164 บรรทัดแรก
Kita akan mati di sini, dan memercayakan arti kehidupan pada yang masih hidup!
Itulah satu-satunya cara yang dapat kita lakukan di dunia yang keji ini!
Marahlah, Prajuritku!
Berteriaklah, Prajuritku!
Bertarunglah, Prajuritku!
Komandan...
Jangan mundur!
Terus maju!
pada hari itu, umat manusia telah ingat
ano hi jinrui ha omoidashita
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
bayang melaju dalam cahaya yang redup, membuat setiap orang gelisah
usuyami no naka susumu kage ha daremo kokoromoto naku
masa depan yang tak pasti selalu saja mekar di atas es yang tipis
futashika na mirai ha itsudatte hakuhyou no ue ni saku
setiap kali malam telah tiba, berkali-kali
yoru ga otozureru tabi ni ikudo mo
dengan lembutnya kami elus leher dengan tangan yang dingin ini
tsumetai te de oretachi no kubisuji wo yasashiku nadeta
walau khianati senja, kami bergantung pada nyala harapan di punggungnya
tasogare wo uragitte tomoru kibou no se ni sugari
walau tahu bahwa mengejarnya akan bawa kita menuju neraka
oikaketa jigoku he to mukatteiru to shittemo
bila ingin lihat kelanjutan dari mimpimu, apa yang bisa kautawarkan?
yume no tsuzuki ga mitai nara omae ha nani wo sashidaseru
iblis itu berbisik dengan manisnya, dan jalanannya terbuat dari para mayat
akuma ha amaku sasayaita shikabane de michi wo tsukure
"apa yang ada di sisi lain tembok?" pertanyaan itu selalu hantui kami sejak kecil
sono kabe no mukou ni nani ga aru osanaki hibi ni akogareta
kebenarannya akan berada di sana, di ujung akhir jalan yang penuh mayat ini
shinjitsu ha sugu soko ni aru shikabane no michi no saki ni
jejak panah dan busur yang betebangan telah menyebar dan tembus sayap kebebasan
yumiya ga kakenuketa kiseki tsubasa wo chirashite
bahkan bila harus lapisi jantungmu, tapi masih terlalu dini untuk berdoa
shinzou wo tabanetemo Requiem ni ha hayasugiru
itu karena mataharinya masih belum tenggelam
taiyou ha mada shizundeinai no dakara
teruslah 'tuk maju hingga lewati ombak
susumi tsuzukeru nami no kanata he
Pahlawan
Menyedihkan.
Mereka tak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya.
Itu adalah tragedi atas Raja Reiss yang ambil ingatan mereka tentang dunia ini.
Karena itulah mereka akan terus ulangi kesalahan mereka.
Sampai dia mati, dia terus kirimkan manusia,
mulai dari yang tua sampai anak-anak menuju kematian di luar tembok.
Menggunakan rasa bangga akan kematian mereka.
Jangan bercanda!
Aku malah menghancurkannya.
Apa yang kulakukan?
Kenapa aku jadi seserius ini?
Aku berbeda dengan ayahmu, 'kan?
Aku harus nikmati apa yang kulakukan ini.
Mari kita ubah manusia itu jadi setumpuk daging yang membanggakan!
Dia akan melempar lagi! Tembak!
Datang.
Apa aku akan mati seperti ini?
Hitch sekarang sedang apa, ya?
Tidak, dia pasti sedang tidur sekarang ini.
Enak, ya.
Apa yang kulakukan di sini?
Permainan selesai!
Apa kalian tahu? Aku gunakan teknik lemparan yang berbeda, lo.
Pasti takkan ada yang tersisa, 'kan?
Tembak!
Sudah kubilang...
Untuk apa kalian terus tembakkan itu?
Untuk apa kalian terus berteriak seperti itu?
Kasihan sekali.
Apa?
Raksasaku dikalahkan?
Eh?
Ada satu prajurit yang harus diwaspadai?
Ya, Kapten Levi itu sangat berbahaya.
Dia inikah Levi itu?
Tengkukku!
Apa?
Aku tak bisa melihat!
