194 บรรทัดแรก
Akan kulakukan, asalkan mampu hapuskan tangisan di dunia ini.
ZainuddinAri
mempersembahkan
apa yang disembunyikan tangan kiriku
hidari te ni kakushita
berisikan penuh dengan harapan
negai ha negai no mama de
dalam mimpi yang tiada henti
samenai yume miteta
tangan kananku berisi kenangan hampa
migi te ni ha kara no kioku
tentang setiap orang asing di penjuru dunia
daremo shiranai sekai no hate
di kala ku terjebak dalam hujan abadi
yamanai ame ni utareteita
ku butuh kekuatan 'tuk melindunginya
mamoritai mono wo mamoreru tsuyosa
walau kelemahan pudarkan keyakinanku
sore wo shinjirarenakunaru yowasa
semua tetap kubawa dalam pencarian hari esok
subete wo ukeirete ashita wo sagasu
lebih berani saat ulurkan tangan
Brave Shine, te wo nobaseba mada
lewati malam walau penuh luka
Stay the Night, kizu darake no yoru
karena selamatkanku bagai barisan pedang
You Save My Life, kazashite yaiba no saki ni
kenangan pun semakin bertumpuk
omoi wo kasaneta
hingga doaku pun sanggup leburkan waktu
inori ha toki wo koete
Your Brave Shine
Akhir Jawaban Idealisme
Cukup lama juga bagimu untuk sampai di sini ya, Shirou Emiya?
Ya, akhirnya aku sadar bahwa mustahil liontin itu ada dua buah.
Karena awalnya-
Kau benar.
Liontin itu adalah katalis untuk selamatkan nyawamu.
Dan juga, merupakan satu-satunya peninggalan mendiang ayah Rin.
Untuk panggil Roh Pahlawan, dibutuhkan katalis peninggalannya.
Sedangkan Rin Tohsaka, melakukannya tanpa gunakan katalis tersebut.
Yang artinya, tak ada sosok jelmaan Servant yang cocok dengan syarat pemanggilannya.
Tapi, tak ada Roh Pahlawan yang jawab panggilan secara kebetulan.
Karena untuk memanggilnya, diperlukan pusaka peninggalan pahlawan tersebut.
Berarti, kalau Rin melakukannya tanpa penuhi syarat itu, maka...
Benar.
Yang dilakukannya bukanlah pemanggilan,
melainkan penciptaan Roh Pahlawan berdasarkan katalis yang dimilikinya.
Rekaman jejak Roh Pahlawan tak terbatas oleh ruang dan waktu.
Baik yang berasal dari masa depan, maupun masa lalu, punya tingkatan yang sama.
Itu berarti...
Benar.
Ada kemungkinan kalau sosok terpanggil tersebut, berasal dari masa depan.
Archer,
di mana Tohsaka?
Aku sudah memberikannya terlebih dulu pada Shinji Matou.
Apa?
Jangan panik dulu, Bocah.
Serahkan perlindungan nona muda itu padaku.
Lancer?
Ini perintah dari Master-ku.
Lagi pula awalnya, aku bersedia bekerja sama untuk cegah agar si nona muda itu tak mati konyol.
Ya, bisa dibilang aku sendiri pun cukup kaget.
Tak kusangka kalau aku akan terima tugas yang sesuai dengan kemauanku.
Tenang saja, aku akan jalani tugasku sampai selesai.
Dan setelahnya, aku jadi bisa tenang kalau harus jadi musuh kalian.
Tolong lindungi Tohsaka.
Oke.
Aku akan tetap di sini, Lancer.
Serius?
Master-mu sekarang ini adalah si nona muda, 'kan?
Aku mengerti.
Tapi, aku harus saksikan pertarungan ini sampai selesai.
Oh, terserah kau saja, deh.
Saksikan?
Oh, beruntungnya aku.
Karena kalau kau sampai ikut campur dalam pertarungan ini,
percuma saja kuputuskan kontrak dengan Rin.
Tentu saja. Meski apa pun yang terjadi, aku takkan ganggu pertarungan kalian.
Tapi sebagai gantinya, jawablah pertanyaanku.
Kenapa kau harus bunuh Shirou?
Tak ada alasan khusus, kok.
Dia tak bisa terima jalan yang kupilih, dan sebaliknya, aku pun sama.
Justru itulah yang janggal!
Sosok Roh Pahlawan yang terbentuk dari idealisme saat Shirou masih jadi manusia, adalah dirimu!
Lalu, kenapa kau tak mau akui idealismemu sendiri?
Berbeda darimu, aku bukanlah Roh Pahlawan yang terbentuk dari cahaya semata.
Aku menjelma jadi sosok Roh Pahlawan, karena tugasku sebagai Sang Pelindung belumlah cukup.
Sang Pelindung?
Pergilah.
Apa-apaan tatapanmu itu?
Kau masih saja tak bisa baca situasi ya, Tohsaka.
Memangnya kau tak sadar posisimu sekarang?
Mendingan kau berkaca saja sana.
Justru menurutku, kaulah yang tak mengerti situasi.
Jangan pura-pura tegar terus, dong. Menjijikkan sekali, tahu.
Capek, deh.
Sepertinya apa yang kukatakan percuma saja.
