165 บรรทัดแรก
Kapten Gugus Tiga Shinsengumi, Hajime Saito
siap melawan
Battousai si Pembantai.
Kenshin!
Kenshin!
Latih tandingnya sudah selesai.
Ayo, buruan bangun.
Kenapa malah bengong?
Kami ini bicara denganmu!
Memang ada Kenshin lainnya?
Ayo, buruan pulang ke rumah!
Episode 22 Serigala yang Hidup Kembali
Shinsengumi?
Kupikir kok tumben sekali tidur nyenyak,
ternyata memimpikan masa lalu?
Sudah lama aku tak memimpikan peristiwa di Zaman Bakumatsu.
Shinsengumi yang kau maksud itu musuh bebuyutan pejuang revolusi, 'kan?
Benar.
Kalau menghitung pertikaian pedang yang ada,
mereka musuh yang paling sering dilawan.
Awalnya, Shinsengumi adalah pendekar yang berasal dari wilayah Tama,
sebagai kelompok pembela kesyogunan di Kyoto.
Waktu itu, pejuang revolusi berjuang secara mandiri.
Hasilnya, Kyoto berubah menjadi lautan darah,
tempat para iblis beradu pedang.
Mereka mengayunkan pedang demi melindungi kedamaian di Kyoto.
Di bawah naungan bendera merah dengan jargon "ketulusan",
berseragam jaket haori biru pucat,
juga teknik berpedang yang sempurna dan semangat juang tak kenal gentar,
mereka menjadi sekelompok Serigala Mibu yang ditakuti sepenjuru Kyoto.
Meski eksistensi mereka menghilang setelah dikalahkan senjata modern,
tetapi sudah pasti merekalah kelompok terbesar, terkuat,
dan juga menjadi kelompok pendekar terakhir dalam sejarah Jepang.
Tetapi bukannya Shinsengumi itu
terkenal dengan main keroyokan, meski lawannya cuma satu?
Kesannya seperti pengecut.
Itu karena prioritas mereka adalah menjaga ketenteraman Kyoto.
Kalau selalu bertarung dengan adil,
sudah pasti akan lebih berisiko.
Selain itu, meski dianggap kuat, kemampuan tiap anggotanya berbeda.
Kecuali para petugas resmi,
terutama yang terjun ke lapangan,
contohnya kapten Gugus Satu, Dua, dan Tiga,
kemampuannya sangat luar biasa.
Pernah beberapa kali ditantang satu lawan satu,
tetapi aku tak pernah mendapatkan hasil yang mutlak.
Karena kebanyakan dari mereka kudengar sudah tewas,
rasanya sangat disayangkan.
Kenapa kau bicara seolah- olah mereka teman dekat?
Musuhmu, 'kan?
Memang, sih.
Meski kami memang bermusuhan,
tetapi tak punya dendam.
Meski di pihak yang berseberangan,
tetapi kami sesama pejuang yang mengabdikan diri bersama pedangnya.
Mungkin saja,
ketimbang dengan pejuang revolusi yang sekarang menjabat,
aku merasa lebih dekat dengan mereka.
Memang terkesan aneh, ya?
Tidak.
Bukannya aneh atau apa.
Hanya saja,
jarang-jarang melihatmu bercerita panjang lebar tentang masa lalu.
Yuk, kita pulang.
Sungguh terasa lama sekali sejak terakhir memimpikan peristiwa itu.
Kenapa kau bengong lagi, Kenshin?
Ayo, buruan pulang!
Bahkan belakangan ini tak pernah lagi.
Kenapa sekarang muncul?
Dasar, padahal kubela-belakan mampir buat menumpang makan.
Ke mana mereka pergi?
Permisi!
Siapa kau?
Oh, perkenalkan.
Aku penjaja obat dari Tama yang menjual racikan bernama Ramuan Bubuk Ishida.
Panggil saja Goro Fujita.
Mau lihat?
