200 บรรทัดแรก
Tahu, enggak?
Saat tahun baru, aku lupa mau berikan sesuatu sama ibumu.
Oh, terima kasih.
Hari itu, aku berjuang keras.
Aku juga.
Aku suka!
Oh ya, Yamato.
Mau mampir ke rumahku?
Kurasa ibuku akan senang kalau kau langsung memberikannya.
Ya.
Ibu lagi apa?
Bersih-bersih.
Jangan terlalu capek!
Saat mengandungmu, aku juga selalu begini.
Oh, Yamato. Selamat datang.
Siang.
Kalau begitu, Ibu beli beras dulu.
Tunggu, mau beli berapa kilo?
Sepuluh kilo.
Aku saja!
Oh, sungguh?
Kalau begitu, sekalian beli yang lain.
tak terkejar
oitsukenai
meski ingin kukejar
oitsukitai no ni
inilah kisah yang tak terduga, berilah ku jawaban
totsuzen monogatari Give Me an Answer
ku tak tahu jawabannya
wakaranai yo Answer
ZAINUDDINARI
MEMPERSEMBAHKAN
ZAINUDDINARI
MEMPERSEMBAHKAN
bila saja cinta itu layaknya permen
okashi mitai ni suki mo
yang harus dilakukan menurut resep saja
Recipe toori ni ikeba ii no ni
bila saja jarak antara kita seperti kue busa
Meringue mitai ni kyouri mo
di mana hanya butuh waktu 'tuk mengubahnya
jikan shidai de kawareba ii no ni
ketenangan dan semangat itu kawan lama
reiseisa to nekketsusa ga osananajimi nan da
apa selama hidup ini kita jalani tanpa pegangan tangan
isshou te mo tsunagenai mama kana
aku tak mau
ya da yo
tak terkejar
oitsukenai
meski ingin kukejar
oitsukitai no ni
inilah kisah yang tak terduga, berilah ku jawaban
totsuzen monogatari Give Me an Answer
sebegitu canggung
bukiyou de
dan kikuknya itu
gikochinai hodo
akankah dimulai dengan sayang belaka
itoshiku hajimaru no
berilah ku jawaban
Give Me an Answer
jawaban 'tuk masa depan
miraikei no Answer
IBUKU
Putraku itu orangnya selalu khawatiran.
Dia baik, ya.
Dia berlebihan.
Mungkin harus kutunjukkan hasil rekam medisku.
Sempurna tanpa masalah.
Suatu hari nanti, aku mau jadi ibu yang kuat kayak Ibu.
Pasti bisa.
Para pria itu pengecut, jadi wanita harus kuat.
Eh?
Takeo itu kuat, lo.
Tidak sama sekali.
Saat dia berusia lima tahun, kami tunggu jemputan datang,
dan si bodoh itu malah lompat begitu saja ke jalan.
Aku berhasil selamatkannya, tapi tanganku terserempet.
Darahnya mengucur ke mana-mana.
Lalu, Take...
Ibu, jangan meninggal!
Padahal setiap hari dia suka terluka, tapi tak pernah ribut kesakitan.
Berarti sejak kecil, Takeo memang anak yang baik.
Dia pengecut.
Dia pasti sangat peduli sama Ibu.
Putraku memang begitu.
Laki-laki itu punya sisi lemahnya juga.
Tetaplah di sisinya.
Ya.
Saat dia lahir, semua orang di ruangan langsung bertepuk tangan.
Hebat!
Kayaknya mereka bersenang-senang.
Saat dia diperiksa,
perawatnya angkat Takeo, dan berkata, "Yokozuna sudah lahir."
Kayak serial Lion King?
Ya.
Apa itu?
Oh, Takeo.
Selamat datang.
Ya.
Kau ini beli beras berapa kilo, sih?
Ini buat cadangan.
Apa semua uang Ibu dihabiskan?
Dasar.
Kalau begitu, Ibu mau pergi dulu ke RS.
Ya, hati-hati, ya!
Oh, anu...
Ini.
Wah, wah.
Terima kasih, Yamato.
Berjuanglah.
Oke!
Takeo, saat lahir kau beratnya 4,2 kilogram, ya?
Ya.
Ibu menceritakannya?
Ya.
Aku dulu lahirnya prematur, jadi kecil banget, cuma 2,1 kilogram.
Cukup lama, aku cuma bisa berada di ruang inkubator.
Karena terlalu kecil, aku enggak bisa keluar dari RS bareng ibu.
Tapi, sekarang aku sehat, kok!
Begitu ya, syukurlah.
Ya.
Aku enggak sabar lihat adikmu lahir.
Ya.
Halo.
Sebentar lagi, ya?
Ya.
Aku malah terserang anemia lagi.
Mama, lihat!
Hoi, jangan lari-lari!
Dia si kakak?
Ya.
Sebetulnya kami mau usia mereka lebih berdekatan,
tapi sekarang dia sudah cukup besar.
Syukurlah mau melahirkan lagi.
Kakakmu sudah menanti, nih.
Berjuanglah.
Jangan melakukannya!
Aku saja!
Bagaimana kata pihak RS-nya tadi?
Baik-baik saja.
Begitu, ya.
Saat Yamato lahir, beratnya setengah beratku.
Dia bilang, dia enggak bisa keluar dari RS bareng ibunya.
Takeo, tak ada kepastian apa bayi yang lahir bisa bertahan atau tidak.
Sayang, aku akan bersihkan kamar mandi.
Apa ini?
Malaikat!
Dia kecil banget.
Syukurlah dia bisa tumbuh besar.
Aku terlahir lebih besar daripada yang lain, juga enggak pernah sakit selama pertumbuhan.
Sebelumnya, aku enggak pernah pikirkan hal ini.
Tapi, semuanya enggak akan selalu kayak begini.
Siang.
Biar kubantu.
Bahkan kau juga.
Semuanya terlalu khawatiran.
Belum seberapa kalau dibanding Takeo.
Dia punya teman yang baik sepertimu, lalu punya pacar yang manis.
Takeo pasti sangat bahagia.
Soalnya dia laki-laki yang baik.
Bagiku, dia masih seorang anak kecil.
Semoga adiknya juga bisa punya teman yang baik.
Terima kasih atas jimatnya.
Ibu sangat senang, jimatnya dijadikan gantungan tas.
Eh, sungguh?
Syukurlah.
Cepatlah lahir, ya.
Ya.
Oh, aku juga mau lihat foto seratus hari bayi Takeo.
Boleh.
Aku pulang.
Ibu lagi apa?
Oh, selamat datang.
Gerakan ini bagus untuk mudahkan persalinan nanti.
Memang betul, tapi bukankah geraknya terlalu cepat?
Ibu?
Tendangannya sangat kencang.
Adikmu ini pasti bisa jadi atlet.
Aku pulang.
Sayang, aku akan bersihkan kamar-
Besarnya.
Manis? Begitu, ya.
Aku berangkat dulu.
Tunggu, Ibu mau ke mana?
Mau jalan santai.
Banyak berjalan sangat bagus buat kesehatan si bayi.
Kalau begitu, aku ikut.
Aku juga.
Di usia yang setua ini, jalan ditemani kalian berdua bikin malu.
Aku berangkat.
Aku khawatir.
Takeo,
apa kau tahu kenapa Ayah dan ibu menikah?
Enggak tahu.
Dulu, Ayah dan ibu bekerja di perusahaan yang sama.
Ibu sangat gigih meskipun masih pegawai magang.
Dia bekerja sangat giat, para atasan menyukainya,
semua wanita di perusahaan juga menjadikannya panutan.
No comments yet. Be the first to leave one.