172 บรรทัดแรก
Ingatan dari sepuluh tahun yang lalu.
Kata-kata dari seorang pria yang dulunya adalah ayahku.
Meski aku buat kesalahan di awal, tapi jalan yang kupilih tidaklah salah.
Agar kejadian tragis di masa lalu tak terulang kembali,
aku pun bercita-cita untuk jadi seorang pahlawan.
Kupegang teguh cita-cita itu selama sepuluh tahun,
agar semua orang dapat hidup bahagia tanpa ada kesedihan.
Jadi, dari awal sudah jelas apa yang harus kulakukan.
Aku bukan bertarung untuk jadi seorang Master.
Aku putuskan untuk bertarung, karena ada hal yang wajib kulakukan.
Tohsaka.
ZainuddinAri
mempersembahkan
apa yang disembunyikan tangan kiriku
hidari te ni kakushita
berisikan penuh dengan harapan
negai ha negai no mama de
dalam mimpi yang tiada henti
samenai yume miteta
tangan kananku berisi kenangan hampa
migi te ni ha kara no kioku
tentang setiap orang asing di penjuru dunia
daremo shiranai sekai no hate
di kala ku terjebak dalam hujan abadi
yamanai ame ni utareteita
ku butuh kekuatan 'tuk melindunginya
mamoritai mono wo mamoreru tsuyosa
walau kelemahan pudarkan keyakinanku
sore wo shinjirarenakunaru yowasa
semua tetap kubawa dalam pencarian hari esok
subete wo ukeirete ashita wo sagasu
lebih berani saat ulurkan tangan
Brave Shine, te wo nobaseba mada
lewati malam walau penuh luka
Stay the Night, kizu darake no yoru
karena selamatkanku bagai barisan pedang
You Save My Life, kazashite yaiba no saki ni
kenangan pun semakin bertumpuk
omoi wo kasaneta
hingga doaku pun sanggup leburkan waktu
inori ha toki wo koete
Your Brave Shine
Pengambilan Langkah
Teguh sekali pendirianmu.
Sekuat apa pun kau meronta,
tapi tubuh Servant-mu tetap akan menurutiku.
Tentunya kau bisa rasakan Mantra Perintah-ku yang perlahan mulai menggerogotimu, 'kan?
Bukankah lebih mudah kalau kau menurut daripada terus sakiti diri sendiri?
Saber yang keras kepala.
Apa yang kaulakukan, Caster?
Tuan Souichirou.
Kenapa Anda ada di sini?
Bukankah aku sudah minta Anda untuk tetap berada di Kuil Ryuudou?
Jawab dulu pertanyaanku, Caster.
Apa yang sedang kaulakukan di sini?
Kemarin, aku berhasil ambil alih kendali Servant milik salah satu Master, Shirou Emiya.
Sayangnya, dia kabur sebelum berhasil kuhabisi.
Tapi sekarang, dia sudah bukan lagi seorang Master.
Begitu, ya.
Tapi, rasanya aku tak ingat memberimu perintah seperti itu.
Aku melakukannya atas keinginan sendiri, Master.
Aku menyerang gereja ini untuk dapatkan wadah Cawan Suci.
Pendeta yang jadi pengadil pun sudah kuhabisi,
tapi keberadaan Cawan Suci masih belum aku ketahui.
Kau tak kunjung kembali karena belum berhasil temukan Cawan Suci?
Aku mengerti situasinya.
Tapi, bisa kaujelaskan apa yang dasari tindakanmu?
Maafkan aku.
Meski begitu, ini semua kulakukan demi Anda.
Tujuanku hanyalah untuk bantu Anda raih kemenangan.
Jadi, tak ada alasan lain lagi yang dasari tindakanku.
Aku mengerti.
Kalau begitu, kau tak bisa tinggalkan tempat ini.
Carilah sampai kau merasa puas.
Selama itu pula, aku pun akan menemanimu di sini.
Oh, Anda tak perlu lakukan sampai sejauh itu, Master.
Mencari Cawan Suci bisa makan waktu yang lama.
Maka dari itu, akan lebih aman bagi Anda kalau tetap berada di Kuil Ryuudou.
Memang benar.
Tapi kalau kulakukan, maka tujuanku sendiri takkan pernah tercapai.
Tuan Souichirou, apa maksud Anda?
Cepatlah. Kalau memang tak ada, kita segera pergi.
Aku tak peduli cara apa pun yang kaupakai. Yang kubutuhkan hanya hasil akhirnya saja.
Kapan aku mulai sadari akan arti sebenarnya dari mimpi itu?
Tempat itu adalah dataran luas dari batiniah Sang Roh Pahlawan Suci.
Di antara para Roh Pahlawan, atau Servant,
ada Servant khusus dengan pertahanan luar biasa, yang disebut Sang Pelindung.
Mereka dipanggil ke berbagai zaman,
dan bertugas cegah kehancuran dunia manusia.
