak Bharat.
Dia di sini. Memang ke mana dia?
Di ruangannya.
Pak Bharat, untuk terakhir kalinya...
Mohon disimak kertas ini.
Sebenarnya, ini proyek Pak Gupta.
Dan menurutnya, kita bisa untung besar dari kesepakatan ini.
Nanti toko Anda dua kali lebih besar di malnya yang hebat, Pak!
Pak Bharat, setiap pemilik toko di pasar ini sudah tanda tangan.
Cuma...
Kami perlu restu Anda, Pak.
Pak Bharat, jika Anda tanda tangan,...
...kujanjikan mal mewah akan dibangun di pasar ini.
Pegang kata-kataku!
Mohon maaf, Pak.
Aku baru saja tahu,...
...besok Anda ulang tahun, bukan?
Pak Gupta, jangan malu, taruhlah di meja.
Pak Bharat, ini dewi Laxmi, dewi kekayaan yang disembunyikan Pak Gupta.
Di mimpiku tadi malam, dia berkata...
"Aku ingin selalu bersama Pak Bharat!"
Jadi, kubawakan sekalian.
Ya?
Di dalam? Maksudnya... secara rahasia?
Baguslah di tempat ini.
Kita bisa bebas bicara.
Kenapa? Ada apa, Pak?
Apa-apaan ini, Pak Bharat?!
Maafkan aku, Pak. Akan kulepaskan toko Anda.
Seluruh pasar ini pun akan kulupakan, Pak!
Pak Gupta!/ Diam!
Tolong, Pak Gupta!/ Ada apa di dalam itu?
Gulati menjerit.
Gulati kesurupan jin mal.
Dia sedang diruqyah.
Aku lahir sebelum negara ini merdeka dan terbagi.
Aku kehilangan lebih banyak dari yang kudapat...
Namun aku masih berusaha hidup jujur dan adil.
Jika kau bujuk warga sini dengan mal lagi.
Maka jangan lupa...
Mau setua apa pun seorang macan,...
...ia takkan lupa cara mencabik mangsanya.
Pak Bharat, jangan lupa dengan sumpah ayah Anda...
Aku bisa mati, Pak. Lepaskan aku.
Hitunglah 10 sampai 0...
Nanti dia keluar. 10.../ 10.
9.../ 9.
8.../ 8.
Bagus./ 7.
Bagus./ 6... 5...
Ayahku pasti akan memukulmu dengan sapu!/ 4... 3... 2...
Dasar tua-tua gila.
0... simsalabim!/ Dia gila!
Si tua itu sudah gila, Pak Gupta.
Bawa uangnya dan kabur!
Dua tua bangka sudah gila. Selamatkan hidupmu./ Apa?
Lepaskan aku!
Dasar orang gila!
Mereka tak waras!/ Buka pintunya.
Buka!/ Mana mereka?!
Jangan kembali lagi!/ Ke mana mereka?
Tolol! Buka cepat.
Ayo, Vilayati.
Buka... bodoh!/ Buka! Cepat!
Enyahlah!
Jika kau mengusik tokoku lagi,...
Kukubur kau hidup-hidup di sini!
Kau main-main dengan orang yang salah, Bharat!
Tak bisa kumaafkan, akan kubunuh kau.
Cepatlah, bodoh... nanti dia mencekikku lagi!
Dengarkan baik-baik.
Selama aku hidup,...
...tidak akan kujual toko ini.
Juga tidak akan ada mal di sini.
Terserah kalian mau usaha apa.
Lihatlah kekacauan ini...
...kebersihan saja tak dijaga.
Mimpi mau bangun mal?!
Pergilah... sana.
Aku boleh bicara?/ Ya?
Kurasa kau memang sudah gila...
Sebentar lagi usiaku 70 tahun...
Kinilah saatnya gila!
Orang-orang di pasar seolah menunggumu mati.
Katakan ke mereka, Bharat tidak akan mati cepat.
Selamat ulang tahun, Kakek./ Selamat ulang tahun, Kakek.
Berhenti lari-lari. Nanti jatuh.
Sana.
Selamat datang, Kakak ipar! Mari duduk.
Halo, kurang ajar...
Besok usiamu 75 tahun.
70, bukan 75.
Lewat 60 tahun, usia hanyalah angka.
Semuanya sama.
Lagipula di usia 75, Tuhan pun membiarkannya!
Ya begitulah...
Paman, besok kita ke stasiun Attari lagi?
