200 บรรทัดแรก
Oh, begitu. Jadi, Tsukasa ditolak, ya?
Ya, Eru sih bilangnya begitu.
Apa kita tak perlu bicara padanya?
Atau mending kita biarkan saja dia begitu?
Yasutaka?
Kayaknya syok berat.
Tolong jangan bercanda di saat begini.
Eh? Aku cuma mau hibur Tsukasa.
Tsukasa, apa betul kau nyatakan cinta sama Isla?
Maaf ya, mendadak panggil kau ke sini.
Anu, apa kau
baik-baik saja?
A-Apa Tsukasa betul-betul nyatakan cintanya padamu?
Terus, katanya kau tolak dia.
Tu-Tunggu!
A-A-A-Ak-Aku harus bagaimana?
Aku... Aku...
Ti-Tiba-tiba saja dia bilang suka sama aku, terus... terus apa...
kumpulkan cahaya
hikari wo atsumete
tinggalkan kenangan
sayonara no omoide wo
seseorang yang mengagumkan menatap mimpi yang jauh
hitomi ni tataete mitsumeru yume tooku
gelembung ingatan yang jadi rusak
kowarete shimau utakata no Memory
kelembutan air mata yang kesepian
samishisa no namida sotto fukou
ulurkan tangan layaknya kincir yang rebut kebaikan
nobashita te ha kanransha yasashiku toraete
bangkitkan kepingan ingatan
mezamesou na kioku no kakera
menunduk berharap 'tuk menghilang
utsumuite kiete hoshii to inoru kedo
namun kautemukan suaraku
kimi ga mitsukete kureta kono koe wo
jarum jam mulai berdetak
ugokidashita tokei no hari
dunia pun jadi penuh warna
sekai ha yagate irodzuite
hati plastik yang bersinar
Plastic no kokoro ga kagayakidasu yo
takkan kulupakan dan ingatlah
wasurenai de oboete ite
hingga suatu hari kita kan bertemu
itsuka mata meguriaeru hi made
Pascafestival
Ini sih, jauh dari baik-baik saja.
Waktu dia tiba-tiba bilang suka,
mendadak isi kepalaku jadi penuh sama berbagai macam hal.
Aku sudah enggak lihat situasi lagi,
dan spontan langsung bilang, "Aku enggak bisa."
Sejak itu, dia jadi begini terus.
Tiap kuajak bicara, dia seolah enggak dengar aku.
Reaksinya bakal tetap sama biarpun diajak bicara sama orang lain.
Kau enggak usah merasa bersalah, Isla.
Belakangan Tsukasa memang kelewat percaya diri,
dan akhirnya jadi begini.
Ini pasti salahnya sendiri.
Habisnya, dia pasti main bilang begitu saja tanpa lihat suasananya, 'kan?
Waktu di festival, aku sempat terpisah dari Tsukasa.
Nah, 'kan? Dia memang enggak bisa diharapkan kalau temani cewek saja enggak becus!
Tapi, sehabis itu dia mencariku
dan akhirnya kami ketemu.
Ya, semua orang juga bisa kalau cuma itu.
Terus kembang apinya mulai diluncurkan.
Kami lihat bareng sambil pegangan tangan.
Eh? Kalian sudah pegangan tangan?
Boleh juga dia.
Sehabis itu, kami sempat bicara sebentar, dan dia peluk aku.
Di-Dia tipe yang berani juga, ya?
Waktu itu, dia langsung bilang suka.
Itu sama sekali enggak romantis!
Enggak heran kalau kau tolak dia.
Aku juga bakal bilang begitu!
Mukamu merah banget.
Mana mungkin!
Bagaimana ini?
Aku jadi sakiti perasaan Tsukasa.
Kau sendiri bagaimana, Isla?
Aku bingung.
Michiru bakal lakukan apa kalau jadi aku?
Eh? Aku?
Itu sih, enggak usah ditanya lagi.
Belum ada orang yang bilang suka sama Michiru.
Hoi, simpan saja komentar busukmu itu!
Kau sendiri masih bisa bersikap normal di depan Tsukasa?
Sulit, ya.
Kelihatannya kalian berdua perlu suasana baru sementara.
Bagaimana kalau kau pisah rumah dulu dari Tsukasa beberapa hari?
Kau jadi punya waktu buat pikirkan ini semua baik-baik, 'kan?
Pisah rumah.
Caranya?
I-Itu
masih kupikirkan.
Solusinya mengambang, deh.
Hati-hati sama tugas kali ini.
Pemiliknya pernah dijerat hukum akibat tindakan kekerasan.
Aku paham.
Omong-omong,
sudah dengar kalau Tsukasa nyatakan cintanya sama Isla?
Apa? Yang benar?
Aku dengar dari Eru.
Kapan kejadiannya?
Kemarin.