Nah, benar, seperti itu, dong.
Akhirnya kau sudah mengerti kalau kau sekarang adalah milikku, ya?
Kaki yang jenjang begini adalah kesukaanku.
Pasti akan sangat menyenangkan kalau kusiksa secara perlahan.
Aduh!
Maaf ya, Bocah.
Sepertinya tanganku lebih aktif daripada mulutku.
Lancer?
Yo.
Ke-Kenapa kau ada di sini?
Sudahlah,
biar kupotong dulu ikatanmu.
Setelah itu, kau bebas mau apa.
Mau pergi ke kastel untuk hentikan pertarungan dua orang idiot,
atau pulang ke rumahmu sendiri, terserah saja.
Lancer, di belakangmu!
Apa?
Sudah cukup sampai di situ, Lancer.
Bukankah sudah kuperintahkan untuk bekerja sama?
Aku tak menyuruhmu untuk baca emosi terlalu dalam, lo.
Kirei?
Sang Pelindung?
Yang kutahu, Sang Pelindung menjelma setelah kematian
jadi Kekuatan Kontra pelindung manusia.
Meski latar belakangmu berbeda,
tapi kau tetaplah sosok Roh Pahlawan.
Justru di situlah letak kesalahpahamanmu, Saber.
Tugas Sang Pelindung bukanlah lindungi umat manusia,
tapi tak lebih dari sekadar pembersih.
Archer?
Kau benar.
Aku memang sudah jadi pahlawan.
Seperti halnya impian yang selama ini diperjuangkan Shirou Emiya,
aku pun menjelma jadi sosok sang pahlawan.
Sosok sang pahlawan.
Dan justru karena itulah aku mengerti, bahwa kenyataan tersebut adalah kekeliruan.
Hidup pria itu sama sekali tak punya nilai.
Tak punya nilai?
Ya.
Tentunya kau pasti mengerti, Saber.
Karena kaulah orang yang paling bersikeras untuk ulang lagi pilihan di masa lalu.
Saber?
Apa?
Jadi, kau tak diberi tahu apa permohonan Saber?
Dan juga, alasan kenapa dia inginkan Cawan Suci
meski harus bermandikan darah kesia-siaan?
Kalau begitu, biar kuberi tahu, dia adalah-
Archer!
Shirou.
Aku harus gunakan Cawan Suci, perangkat mahakuasa pengabul segala permohonan,
untuk ulang kembali jalan yang pernah kupilih.
Demi perbaiki kesalahanku.
Demi hapus takdir penghancur Britania.
Maka, aku belum boleh mati.
Karena itulah, aku inginkan Cawan Suci.
Aku tak bisa gapai idealismeku.
Seharusnya, aku tak pilih jalan jadi seorang raja.
Tapi, kau berbeda.
Bukankah sosokmu terbentuk dari pencapaian idealisme Shirou Emiya?
Pencapaian idealisme, ya?
Memang benar, aku sudah berhasil menjelma jadi sosok pahlawan sesuai idealismeku.
Tapi, yang kudapat di akhir, hanyalah penyesalan.
Semasa hidup, aku jalin kontrak dengan Kekuatan Kontra.
Setelah kematian, aku jadi Sang Pelindung,
lalu menjelma jadi Kekuatan Kontra pelindung manusia
untuk lawan mereka yang rusak keseimbangan dunia.
Dengan turuti segala perintah,
aku pun membunuh,
dan membunuh,
dan terus membunuh.
Saking banyaknya yang kubunuh, aku pun tak pedulikan harga nyawa lagi.
Setiap nyawa yang kuambil, aku pun selamatkan ribuan nyawa lainnya.
Aku pun terus bertarung penuhi setiap panggilan yang ada.
Terus,
dan terus
berulang kali.
Tapi, semua itu kulakukan tanpa batas,
dan tiada akhir.
Impianku bukanlah inginkan dunia ini tanpa kekerasan.
Aku hanya ingin tak ada air mata di dalam dunia yang kukenal selama ini.
Dan di situlah aku sadar.
Idealisme yang dijunjung oleh Shirou Emiya, tak lebih dari sekadar pemikiran dangkal.
Apa alasannya?
Mustahil kita bisa selamatkan semua orang.
Dengan selamatkan banyak nyawa, pasti ada segelintir dari mereka yang dikorbankan.
Tentunya kau tahu betul akan hal itu, 'kan, Saber?
Kalau ada seseorang yang akan terjatuh dari takhta kebahagiaan,
maka harus kulenyapkan sebelum hal itu terjadi.
Dan itulah tindakan paling tepat bagi Roh Pahlawan, untuk cegah terwujudnya idealisme fana dari pria itu.
Bukankah kewajiban dari para pahlawan adalah selamatkan nyawa sebanyak-banyaknya?
Lalu, kalau ada seseorang yang inginkan nihilnya kematian,
maka orang itu harus mati, demi selamatkan semuanya.
Padahal keinginanku adalah agar tak ada lagi air mata bercucuran,
tapi sebaliknya, aku malah jatuhkan banyak dari mereka ke dalam kobaran keputusasaan.
Dan itulah sosok asliku,
Roh Pahlawan EMIYA.
No comments yet. Be the first to leave one.