200 บรรทัดแรก
LOVE NEXT DOOR
Untuk liburan musim panas tahun ini,
mari kita pergi ke Alaska.
Aku ingin ke sana.
Entahlah.
Kalau begitu,
haiking di Taman Nasional Yosemite?
Tidak juga.
Sungguh? Kalau begitu...
New York?
Kita bisa menonton pertunjukan atau ke museum.
- Bukankah menyenangkan? - Tidak juga.
Sudahlah. Tak usah pergi. Kita tak akan ke mana-mana.
Maksudku, kita berdua selalu sibuk.
Jadi, setidaknya aku ingin berlibur musim panas yang layak denganmu.
Cuma aku yang bersemangat, percuma berharap.
- Buka. - Apa itu?
Kau akan tahu setelah dibuka.
KEDATANGAN INCHEON
Kau sudah lama tidak ke Korea.
Kau tak merindukan ibumu?
Apa kau akan menangis?
Ada dua tiket. Aku juga ikut.
Hyeon-jun.
Kurasa ada yang tertinggal di dalam amplop.
Aku tak menyangka akan menanyakan ini dengan memakai piama.
Seok-ryu yang tak sabar dan emosional...
Maukah kau...
Maukah kau menikahiku?
Ya.
Aku ingin lakukan di tempat indah dan hari istimewa.
Momen ini sempurna.
Bagaimana bisa lebih baik dari ini?
Sayangnya, ini kanker lambung.
Tampaknya masih stadium awal,
tapi tepatnya hanya bisa ditentukan setelah operasi.
Kita perlu jadwalkan operasi sesegera mungkin,
lalu mendiskusikan opsi perawatan pascaoperasi.
Namun, kita perlu melakukan beberapa tes dan biopsi dahulu.
Kau perlu membuat janji dengan klinik...
Tidurku kurang.
Makanku tidak teratur.
Aku terlalu stres.
Aku coba mencari tahu penyebab kankerku
saat kulihat keluar jendela.
Langitnya sangat cerah.
Usiaku 30 tahun saat itu.
EPISODE 9 KEGELAPAN DALAM HIDUP
Hei, Mo-eum. Ini aku.
Beri tahu aku lokasi RS di sini dengan UGD.
CHOISSEUNG
Kau pusing atau mual?
Tidak, aku baik-baik saja.
RS UNIVERSITAS JEONGHEON
Ini RS Universitas Jeongheon?
Kau tak tahu?
Semuanya tadi begitu panik.
Apa kebetulan ada Profesor Choi Gyeong-jong saat ini?
Dia libur hari ini.
Kau kenal profesor?
Tidak.
Aku melihatnya di TV. Dia terkenal.
Aku tak apa-apa, jadi aku akan pulang.
Tunggu. Kau harus dengar hasil tesmu.
Baiklah.
Seok-ryu.
Hyeon-jun.
Kenapa masih di sini?
Mana mungkin kau kutinggal?
Kau sudah diperiksa? Apa kata dokter?
Apa kambuh...
Seok-ryu!
Choisseung.
Kau tak apa? Perutmu masih sakit?
Tidak.
Kenapa perutmu sakit? Ada apa?
Kau tahu...
Kenapa kau tahu aku di sini? Siapa yang beri tahu?
Tidak ada yang beri tahu.
Apa katanya?
Katanya aku baik-baik saja. Kenapa kau berteriak?
Aku bisa dengar.
Permisi? Aku juga berdiri di sini. Kau bisa menyapaku.
Kau ada di sini?
Aku tak peduli denganmu.
Ayo. Kuantar kau pulang.
Ikut aku.
Aku tak peduli dengan siapa. Kita pulang sekarang.
Kau sungguh tahu cara ikut campur.
Namun, jangan keterlaluan.
Ini antara aku dan dia.
Apa?
Hyeon-jun, aku pulang dengan Choisseung.
- Apa? - Rumah kami searah.
Terima kasih.
Hubungi aku saat tiba.
Akan kutunggu.
Jangan menunggu.
Akan kutidurkan lebih awal.
Bagiku Seok-ryu bukan anak kecil.
