200 บรรทัดแรก
Sampai.
Kamu sedang apa? Tidak keluar?
Ya, aku keluar.
Kamu terkejut?
Jangan dipikirkan dan lupakan saja hari ini.
Ya?
Ya. Baik.
Ayo masuk.
Lepaskan dia!
Jun Ki?
Jung Eun, kamu baik-baik saja?
Kamu terluka?
Kenapa kamu membuatku khawatir?
Ayo, Jung Eun.
Jun Ki. Kudengar kamu menghilang di tengah syuting.
Ada apa?
Ada urusan mendadak.
Apa?
Kenapa kamu penasaran?
Pikirkan urusanmu sendiri!
Apa yang akan kamu lakukan? Produser tampak marah.
Aku baru saja ditelepon staf. Aku dipecat.
Bukankah kamu menggantikanku syuting hari ini?
Katanya kamu bagus, jadi, dia ingin merekomendasikanmu kepada yang lain.
Apa?
Ternyata seperti itu.
Tapi apa rencanamu?
Tidak apa-apa.
Lagi pula, itu tidak cocok untukku.
Menurutku aku lebih cocok menjadi aktor daripada reporter.
Aktor.
Jadi, jangan khawatirkan aku, pertahankan saja kinerjamu.
- Baiklah. Terima kasih, Jun Ki. - Tentu.
Apa itu tadi?
Jung Eun sudah lama melakukannya, katanya dia sedang banyak pikiran.
Apa maksudmu?
Aku tidak percaya.
Apa artinya aku jatuh cinta kepada Jun Ki?
Tidak.
Tidak mungkin.
Itu tidak mungkin.
"Semua Tentang Teman Priaku"
Itu tidak masuk akal.
Kenapa?
Kalau dilihat-lihat, dia lumayan juga.
Apa yang sedang dia kerjakan?
Panggilan telepon? Siapa itu?
Ini Kook Ki Bong?
Ini Bank Selamat Pagi.
Kartu kredit Anda telah diretas.
Tidak perlu panik.
Untuk memperbaikinya,
Anda harus segera mentransfer 50 dolar
ke teman Anda, Lee Jun Ki.
Dia melakukan telepon iseng?
Baiklah. Selamat tinggal.
Bahkan dengan naskah?
Bodoh sekali!
Seharusnya aku sudah tahu.
Halo?
Ini Kim Jung Eun?
Ini Bank Selamat Pagi.
Kartu kredit Anda telah...
Halo? Halo...
Aku pasti sudah gila.
Kamu mau ke mana?
Aku baru saja mendapat telepon dari Bank Selamat Pagi.
Kartu kreditku diretas,
aku harus mentransfer 50 dolar ke Jun Ki.
Jadi, aku mau ke bank.
Ki Bong, lupakan saja.
Apa? Kenapa?
Lupakan saja!
Aku juga ditelepon dan katanya bisa dicegah.
- Benarkah? - Ya.
Syukurlah!
Tadi aku sangat khawatir!
Kamu naif atau bodoh?
Hei.
Siapa yang kamu sebut bodoh?
Aku tidak bodoh!
Memangnya dia pikir aku ini siapa?
Tidurku nyenyak.
Kamu tidur sampai pukul sebegini?
Ya. Aku terjaga semalaman
mencari hal-hal yang bisa kudapatkan dari pemerintah
setelah membuka Dapur Yu Ri.
Benar. Aku perlu menulis resume.
Boleh kupinjam laptopmu?
Resume apa?
Apa yang kamu bicarakan?
Aku akan dapat pekerjaan.
Temanku akan mencarikan aku pekerjaan sebagai dealer mobil.
Jadi, dia menyuruhku mengirim resume dan surat pengantar.
Dealer mobil?
Ya.
Sejujurnya, aku selalu suka mobil.
Jadi, aku ingin mencoba bekerja sebagai dealer mobil.
Begitu, ya?
Bagaimana dengan menulis puisi? Kamu bilang ingin menjadi penyair.
Masalahnya,
rasa sakit kreativitas terlalu keras untukku.
Rasa sakit kreativitas?
Ya.
Kamu tidak akan tahu
betapa menyakitkannya itu.
"Menggeram, menggeram, menggeram"
Dia pasti sudah gila.
Astaga. Bukankah dia terlalu tua untuk melakukan panggilan iseng?
