200 บรรทัดแรก
jTBC E06 'When the Weather is Fine' -ENG VIU Ver by Ruo Xi-
Jin Ho.
Ibu, jangan pergi.
Tunggu.
Ibu...
Jangan pergi.
Ibu.
Eun Seop!
Lim Eun Seop!
Wah... sepertinya kehidupan Eun Seop penuh kebahagiaan.
Ayah, ibu, dan adikmu...
semuanya tersenyum lebar.
Bu Guru rasa kau punya keluarga yang bahagia.
Astaga, Eun Seop. Ada apa?
Eun Seop.
Eun Seop, hentikan. Lihat Ibu.
Ada apa, Eun Seop?
Kau kenapa, Eun Seop?
Lim Eun Seop!
Eun Seop.
Dari mana saja kau? Bagaimana demammu?
Kau masih belum baikan. Kau perlu...
Aku tidak kedinginan.
Kenapa wajahmu? Apa terjadi sesuatu?
Duduklah.
Lampunya menyala, kupikir kau ada di sini.
Lampunya kubiarkan menyala.
Agar orang yang tersesat saat malam bisa datang ke tempat ini.
Kau terluka?
Aku jatuh terguling di bukit.
Apa yang terjadi? Kau jago naik gunung.
Kau baik-baik saja, 'kan?
Kenapa kau kemari?
Karena kau menghilang terlalu lama.
Semua orang mengkhawatirkanmu.
Ini 'kan sudah larut.
Aku bawa senter.
Katanya aku harus berjalan selama 30 menit untuk sampai sini,
dan memang benar demikian.
Aku tak sekalipun terjatuh atau tersandung.
Sudah kubilang jangan ke sini 'kan.
Perjalanan kemari tak terlalu buruk kok.
Dan sepatu pemberianmu ini luar biasa...
Kuberi kau sepatu itu bukan agar kau bisa ke tempat ini.
Jangan pernah kemari lagi.
Meski...
aku sakit...
atau...
tidak kembali lagi.
Jangan pernah kemari lagi.
Minum dan keluarlah.
"Dahulu kala, ada kakak beradik yang melakukan perjalanan..."
"agar bisa bahagia."
"Mereka mendengar..."
"katanya ada burung biru di suatu tempat yang bisa memberi kebahagiaan."
"Setelah mendaki banyak gunung dan melitasi banyak sungai,"
"mereka akhirnya tiba di sebuah desa tempat burung biru seharusnya berada."
"Tapi si burung biru yang bisa memberi kebahagiaan..."
"tak bisa ditemukan di manapun."
Pulanglah.
"Pada akhirnya,
"kakak beradik itu pulang ke rumah tanpa bisa menemukan si burung biru."
Kau... / Tidak.
Apa?
Hei, sarapan dulu sebelum pergi.
Aku tidak nafsu. Nanti saja.
Kenapa kau datang kemari?
Kau datang.
Kalau nanti paketnya datang... / Aku tahu.
Sudah sampai, Bu.
Kau datang untuk berbelanja?
Halo, lama tidak ketemu.
Apa lapangan luncurnya ramai?
Tidak terlalu.
Oh iya. Aku mengukus beberapa ubi manis.
Datanglah dan ambil beberapa.
Aku juga niatnya mau mampir ke sana.
Sampai ketemu lagi.
Baiklah, dah.
Permisi?
Oh, kau rupanya.
Ada apa? Putramu masih sakit?
Apa-apaan? Sudah sehat rupanya.
Aku ingin obat untuk otak.
Kenapa kau butuh itu?
Buat Hwi.
Katamu dia tak membutuhkannya.
Kau bilang begitu, 'kan?
Katamu dia memang bodoh dari dulu...
dan obat otak tak bisa membuat dia seketika jadi murid teladan.
Padahal kau bisa membawa obatnya...
tanpa biaya sepeserpun,
tapi kau bersikeras hanya butuh obat untuk putramu...
Cepatlah! Berikan saja padaku.
Dasar wanita bodoh itu...
Ibu.
Kau memanggilku Ibu hanya saat butuh sesuatu..
