200 บรรทัดแรก
Modal recehan jadi Jutawan! Visi Mis Foya Foya, cuma di RECEH88
Beberapa hari yang lalu,
sesuatu yang aneh telah terjadi.
Inilah yang kami dengar saat kami tiba di desa terdekat.
Pria yang kuat di desa
sering menghilang di tengah malam.
Saat ditemukan,
roh mereka tidak ada
dan mereka seperti mayat kering,
seolah-olah esensi kehidupan mereka telah diisap habis oleh siluman.
Guruku itu memang selalu suka mencampuri urusan orang
dan memaksaku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Begitulah
aku bertemu dengan anak ini.
Tunggu.
Kukira siapa.
Ternyata Pendeta Agung.
Ada apa?
Kamu pernah mendengarnya?
Reputasi Pendeta Agung terkenal hingga ke mana-mana.
Sayang sekali sekarang derajatmu merosot
dan kamu mengorbankan dirimu untuk Kayangan dan Pendeta Tang.
Mengorbankan diri untuk mereka?
Kamu kira aku begitu menganggur?
Kita tidak pernah mencampuri urusan satu sama lain.
Kusarankan agar kamu tidak ikut denganku melakukan kejahatan.
Semakin kejam,
semakin aku menyukainya!
Pendeta Agung yang Setara dengan Surga juga hanya begitu saja.
Nyaman sekali.
Tongkat.
Wukong, kamu melukai orang lagi.
Mereka adalah siluman!
Penampilan mereka memang agak menakutkan.
Tetapi dibandingkan denganmu dan Bajie,
mereka pasti orang biasa.
Kamu masih menyebutnya orang biasa?
Mereka sudah tidak seperti manusia sama sekali, kamu tahu?
Muridku!
Diam, biksu sialan!
Cukup menyakitkan juga melihat Pendeta Agung yang Setara dengan Surga
berakhir menyedihkan seperti ini.
Matilah!
Aku tidak percaya kamu sanggup membunuhku.
Nyawa mereka tidak ada hubungannya denganku!
Binatang jahat, bagaimana bisa kamu membunuh yang tidak bersalah tanpa pandang bulu?
Tidak ada yang bisa memerintahku.
Pendeta Agung yang Setara dengan Surga!
Biksu sialan, percaya atau tidak, aku akan membunuhmu!
Pendeta Agung.
Apa sebenarnya yang kamu rencanakan dengan
mengawal Pendeta Tang ke Tianzhu?
Aku melakukannya demi kebebasan.
Apa kamu pikir kamu bisa mendapatkan kebebasan
dengan mencapai Tianzhu?
Apa yang kamu bicarakan?
Bukalah matamu lebar-lebar.
Lihatlah baik-baik siapa kamu sebenarnya.
Guru, ada apa?
Apa yang terjadi?
Di mana aku?
Apa yang terjadi?
Semuanya akibat bandana ini.
Wukong, apakah kamu menyadari kesalahanmu?
Tentu saja.
Akhirnya aku mengetahui
bahwa mengikutimu adalah sebuah kesalahan.
Mengapa kamu tidak pernah bertobat?
Kamu tidak pandang bulu dan menyalahgunakan kekerasan.
Kapan aku bukannya tidak pandang bulu
dan menyalahgunakan kekerasan
untuk menyelamatkanmu dari meja makan siluman?
Jika segalanya bisa terselesaikan dengan cinta,
untuk apa mengambil kitab bodoh itu?
Muridku, jangan berkata kasar.
Guru, jangan membaca mantra.
Apakah aku menyadari kesalahanku masih belum cukup?
Sebenarnya pikiranmu tidak jahat.
Tetapi sifat alamimu agresif.
Lebih baik jika kamu dapat menyadari kesalahanmu dan memperbaikinya.
Mulai sekarang, tidak boleh menggunakan kekerasan.
Lebih banyak percaya dan kurangi kecurigaan.
Ketahuilah bahwa cinta dan perdamaian
adalah jalan yang kita kejar.
Wukong.
Ada apa dengan matamu?