Tidak, tapi lebih tepatnya,
mereka bertugas cegah para manusia hancurkan sesamanya.
Meski dia dipanggil untuk selamatkan umat manusia,
tapi sebelum berhasil dia selamatkan,
terlebih dulu dia harus bereskan kekacauan buah tangan manusia.
Tak butuh pemanggilan berulang kali sampai dia putuskan bahwa semua itu sia-sia,
dan mulai membenci dunia manusia.
Pada akhirnya, dia terus dikhianati oleh idealismenya sendiri,
bahkan berlanjut setelah kematiannya.
Kalau kau sedang tak enak badan, lebih baik kita tunda saja.
Lagi pula, kita tak perlu lakukan serangan secara langsung.
Tidak, kalau keberadaan Caster sudah diketahui, maka kita harus langsung menyerangnya.
Ini.
Dasar mesum. Bukannya membangunkan, tapi malah menonton gadis yang sedang tidur.
Tenang saja.
Aku bersumpah tak lakukan kebejatan apa pun padamu.
Tapi, aku dengar hal lain.
Kau mengigau sambil katakan hal-hal buruk,
misalnya, "Bajingan!" dan "Benar-benar keparat!"
Oh, syukurlah.
Oh ya, Archer.
Apa kau pernah sesali perbuatanmu sebelumnya?
Kalau bisa, sampai akhir nanti, aku tak ingin menyesal.
Tapi, pastinya itu hal yang sulit.
Jauh lebih sulit dari apa yang bisa kubayangkan.
Ada hal yang bisa kaucegah, tapi ada juga yang tidak.
Menurutku, kau tipe yang pertama.
Tipe orang seperti itu akan berusaha untuk tak buat kesalahan,
dan tak pernah berpikir bahwa mereka akan lakukan kesalahan.
Rin,
mereka yang tergolong brilian, jauh lebih mencolok dari orang lain.
Mereka takkan pernah sesali, bahkan menderita karena perbuatannya.
Dan jelas, kau termasuk tipe orang seperti itu.
Rin Tohsaka akan selalu memercayai keputusannya, dan takkan pernah menyesal sampai akhir.
Lalu, kalau kau sendiri?
Apa kau bisa memercayai keputusanmu sampai akhir?
Maaf saja ya, tapi pertanyaan itu tak ada gunanya.
Lo? Kenapa?
Apa kau sudah lupa, Master?
Akhir milikku, sudah tiba sejak dahulu kala.
Nekat sekali dia, sampai-sampai menghabisi sang pengadil.
Ya, aku yakin Kirei sendiri pasti sudah mengantisipasinya.
Rin, aku akan bertanya sekali lagi.
Apa? Kau masih merasa gelisah?
Biar aku yang lawan Caster.
Kalau kau berhadapan terlalu dekat, bisa-bisa dia gunakan Rule Breaker-nya.
Jadi, tolong kau urus Master-nya, Si Kuzuki.
Aku tak keberatan kalau harus melawannya.
Tapi tentunya, kau tahu betul kalau tak ada seorang penyihir pun yang bisa tandingi Caster, 'kan?
Tenang saja. Kalau memang tak sanggup, rencana ini pasti sudah kususun ulang.
Jadi, serahkan saja padaku, Archer.
Baiklah. Aku serahkan dia padamu.
Nah, kita mulai menyerang!
Aku pasti akan habisi Caster di sini!
Dengan begitu, Saber akan kembali seperti semula,
dan dia bisa perbarui jalinan kontraknya dengan Shirou, 'kan?
Jadi, apa kau sudah pastikan dia benar-benar mati?
Saber.
Apa maksud ucapanmu?
Bukan apa-apa.
Kalau memang mayatnya tak ada,
bisa saja dia masih hidup dan kabur ke suatu tempat.
Sudahlah, yang terpenting, ayo selesaikan urusan kita.
Kali ini kau tak punya tameng manusia lagi, jadi aku bisa menghadapimu dengan serius.
Kau yakin bisa kalahkanku dalam pertarungan adu sihir?
Tergantung dari caraku.
Dan untungnya, kau belum bisa kendalikan Saber secara maksimal.
Lalu, aku pun sudah tahu seberapa kuatnya Pak Kuzuki.
Tentu saja, dia bukan tandingan Archer-ku.
Apa kau siap, Archer?
Tentu.
Tinggal lakukan sesuai rencana, 'kan, Rin?
Pastinya.
Tak perlu menahan diri.
Kerahkan semua kekuatan yang kita punya!
Lucu sekali.
Kaupikir bisa kalahkanku satu lawan satu?
Apa kau lupa dengan kartu asku?
Dengan Mantra Perintah, aku bisa langsung mengendalikannya layaknya sebuah boneka.
Meski kaugunakan Mantra Perintah, Saber pasti bisa memberontak.
Entah hanya satu atau dua menit,
tapi itu pun sudah lebih dari cukup untuk habisi
bajingan sepertimu!
No comments yet. Be the first to leave one.