Ya. Seperti 15 tahun yang lalu.
Minum tehmu.
Kakak ipar...
Orang yang seumuranmu tak ada yang menyiapkan pesta ultah.
Harusnya siapkan pemakamanmu.
Untuk menebus dosa-dosamu.
Sudahlah. Dia mudah tersinggung.
Lihat, hadiah!
Selesai sudah, pesta ulang tahunnya.
Di mana kau, Bu Bos?
Minggir, minggir...
Minggirlah!
Kau buta?
Awas.
Sebentar...
Ada apa, seksi?
Aku yang kecelakaan, malah kau yang kacau.
Kenapa mereka mengejek ulang tahunku?
Aku ulang tahun...
Aku harus memotong kue di mana pun kumau.
Piza dan burger di ultah mereka pun aku makan.
Apa aku mengeluh?
Aku ingin memotong kue sambil berlari...
...samping kereta di stasiun Attari.
Mereka kenapa?! Aku tidak memaksa datang!
Bharat, semakin tua semakin kau kekanak-kanakan.
Anak kecil nakal yang semaunya sendiri.
Berhentilah menjadi bohlam tua yang berarus pendek!
Baik, aku sudah ceritakan keseharianku.
Bagaimana kesehatanmu?
Kesehatanku?
Aku masih sering lari pagi!
Kemarin pak Sharma bilang ke tetangganya,...
"Tubuh si Kumud masih saja menarik!"
Oh begitu...
Aku yakin mata pak Sharma perlu diperiksa!
Kakek!
Masuklah./ Terlalu pagi!
Aku belum selesai BAB.
Nanti aku pasti sembelit seharian.
Tenang saja, sudah kusiapkan obatnya...
Ini kunci toko.
Di mana Bu Bos?
Entah kenapa dia lama.
Maaf.
Itu dia.
Selamat ulang tahun!
Rakh Seene Mein Tera Waada Jiya Re Aku hidup dengan janjimu di dadaku
Poori Zindagi Main Toh Aadha Jiya Aku tak dapat hidup dengan bebas
Tu Mera Dard Na Jaane Kau tak tahu sakitku
Aake Laga Le Tu Gale Toh Maine Dard Bhulaane 'Kan kulupa sedihku andai kau kembali dan memelukku
Dhak-Dhak (x2) Dil Ka Charkha Aas Ke Rang Dikhaawe Hatiku yang berdebar-debar menunjukkan warna harapan
Ayo, Bharat! Cepat.
Re Kaun Sa Aisa Rasta Hai Jo Mujh Tak Tujhko Laave Jalan manakah yang mengantarmu kembali padaku?
Ke Thap Thap, Ke Thap Thap Dholak Bhi Ghar Bulaave Gendang yang bergetar juga memanggilku pulang
Ke Thap Thap Roz Hi Birha Gaave Perpisahan ini menyanyi setiap hari
Keretanya telat 4 jam.
Kita bangun pagi-pagi di hari libur cuma untuk ini!
Dia selalu saja mengomel tak jelas.
Jyoti...
Kakek, kenapa kita selalu kemari untuk merayakan ultah Kakek?
Hari ini bukan ultah Kakek.
Apa?!
Saat Kakek masih kecil,...
...Kakek ditanyai tanggal lahir untuk mendaftar sekolah.
Tapi yang hanya bisa Kakek ingat adalah...
...Kakek tiba di stasiun Attari dengan kereta dari Pakistan pada tanggal 15 Agustus.
Jadi, Kakek jawab, "15 Agustus!"
Kenapa Kakek dari Pakistan datang ke sini?
Kami terpaksa ke sini.
Karena saat itu,...
...pria tua bijak di ruangan usang berdebu merasa...
"Mungkin rakyat kita akan bahagia bila kita pisahkan negara ini..."
Kau lihat dia?
Pria ubanan, berjas, sepatu pantofel...
Berjalan dengan gagahnya.
Dia kakak iparku.
Dan dia sangat baik.
Ingin main kelereng?
Hei, kami boleh main juga?
Ini.
Katakan, yang mana harus kukenai?/ Yang ini.
Kakek, kapan Kakek belajar ini?
Nak, kisahnya panjang.
Gawat! Masuk ke ruang guru, Bharat...
Ayo, kita ambil.
DESA MIRPUR, LAHORE 1947
Ayo, jangan bersuara.
No comments yet. Be the first to leave one.