Ramuan Bubuk Ishida ini sangat bagus untuk mengobati luka gores dan patah tulang...
Tunggu sebentar!
Yang punya rumah sedang pergi semua!
Oh, rupanya begitu, ya?
Sayang sekali.
Hei, kau.
Ya?
Sebenarnya tak penting, tetapi bentuk matamu tajam, ya.
Ini bawaan sejak lahir.
Oh, begitu?
Terus,
bentuk kulit kapalan ini sepertinya bukan ciri khas penjaja obat, deh.
Tak mungkin bawaan dari lahir juga, 'kan?
Siapa kau sebenarnya?
Kau pria yang cukup jeli, ya.
Sanosuke Sagara.
Begitu, ya.
Battousai sedang pergi, ya?
Orang ini tahu asal- usulnya Kenshin!
Kalau begitu,
mungkin kutinggalkan pesan saja.
Menyiapkan benda begituan, ya?
Kau memang berniat bertarung sejak awal?
Bolehlah!
Kuladeni kau!
Biar kukuak identitasmu dengan tinjuku!
Begitu, ya.
Sebagai orang yang disebut petarung jalanan terbaik,
kau memang punya tinju yang bagus.
Orang ini...
Tetapi itu hanya sebatas di Zaman Meiji yang damai.
Tinju seperti itu di Kyoto selama Zaman Bakumatsu,
tak berharga.
Kenapa kau berjalan pelan sekali, Kenshin?
Kalau lama-lama, keburu malam, lo.
Kelihatannya murung terus.
Perutnya sakit atau bagaimana?
Oh, berarti giliranku maju, dong?
Megumi! Kok ada di sini?
Kenapa sekaget itu, sih?
Ini jalanan umum, tahu.
Salah kalau aku berjalan di sini?
Bercanda, kok.
Sebenarnya, mumpung sedang libur kerja sampai besok,
aku ingin main ke rumah kalian.
Tak boleh! Cewek Rubah dilarang menginap!
Lo, kira-kira siapa yang selalu mengobati kalian waktu terluka, ya?
Secara gratis, lagi.
Kau tak keberatan, 'kan, Yahiko?
Biar aku yang masak makan malam.
Biarkan saja, Kaoru.
Jangan terlalu kikir.
Dasar pengkhianat!
Mas Ken, aku boleh mampir main ke rumah, 'kan?
Sepertinya, kau memang sedang murung.
Mau kuperiksakan kondisimu?
Tidak, tak usah.
Aku tak kenapa-napa.
Jangan terlalu dipikirkan, deh.
Hanya akan membuat orang di sekitarku khawatir.
Hanya karena memimpikan tentang masa lalu,
bukan berarti harus dikhawatirkan.
Tak mungkin juga mendapat...
Kenapa itu?
Apa yang terjadi?
Aroma darah!
Sano!
Kenshin si Pengembara
Kisah Heroik Pendekar Pedang Meiji—
Ayo, kita minum seteguk dahulu, Fujita.
Oh, atau harus kupanggil "Saito" di saat begini?
Terserah Anda saja.
Lalu, izinkan aku menolak araknya.
Oh, tak kusangka kau tak suka minum.
Tidak, masalahnya bukan seperti itu.
Waktu sedang mabuk,
aku menjadi sangat berhasrat untuk membunuh.
Kau terlihat sangat meyakinkan, ya.
Sekarang, langsung saja ke intinya.
Battousai Himura saat ini...
Tinggal di tempat bernama Dojo Kamiya, 'kan?
Aku mampir siang tadi.
Oh!
Meskipun Battousai-nya sedang pergi.
Tak salah sebagai mantan Kapten Gugus Tiga Shinsengumi.
Jujur saja, aku terkejut waktu dengar ajuanmu untuk bergabung dengan kami.
Tetapi mungkin seharusnya menjadi tenang, karena ada yang bisa diandalkan.
Aku sendiri juga cukup terkejut.
No comments yet. Be the first to leave one.