Dia wanita.
Ayo.
Kanker lambung?
Apa yang harus kulakukan?
Aku sangat takut.
Tidak, kau tak perlu merasa takut.
Akan kubantu.
Kulakukan segalanya agar kau sembuh.
Teknologi medis berkembang pesat.
Kau akan sembuh dengan deteksi dini.
Temanku bekerja di rumah sakit itu.
Kuhubungi sekarang.
Semoga operasimu bisa dipercepat.
Baiklah. Mulai besok,
kau akan cuti sakit.
- Aku juga akan mengajukan cuti. - Kau juga?
Kau sedang menangani kasus penting. Jangan lakukan itu.
Kau yang lebih penting.
Jangan khawatir.
Aku akan ada di sisimu.
Hei, tunggu sebentar.
Kau ingin aku keluar?
Ya.
Apa yang terjadi? Kenapa kau melakukan ini?
Aku bersikap sopan.
Jika seorang pria melakukan hal ini kepadamu, terima saja.
Jangan lakukan. Itu aneh.
Aku selalu kau perlakukan bak pelayan.
Perlakuan bagai putri ini terasa janggal.
Hyeon-jun memperlakukanmu begini.
Lupakan. Masuklah.
Bukankah seharusnya
kau memberi tahu orang tuamu?
Cinta itu
Hei, Anak Manja!
Kenapa sulit menghubungimu? Ibu kira terjadi sesuatu.
Tidak ada apa-apa. Ibu sedang apa?
Waktumu tepat.
Ibu sedang buat kimci untukmu.
Sudahlah. Jangan dikirim.
Aku bisa membelinya di sini.
Itu buatan negara lain, rasanya tak akan sama.
Ibu dapat sawi putih dari Gangwon-do. Nikmat sekali.
Tidak, jangan dikirim.
Sudah kubilang, tapi tetap Ibu kirim.
Bocor dari dalam kotaknya.
Ibu tahu betapa malunya aku?
Itu karena Ibu serakah. Ibu mengisinya terlalu penuh.
Kali ini Ibu hati-hati.
Tidak, aku tak mau.
Sudah kubilang tak perlu.
Kenapa Ibu tak mendengarkanku?
Dengarkan aku saat kuberi tahu!
Kalau begitu, makanlah sesukamu saat kau pulang.
Kapan kau datang?
Aku tak bisa pergi.
Aku tak bisa menelepon sementara ini.
Kenapa? Kau sangat sibuk?
Ya, aku memulai proyek baru.
Sangat penting.
Baik, Ibu paham.
Pekerjaanmu penting. Ibu tak boleh ganggu.
Meski tak ada waktu,
jangan lupa makan, banyak minum, dan tidur cukup.
Hubungi Ibu lebih sering.
Baiklah. Kurasa...
Kurasa ada telepon dari kantor. Dah.
Baiklah...
Anak itu.
Tidak apa-apa, Seok-ryu. Bukan masalah besar.
Aku akan sehat. Akan kuberi tahu saat sudah sembuh.
Bukan masalah besar. Tidak penting.
Hyeon-jun, pegangi aku.
Bersandar kepadaku.
Bagiku Seok-ryu bukan anak kecil.
Dia wanita.
Posisi memukul yang bagus. Waktumu juga tepat.
Hei.
"Hei"?
Kau asyik memukul bola sendirian setelah membuatku takut seperti tadi?
Bergabunglah jika kau mau. Butuh uang?
Aku punya uang, Bodoh.
Sudah lama.
Astaga, bagaimana jika kita agak santai?
Bukan main.
Bagaimanapun aku memikirkannya, itu luar biasa.
Kau tak tampak seperti orang yang pandai berolahraga.
Jika kau mau cari ribut, diamlah.
Aku tak berselera.
Tentu saja tidak.
Ada apa?
Seok-ryu lagi?
Jadi, dia ke rumah sakit dengan si berengsek itu dan bukan kau?
Astaga.
Kurasa aku terlalu keras kepadamu.
- Ini menghiburmu? - Sedikit.
Jadi?
Kau menanyakannya?
Kenapa dia memilihnya saat itu?
Tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.