Tsukasa bilang apa waktu melamar dia?
Dia bukan melamar, tapi nyatakan cinta.
Hubungan mereka sudah sejauh mana, sih?
Sejauh mana itu maksudnya apa?
Kau tahu sendiri!
Aku bisa bayangkan maksudmu, kok.
Terus, bagaimana jadinya?
Dia ditolak Isla.
Di-Ditolak?
Betul.
Aku sendiri enggak duga bakal ditolak.
Aku enggak habis pikir!
Wajahmu jadi seram.
Berisik!
Dengar, ya!
Kalau berani sentuh barang-barangku tanpa izin, kau bakal menyesal!
Zack, kalau Tsukasa kelihatan mencurigakan sedikit saja,
tendang dia dari ruangan ini!
Eh, Tsukasa.
Michiru biasanya simpan baju dalamnya di laci itu, terus yang di sana—
Kenapa malah kasih tahu dia, sih?
Eh, kok aku jadi harus sekamar sama Tsukasa?
Aku malas lihatnya kalau dia depresi banget.
Cuma buat beberapa hari, tahu.
Susunan kamarnya sudah kuganti, jadi kita pisah sementara.
Aku perlu temani Isla bareng Eru.
Terus, aku yang harus hibur Tsukasa?
Enggak usah sampai sejauh itu.
Kau sendiri mau begitu terus sampai kapan?
Semangat sedikit, dong!
Padahal cuma ditolak begitu saja!
Astaga.
Anu...
Kalau dibiarkan, kau pasti bakal melamun terus sampai lupa makan, bukan?
Aku enggak mau lihat ada orang mati kelaparan di ruanganku!
Kalau cuma enggak makan sehari, dia enggak bakal mati, kok.
Kau bilang apa?
Bukan apa-apa!
Ayo, cepat makan sebelum dingin.
Oh, ya.
Terima kasih.
Selamat makan.
Nah, Islacchi. Ayo makan mumpung masih panas!
Ini semua khusus buatmu! Silakan makan yang banyak!
Da-Daripada itu, kok aku disuruh pakai baju begini?
Habisnya jadi kelihatan imut!
Aku enggak percaya kalau Islacchi ada di kamarku!
Mimpiku jadi kenyataan!
Ini malam yang paling indah!
Aku jadi enggak bisa santai.
Zack, kelakuanmu yang betul, dong.
Ya.
Dasar, jadi enggak semangat kerja gara-gara patah hati sama teman sekantor.
Buat ukuran anak baru, itu sudah keterlaluan!
Ya. Maaf, deh.
Mentalmu itu masih kayak anak baru lulus SMA!
Aku enggak bisa bilang apa-apa.
Aku tahu kalau kau masih syok, tapi jangan bawa-bawa urusan pribadi ke pekerjaanmu.
Bayangkan kalau kau yang lagi depresi begitu
datang buat menarik Giftia yang berharga, bagaimana rasanya?
Aku sudah cerita waktu ayahku berubah jadi Wanderer, 'kan?
Eh?
Ya.
Begitu kehilangan ayahku di depan mata,
aku jadi merasa sendirian di dunia ini,
tapi mbak Kazuki terus-terusan datang menjengukku.
Aku enggak tahan lihatnya, jadi akhirnya aku bilang langsung ke dia,
"Enggak usah datang ke sini lagi, deh."
Dan dia...
Kami di Terminal Service wajib pikirkan perasaan Giftia dan juga pemiliknya.
Aku tahu,
aku enggak bakal bisa gantikan posisi ayahmu,
tapi aku bisa jadi tempat curhat.
Kalau itu bisa bikin kau merasa lebih baik, aku siap dengarkan.
Kalau enggak begini,
aku bakal merasa bersalah banget sama ayahmu.
Waktu lihat mbak Kazuki kayak begitu, aku jadi mau bergabung ke Terminal Service.
Aku bangga banget sama pekerjaanku sampai sekarang.
Makanya, kalau pada akhirnya kau cuma mau main-main di sini,
kau enggak bakal kubiarkan begitu saja.
Maaf.
Sama,
terima kasih sudah pikirkan aku.
Aku cuma kasih pemahaman sebagai seniormu.
Kau menyesal sudah nyatakan perasaanmu?
Enggak.
Biarpun pada akhirnya aku ditolak,
perasaanku ke Isla enggak bakal berubah.
Yang kaupikirkan cuma Isla, ya.
Kalau lagi begitu, kau jadi kelihatan keren—
Ko-Kok barusan aku bilang begitu?
Kau kenapa?
Enggak ada apa-apa, kok! Sebentar, kau paham sama yang kubilang barusan, 'kan?
Kalau tahu, jangan duduk di situ terus!
Pikirkan hubunganmu sama Isla ke depannya!
No comments yet. Be the first to leave one.