Mataku kemasukan debu.
Aku akan membantumu meniupnya.
Terima kasih, tidak usah.
Yun'er, cepat.
Apakah kue awan hari ini sudah habis dibagikan?
Bubarlah.
Dewa.
Dewa, tolonglah kami.
Dewa.
Dewa, kasihanilah kami.
Aku masih ada putri yang harus kurawat.
Aku tidak boleh mati, Dewa.
Kumohon.
Kalian benar-benar masih menginginkannya?
Kumohon.
Kumohon agar Anda berbelas kasihan.
Ambilkan yang baru.
Berikan satu padaku.
Berikan satu padaku.
Berikan satu padaku.
Berikan padaku.
Shen Jian!
Siapa yang begitu kasar?
Aku adalah Dewa Roh Raksasa.
Ternyata si rakus.
Jaga perkataanmu!
Kamu mencuri artefak surgawi dari Kayangan,
melepaskan jamur untuk menjangkiti warga desa
dan mengacaukan dunia manusia. Dosamu tidak bisa diampuni!
Omong kosong.
Dia bukan dewa.
Dia adalah siluman.
Barang pemberian siluman tidak boleh dimakan.
Berikan satu padaku.
Lihatlah.
Dia benar-benar seekor siluman! Tidak boleh dimakan!
Siluman!
Aku tidak menipu kalian, bukan?
Ibu!
Yun'er!
Yun'er!
Ibu!
Yun'er.
Gawat.
Ingat baik-baik!
Aku pasti akan membalaskan dendam ini!
Yang Mulia!
Yang Mulia, ini gawat.
Ada warga desa yang menyelinap ke Gua Dewa Air tanpa izin
dan mencuri kue awan.
Untuk apa panik?
Sepertinya Nona Qi meninggalkan gua dengan sendirinya
dan mengejar mereka.
Tidak ada air lagi di dalam gentong.
Aneh.
Bagaimana bisa tidak ada yang tinggal di rumah ini?
Tolong!
Siapa yang sedang meminta tolong?
Tolong!
Dari suaranya, itu adalah suara pria.
Ah, membosankan sekali.
Muridku.
Mengapa kamu harus membedakan pria dan wanita saat menolong orang?
Wukong, cepat selamatkan dia.
Cepatlah.
Bagaimana aku menolongnya jika aku tidak menyerang?
Tentu saja...
menyelesaikan konflik dengan penuh cinta.
Cepat, pergilah.
Aku mengerti.
Jangan lupa berpelukan.
Berhenti!
Jangan lari!
Semuanya.
Bicarakanlah baik-baik.
Jangan melawan dan membunuh di setiap kesempatan.
Enyahlah!
Jika ada masalah, kita selesaikan masalahnya.
Berpelukanlah dengan tulus.
Gunakan cinta dan perdamaian untuk memberi kehangatan.
Persetan dengan kehangatan!
Jangan!
Tunggu!
Cinta dan perdamaian.
Binatang jahat, mengapa kamu melukai orang lagi?
Hei, kalian.
Mengapa kalian mendorongku?
Orang dengan wajah pemarah ini menakutkan sekali.
Guru, tolonglah.
Tuan, cepatlah berdiri.
Cepatlah berdiri.
Apa yang telah terjadi?
Tunggu.
Apa yang kamu lakukan?
Menyingkir.
Begini.
Guruku menyuruhku untuk memperlakukan orang lain dengan tulus...
Nona.
Ada yang bisa kami bantu?
Enyahlah.
Baiklah.
Apakah mereka menindasmu?
Katakan padaku.
Aku akan membantumu membalas dendam.
Mereka mencuri kue awan kami.
Hei, kalian.
Guru, lihatlah.
Warga desa kami terjangkit wabah.
Mereka hanya dapat sembuh jika memakan kue awan.
Kue ini masih dalam tahap percobaan.
Tidak boleh dimakan sembarangan.
Mencoba lebih baik daripada mati, bukan?
Tidak peduli apa pun itu,
kalian juga tidak boleh mencuri.
No comments yet. Be the first to leave one.