200 บรรทัดแรก
SERIAL NETFLIX
Ini tempat kejadiannya.
Apa kau merasa mendapatkan sesuatu?
Ya.
Sangat banyak.
Ibu korban berduka.
Dia kehilangan putranya dengan cara yang mengerikan.
Dia pantas mendapatkan penjelasan apa yang terjadi.
Tujuanku adalah dapat memberikan penjelasan dan jawaban padanya
sehingga dia dapat melanjutkan hidup dengan hati lapang.
Aku merasakan ini tabrak lari.
Bukan terjadi di tempat lain lalu dia dibuang di sini.
Bukan seperti itu.
Rasanya aku nyaris terkena serangan panik.
Dengan lalu lintas kendaraan dan kebisingan ini,
aku merasa kembali ke waktu dia meninggal.
Ya.
Aku penasaran apa dia mendengarkan musik
karena aku merasa terdistraksi.
- Ya. - Mungkin aku harus tanya Ibu.
Mungkin kebiasaannya mendengarkan musik saat dia berjalan.
Tapi aku yakin pelakunya sadar melakukannya.
Siapa pun yang menabraknya, pasti sangat jelas.
Walau terasa seperti kecelakaan,
aku merasa pelakunya tidak menghargai jiwanya.
Dia tak menyesal terus berjalan.
Aku benci itu.
Aku sangat membencinya. Ada perasaan, "Aku tak menepi."
- Ya. - "Aku bahkan tak peduli."
Tapi informasi ini sangat berguna.
- Kini aku bisa bicara dengan Ibu. - Ya.
- Mungkin ada yang kudapatkan lagi. - Itu bagus.
Terima kasih telah mengantarku.
Aku akan menemui ibu Aaron. Semoga aku bisa terhubung dengan putranya
dengan cara lain, berbeda dengan yang di TKP.
Ini ibu yang berduka.
Meski kondisi kepergian anaknya misterius,
dia perlu bantuan.
Dia perlu validasi
dan dia perlu merasakan terhubung kembali.
HINGGA KINI, POLISI TAK BISA MENYIMPULKAN APA ADA UNSUR KESENGAJAAN
PADA KEMATIAN AARON DAN PENYELIDIKANNYA TETAP TERBUKA.
- Akan kukabari. - Baik.
- Dah. - Terima kasih.
Terima kasih.
Aku menyewa Robin karena tak akan ada penyelesaian bagiku.
Tapi aku perlu kedamaian, keadilan.
Aku perlu pelaku pembunuhan anakku...
bertanggung jawab atas perbuatannya.
Halo! Aku Tyler.
Apa kabar?
Tidak apa-apa. Peluk aku. Aku paham.
- Tidak mungkin. - Aku tahu. Ini menyesakkan.
Tak apa-apa. Bagaimana kabarmu?
- Astaga. - Senang berjumpa.
Aku tahu ini menyesakkan. Tidak apa-apa.
- Semua baik. - Aku harus duduk.
- Mari duduk. - Astaga.
Tentu saja. Kita bisa duduk di sini. Buat dirimu nyaman.
Aku senang bersamamu.
Terima kasih banyak.
Kadang orang membawa objek atau ingin aku memegang objek.
- Kau punya? - Ya.
- Tolong peganglah. - Baik.
- Luar biasa. Aku suka ini. Itu keren. - Ini dasi.
Terima kasih. Ini indah.
Akan kuletakkan di sini dan mungkin akan kupegang beberapa kali
untuk membantu terhubung, tapi...
- Kita lihat apa yang kudapat. - Baik.
Agar kau tahu, karena aku tahu kau tak tahu banyak
yang kulakukan tadi,
tapi aku pergi ke tempat di mana putramu meninggal.
Aku turut prihatin kau harus mengalaminya.
Aku mencoba mendapatkan kesan apa pun
dan aku merasakan cinta.
Dia orang yang baik, tak pantas mendapatkan ini.
Aku harus membicarakan sejumlah orang yang datang hari ini.
Ya.
Jika aku terhubung ke sisi ibumu,
sejumlah orang dari situ tiba-tiba menyela,
mereka bersama-sama, mereka bahagia, dan mereka bersama putramu.
Ini mungkin terdengar aneh, tapi apa ada kejadian
pada sisi keluarga ibumu di mana sebuah nama wanita diulang?
Nama dengan dua huruf "I".
Apa ada nama dengan dua "I"?
Bisa katakan padaku?
- Iris. - Baik. Lalu?
Iris.
- Iris dan Iris. - Iris dan Iris. Dobel...
Makanya kulihat "I" dobel.
- Aneh. Kesannya berbeda. - Ya ampun.
Ada dua hal. Aku menerima delapan dobel.
Tidak apa-apa, tapi ada delapan.
Aku terus melihat delapan.
Biasanya berarti usia delapan,
angka delapan, tapi juga bisa berarti, anehnya, bulan Agustus
yang penting bagi keluarga.
- Apa itu masuk akal? - Ya.
8-8-95. Aaron lahir.
Aku terus menerus melihat delapan.
- Jika aku mengemudi, delapan. - Ya.
Dia datang.