Apa dia menyerang mataku?
Kakiku!
Kau tampak nikmati semua ini, ya!
Pengerasan!
Gawat, tak sempat!
Biar kutambah kesenanganmu!
Setiap kau berubah jadi Raksasa,
kau akan gunakan banyak tenaga dan butuh waktu untuk berubah lagi.
Benar, 'kan?
Hoi, jawab aku.
Kau orang yang tak sopan, ya.
Aku tak bisa membunuhnya dulu.
Apa tak ada orang yang tersisa?
Prajurit juga tak masalah.
Selama masih ada yang hidup,
kita bisa gunakan suntikan ini untuk mengubahnya jadi Raksasa.
Lalu bisa menangkap orang ini dan gunakan kekuatan Raksasa Hewan Buasnya.
Siapa saja, cukup seorang saja.
Seseorang yang bisa hidupkan...
Hoi, mau ke mana kau? Berhenti.
Kalian semua, habisi orang itu!
Sakit!
Kau berhasil kalahkanku, Levi!
Sakit!
Tapi persediaan senjatamu pasti sudah hampir habis.
Kalian semua akan mati di sini.
Tadi itu hampir saja, tapi kamilah yang menang!
Tunggu.
Aku sudah berjanji padanya
untuk membunuhmu.
Aku sudah janji!
Kenapa aku masih hidup?
Siapa saja...
Hoi, apa ada yang masih hidup?
Bedebah itu...
Dia masih hidup, ya.
Bagaimana cara menghabisinya?
Apa yang harus kita lakukan untuk kalahkan musuh seperti itu?
Eh, Armin, sepertinya kita hanya bisa bawa Eren ke tempat yang aman.
Dia semakin kurus.
Tubuh Raksasa Kolosal semakin kurus.
Benar seperti yang dikatakan Ketua Hange!
Raksasa Kolosal tak bisa bertarung dalam waktu lama.
Coba kalian ingat ekspresimen Eren.
Dia hanya bisa berubah tiga kali berturut-turut.
Dan itu untuk Raksasa 15 meter,
sedangkan untuk Raksasa 60 meter pasti akan lebih banyak gunakan energi.
Saat dia keluarkan uap panas itu,
dia pasti habiskan seluruh daging di tubuhnya untuk ciptakan itu.
Lalu apa intinya?
Armin.
Aku punya rencana.
Kalian harus alihkan perhatian Reiner.
Bertolt biar aku dan Eren yang urus.
Kami berdua akan mengalahkannya.
Baiklah.
Serahkan Reiner pada kami.
Lama sekali, Bodoh.
Kukira semua ini akan berakhir.
Aku tak tahu kenapa,
saat aku berpikir merebut kembali kebebasan kami,
kekuatan seakan keluar dari tubuhku.
Kalau rencana ini berhasil, aku mungkin takkan bisa lihat laut.
Saat aku memikirkan dunia luar,
keberanianku muncul seketika.
Eren, bangunlah!
Kita akan lihat laut.
Informasi yang Telah Terungkap
Dunia Luar Dikatakan bahwa ada dunia di luar tembok. Dunia tersebut memiliki air yang berapi-api, tanah es, padang salju berpasir, dan danau air asin yang disebut laut yang membentang jauh melewati cakrawala. Beberapa orang bergabung dengan Pasukan Pengintai semata-mata karena impian mereka adalah untuk melihatnya.
Eren,
aku punya rencana.
Kita hanya tinggal melakukannya saja.
Selama Bertolt terkecoh,
pertarungan ini akan jadi kemenangan kita.
Dengar!
Kita harus percaya pada Armin dan Eren mengurus Bertolt!
Tugas kita cukup untuk alihkan Reiner saja dari mereka.
Kita harus mendekatinya dan alihkan perhatiannya.
Baik!
Diabaikan?
Kurang ajar, apa dia akan terus menuju Eren?
Tak ada pilihan selain membunuhnya!
Mikasa?
Hoi!
Kalau kita tak bisa alihkan perhatian Reiner, kita harus bisa menghentikannya!
No comments yet. Be the first to leave one.