Kau marah sekali?
Sudah Ibu bilang jangan ke sana.
Ibu tak suka kau ke sana bahkan saat tubuhmu sehat.
Dan sekarang saat kau sakit.
Kenapa malah pergi ke sana?
Kau berbelanja dengan putramu?
Ya, Bu. Selamat jalan.
Sudah berapa kali Ibu melarangmu?
Yang waktu itu, saat seseorang menghilang,
Ibu mengerti.
Benar, meski membuat Ibu terganggu,
Ibu tak bisa apa-apa.
Tapi kali ini, kau sedang tidak sehat.
Kau sedang sakit.
Harusnya di rumah saja.
Kenapa malah ke sana?
Ada apa sebenarnya di sana?
Dengan kondisi seperti itu...
Ibu, gunung itu tak seberapa.
Apa maksudmu tak seberapa?
Maafkan aku.
Aku minta maaf, Ibu.
Terserah, lupakan.
Aku melihat wanita itu.
Apa?
Pagi hari saat aku sedang duduk-duduk,
Aku lihat ilusi wanita itu.
Jadi kuikuti dia...
...dan berakhir di gunung.
Sudah Ibu bilang...
...itu berbahaya.
Aku takkan...
...ke sana lagi tanpa ijinmu.
Pondok... Bukan.
Aku takkan pergi ke manapun...
...tanpa seijinmu.
Kau serius?
Ya.
Baiklah.
Jangan pernah ke sana lagi.
Halo, Kak Hae Won.
Aku datang untuk makan bubur serbuk.
Saat kau bilang bubur serbuk,
Aku beneran mengira bubur yang terbuat dari serbuk.
Sebenarnya ini bubur gandum,
aku menamainya begitu karena bentuknya mirip serbuk.
Apa rasanya juga seperti serbuk?
Tidak sama sekali.
Rasanya lezat dan enak.
Senang mendengarnya.
Terima kasih.
Hei, aku harus pergi ke suatu tempat.
Ke mana?
Ada yang perlu kulakukan di Seoul.
Mau pergi sekarang?
Ya, besok baru kembali.
Aku akan titipkan Gunbam ke Su Jeong.
Baiklah.
Pastikan cek pemanasnya. Jangan sampai terjadi insiden lagi.
Ya.
Sapu halaman belakang.
Dan jangan melewatkan makan.
Ayolah.
Seung Ho, makanlah.
Kau mau ke mana?
Halo.
Lucunya. Halo / Halo.
Kemari.
Seoul. / Mau apa ke sana?
Aku sudah jarang terima royalti sekarang.
Demi melanjutkan hidup,
aku harus menulis novel lagi.
Serius?
Begitulah kata perusahaan penerbit.
Apa-apaan.
Tapi kali ini, aku berencana mendengarkan mereka.
Aku menghabiskan dana hidup 5 tahun untuk perbaikan rumah.
Bagus.
Kurasa benar keinginanmu menulis muncul akibat kesulitan hidup.
Jangan menyimpulkan begitu.
Aku tak tahu nanti hasilnya bagaimana.
Aku bisa tetap hidup meski tanpa uang.
Aku pergi.
Baiklah, aku takkan menyimpulkan, Penulis Shim.
Hati-hati di jalan, Penulis Shim.
Jangan khawatir soal Gunbam, Penulis Shim!
Eun Seop.
Eun Seop.
Oh, ada Hae Won.
Di mana Eun Seop? / Dia tak di sini.
Apa itu?
Ini barang-barang yang diminta Eun Seop.
Dan ini...
Ini untukmu.
Apa ini?
Oh Yeong Woo memintaku memberikan padamu.
Oh Yeong Woo?
Ya, dia punya kafe di Seoul.
Kau disuruh mampir saat musim semi jika di Seoul.
Kenapa kau pucat sekali? Kau demam?
Entahlah, aku kedinginan.
Akhir-akhir ini sakit demam bisa berbahaya. Kau harus ke RS.
Setidaknya minumlah obat.
No comments yet. Be the first to leave one.