Kenapa aku harus jatuh cinta kepada orang seperti dia?
Ada apa dengannya?
Kenapa dia bersih-bersih padahal tidak disuruh?
Benar. Dia mungkin pemalas, tapi dia cukup bertanggung jawab.
Apa? Dia mencuri uang?
Berhasil!
Dia menyesali perbuatannya?
Dia merasa bersalah?
Apa? Kenapa dia menyekanya dengan tisu?
Mungkinkah dia...
Aku hampir meninggalkan sidik jari.
Sekarang semua aman!
Sudah kuduga. Aku bodoh karena berharap dia akan merasa bersalah.
Jadi, kamu belum pernah bekerja sebagai reporter sebelumnya?
Ya. Ini kali pertamaku.
Lalu kamu bekerja di mana?
Aku menjadi model dan pelayan di sebuah kafe paruh waktu.
- Bekerja penuh waktu? - Belum pernah.
Aku tahu pengalamanku sedikit, tapi aku bisa menjadi reporter hebat.
Jika sudah berniat, aku selalu berusaha maksimal.
Maaf.
- Tapi kami tidak bisa menerimamu. - Apa?
Kenapa?
Karena aku tidak berpengalaman seperti yang lain?
- Kamu pikir itu alasannya? - Lalu apa?
Tolong beri tahu aku.
Pengucapan yang benar, "Tolong beri tahu aku."
- Maaf? - Kamu melakukannya lagi.
"Maaf?" Itu harus diucapkan seperti itu.
- Apa? - Kamu masih belum mengerti?
Reporter harus menyampaikan informasi yang akurat
untuk pemirsa secara tepat dan untuk melakukan itu,
kamu harus punya diksi yang baik.
Perlu kuberi tahu alasan lainnya?
Tolong pergi.
Apa? Kamu tidak diterima?
- Kenapa? - Harus punya diksi yang baik.
Katanya dia tidak bisa bekerja denganku
karena aku bahkan tidak punya kualifikasi dasar itu.
Benarkah?
Jangan terlalu kecewa. Kamu bisa menemukan pekerjaan lain.
Apa maksudmu? Aku belum menyerah.
Apa? Lalu apa rencanamu?
Aku akan berlatih keras dan kembali untuk wawancara lagi.
Akan kutunjukkan bahwa aku bisa jika sudah berniat.
Kamu terdengar sangat bertekad.
Aku tidak akan bisa apa-apa jika menyerah lagi.
Aku harus mendapatkan pekerjaan ini dan menjadi sukses
agar bisa merebut kembali rumah kami
dan melunasi utang ayahku.
Baiklah. Semangat.
Terima kasih.
Omong-omong, Woo Shik,
satu hotteok lagi akan benar-benar menghiburku.
Aku pulang!
Berisik!
Kamu mengejutkanku.
Omong-omong, untuk apa megafon itu?
Ini? Aku membelinya karena butuh untuk sesuatu.
Dia membeli megafon dengan uang yang dia curi?
Apa yang akan kamu lakukan kali ini?
Uang hilang dari mesin kasir.
Itu ulahmu, bukan?
Tidak, aku bahkan tidak mendekati kasir.
Dasar pembohong.
Kami pulang!
Kenapa kalian pulang terlambat?
Astaga!
Apa yang kamu lakukan?
Biarkan saja dia. Entah apa yang dia pikirkan.
Jun Ki, kamu punya kenalan reporter?
Aku perlu meningkatkan diksiku, tapi aku tidak tahu caranya.
Untuk apa kamu meningkatkan diksimu?
Untuk pekerjaan reporter yang aku lamar.
Aku kenal seorang reporter.
Dia reporter dan instruktur wicara.
Serius? Kalau begitu, kenalkan aku kepadanya.
Kursus Wicara "Hei Kamu Juga"
Halo.
Kamu siapa?
Jun Ki mengirimku ke sini.
Kamu Han Soo Yeon, ya?
- Kamu ingin meningkatkan diksi? - Ya.
Diksiku kurang bagus.
Tidak perlu khawatir tentang itu.
Aku ahli dalam bidang ini.
Kalau begitu, mari kita mulai?
Tentu.
Kamu bisa mengulangi setelahku.
Kencangkan perutmu
dan rilekskan bahumu.
No comments yet. Be the first to leave one.