101 บรรทัดแรก
DARI KISAH ASLI SEVEN SAMURAI KARYA AKIRA KUROSAWA
Shichiroji!
Sekarang kita serang kapal utama musuh.
Jika kita bisa menahan mereka sebentar, sekutu kita bisa menyelamatkan diri.
- Kita sudah pasti kalah? - Ya.
Buka katup utama sistem tekanan.
Kita meluncur dengan dorongan penuh. Kita akan menyerang mereka!
SANG GURU
Kami mencari, kami mencarimu.
Air yang terberkati, datanglah.
Kami mencari, kami mencarimu.
Pendeta Air berbagilah dengan kami, dengarlah permohonan kami.
Kami mencari, kami mencarimu.
Semoga suaramu sampai kepada kami.
Kami mencari, kami mencarimu.
Air yang terberkati, datanglah.
Kami mencari, kami mencarimu.
Pendeta Air berbagilah dengan kami, dengarlah permohonan kami.
Kami mencari, kami mencarimu.
Semoga suaramu sampai kepada kami.
Kami mencari, kami mencarimu.
Air yang terberkati, datanglah.
Ada berapa suara Pendeta Air?
Ada tujuh.
Di mana kristal itu menunjukkan, gali lubang tujuh meter.
Airnya menunggu.
Hanya begitu saja untuk menggali sumur?
Syukurlah.
Aku tak tahu harus bagaimana jika sumurnya mengering.
Terpujilah Pendeta Air.
Kami berterima kasih padamu, Nona Pendeta Air.
Kami berterima kasih padamu.
Ada apa, Komachi?
Aku lapar.
Kenapa? Mereka tahu ini belum waktunya panen.
Mereka bukan hanya merampas beras.
Kudengar mereka datang lalu merampas para wanita, makanan,
serta lainnya dari desa Minokichi!
Cepat! Bawa Pendeta Air ke kuilnya. Cepat!
Tuan Bandit!
Musim panen akan segera tiba.
Kurasa yang datang hari ini memeriksa lengkungan batang padinya.
Apa memang sudah waktunya?
Mereka akan datang dan merampas semuanya lagi!
Kita tak menanam padi selama ini hanya untuk diberikan pada mereka.
Tak adakah yang bisa kita lakukan?
Saat aku berbaring yang kudengar suara mesin mereka, aku tak bisa tidur.
Sungguh, kita harus bagaimana?
Tak ada pilihan selain membunuh mereka.
Apa kau tak salah ucap?
Itu satu-satunya cara mencegah mereka datang kembali!
Jangan bodoh!
Bagaimana kita akan melawan mereka?
Mereka telah mengubah tubuh mereka menjadi senjata agar bisa bertarung.
Pakailah otakmu!
Jadi, kita hanya akan menanam padi saja tanpa keberatan apa pun?
Petani hanya bisa tersenyum dan menerima keadaan.
Saat mereka datang, kita harus ramah dan jangan protes.
Beberapa desa yang menentang dihabisi.
Jadi, lebih baik kita menerima mereka daripada kita dibunuh.
Bodoh! Bagaimana kau bisa bilang begitu?
- Kenapa kita mau melakukan itu? - Hentikan, Rikichi!
Kami mengerti. Tenanglah!
- Lepaskan! Mereka... - Kita harus membunuh mereka.
Kita harus membunuh para bandit itu.
Tetua, jangan gila! Kita tak tahu bagaimana melawan mereka!
Kita akan merekrut para samurai.
Tetua, aku tak pernah mendengar petani menyewa samurai.
Aku pernah melihatnya.
Setelah perang berakhir, para bandit menjadi tak terkendali.
Saat itu, desa yang merekrut samurai adalah desa yang tak dibakar.
Satu-satunya yang bisa menghadapi para bandit adalah samurai.
Itu dia, Tetua! Samurai!
Mungkin, tapi samurai begitu tinggi hati.
Di mana ada yang begitu putus asa sampai mau membantu petani?
Mereka bisa makan sepuasnya di mana saja.
Carilah samurai yang kelaparan.
Kita harus pergi ke kota jika ingin mencari samurai.
- Itu tempat yang menyeramkan. - Kau benar.
Aku akan mencarinya.
- Baik, pergilah. - Tetua.
Bolehkah aku menemaninya?
Kirara, tunggu.
Nenek, aku tahu samurai mana yang bisa menolong kita.
Nona Pendeta Air, samurai sangat berbeda dengan air.
Lagi pula, kota itu bukan tempat untuk gadis sepertimu.
Rikichi akan bersamaku. Aku tak khawatir.
Jika itu maumu, maka...
Sudah diputuskan.
Nona Pendeta Air, kami mengandalkanmu.
Baik.
Sebelum batang padinya mulai menunduk, bawalah samurai kemari.
Paham?
Aku akan melindungi kalian berdua.
Terima kasih, Rikichi.
Dengan kristal kakak, kita akan baik saja.
Komachi, kau tak harus ikut.
Aku ingin melihat dunia luar.
Aku tak mau hanya kau yang bersenang-senang, Kakak.
Jadi, itulah alasanmu ikut.
Aku lapar.
No comments yet. Be the first to leave one.