Dia mencoba membuatku tertawa saat dia datang.
Membuat wajah lucu, dan aku mendapat kesan,
rasanya betapa gembira.
- Membuatku tersenyum. - Putraku.
- Seperti senyummu. - Ya!
Rasanya, jika dia mirip seseorang,
dia ingin mirip denganmu. Katanya, "Jika aku mirip dengan seseorang,
sungguh terhormat bisa mirip seperti ibuku."
- Itu anakku. - Ya.
Dia juga memberikan perasaan tak pernah bisa, seperti,
"Aku tak bisa melukai lalat."
Dia bahkan melucu dia pernah menyelamatkan hewan.
Dahulu kami punya kucing kecil, Hippie.
- Ya. - Dia suka Hippie.
- Dia merawatnya. - Tentu saja.
Tapi kami menyelamatkan dua anjing,
lalu tiga anjing, karena mereka bersaudara.
- Ya. - Ya.
Dia punya pesan tentang ayahnya,
tapi aku harus berhati-hati mengatakannya.
Ya.
Dia tahu mandirinya dirimu.
Dan mungkin seseorang ingin berdamai,
atau sedikit membantu, dan mungkin harus mundur.
Ayahnya kini tinggal di Filipina dan tidak mengakuinya.
Ya.
Jadi, aku harus mengurus banyak hal sendiri.
Ya. Dia tidak marah, tapi dia melihatnya apa adanya
dan kaulah tumpuannya.
- Selamanya. - Kau selamanya tumpuannya.
Aku kehilangan orang terpenting dalam hidupku.
Putraku satu-satunya.
Dia tak berbuat jahat pada orang lain,
kecuali mencintai dan berdoa untukmu.
Dan aku kehilangannya. Sulit membayangkan hidup tanpanya.
Kami punya banyak rencana.
Terakhir aku melihat putraku Aaron, saat larut malam
aku kerja lembur,
aku ingat pulang dengan suasana hati buruk.
Jujur. Perasaanku buruk.
Dia mengikutiku ke tangga. Berkata, "Cium aku."
Dia selalu menyemangati dan menciumku, tapi suasana hatiku buruk.
Lalu aku...
Aku memberi Aaron ciuman pertama dan terakhirnya.
Aku tak tahu.
Ya. Dia menyatakan,
ada dua hal.
Saat aku di sana tadi, aku ingin mengatakannya dengan lembut.
- Tapi aku juga ingin jujur denganmu. - Ya.
Saat aku di tempat kejadian tadi,
aku tercengang dengan betapa ini terasa mengejutkan.
Maksudku keadaan yang berlangsung instan, seperti kejadian ini.
Entah kenapa, aku tak mendapat gambaran visual apa yang terjadi.
Rasanya di belakangku.
Aku tahu ini aneh, tapi saat aku di sana,
aku lebih merasakan punggung daripada bagian depan.
Aku merasa sakit punggung dan mulai merasakan tulang belakang.
Jadi, itu terjadi dengan sangat cepat
dan dia tidak tahu sama sekali akan ditabrak.
Betul.
Jalan itu sering dia lewati.
Aku merasa, dia pernah berada di jalan itu sebelumnya.
Dia juga tahu bahaya yang ada di sana.
Ini hal yang menarik,
aku pikir dia sudah diperingatkan agar berhati-hati di jalan itu.
- Masuk akal? - Ya.
Ya, dia juga meninggalkan kesan
rasanya aku lebih dekat ke jalan itu dari seharusnya.
Lebih dari itu, aku merasa terdistraksi dengan suara bising.
Apa dia pernah mendengarkan musik saat berjalan?
Ya, aku sudah memperingatkannya.
Baik. Menurutmu, apa yang terasa janggal?
Kita bisa membahas ini dan...
- Rasanya dia dijebak. - Baik.
Seseorang mengancam melakukan hal yang sama setahun sebelumnya.
Pertama kali aku mengerjakan kasusnya, saat foldernya di depanku,
aku merasa ada teori terkait rasisme.
Menariknya hal itu datang kedua...
Ya, itu hanya folder fail.
Aku tahu pasti ada teori
yang telah dipikirkan dan dimunculkan.
Tapi dia tak datang dengan perasaan menyalahkan, atau menghakimi, atau marah.
Biasanya, saat orang menjadi target atau dibunuh,
mereka akan datang berkata, "Dengar, orang itu menyakitiku."
Tapi aku tidak cenderung berpikir
seseorang menarget putramu atau semacam itu.
Aku tak merasa pelakunya mengenal putramu.
Tak terasa begitu.
Tingkat kekejian kejadian ini luar biasa
karena pelakunya melanjutkan perjalanan,
tapi dia sadar dia pergi sangat cepat.
Jadi, dia tidak tersiksa atau menderita.
Dengan sifatnya yang pemaaf, dia tidak marah.
Jiwanya bebas. Dia tidak marah.
Dia tak menyimpan dendam dan aku merasa kita akan membuat kemajuan
dalam menemukan pelakunya.
Aku merasa dalam waktu yang lama, keadilan akan ditegakkan.
Aku merasa dia merasakannya, tapi dia tidak merah.
No comments yet. Be the first to leave one.