200 บรรทัดแรก
SEDANG DALAM PERBAIKAN HANYA BOLEH 1 ORANG
- Hai. - Hai. Apa kabar?
- Rusak lagi? - Ya.
Oke, kau saja. Aku lewat tangga karena aku...
Tidak.
Aku akan naik tangga.
Tidak, kau saja...
- Kau saja, aku... - Sadarlah. Tujuh lantai. Kau akan mati.
Aku selalu pakai tangga. Aku jarang pakai lift.
- Bagus, tapi aku akan naik tangga. - Tidak. Kau saja yang naik lift.
- Kau saja. Pakai liftnya. - Oke...
- Naiklah. - Oke.
- Aku akan naik tangga. - Oke.
- Semoga berhasil. - Kau juga. Lihat siapa yang tiba duluan.
Kau sampai duluan.
Selalu.
Mau menceritakan apa yang terjadi?
Katamu aku harus melepaskannya, jadi itu yang kulakukan.
Entah apa yang kau tulis.
Aku tak bilang apa-apa, tapi kau...
banyak menulis.
Tidak, maksudku, semua "Hmm-mm", "Uh-huh", "Oke...".
Entahlah. Aku merasa mungkin kau bisa memberiku nasihat lagi...
Aku bingung dengan "Mm-hmm" dan "Uh-huh".
Terkadang aku menyarankan memakai sofa.
Kau bisa berbaring...
Di sini?
Lalu? Apa itu memberiku suasana yang baik atau...
Seperti suasana relaks untuk...
Tidak, aku begini saja.
Maksudku, di sini nyaman.
Apa yang kau tulis? Kubilang sofanya bagus dan nyaman.
Oke, jadi aku bangun hari ini,
aku tak mengecek medsos sama sekali.
Sarapan, mandi, perawatan wajah, pakai baju, atur rambut, berangkat kerja.
Aku tak bisa menjaga kedamaian batinku.
Magui Roldán mulai bicara soal suaminya membuat kotoran berbentuk hati
dan kedua anaknya sangat berbakat atau semacamnya.
Begitu kecil, tapi dia berhasil menyelamatkan nyawa adiknya. Kau tahu?
Anak itu sangat berharga.
- Hai. - Apa kabar?
- Hei. - Hei, apa kabar?
Dia pikir dia lebih baik dariku karena menikah dan punya dua anak.
Tapi tidak. Jika mau menang, nikahi pria yang pantas.
Siapa pun bisa menikahi ular yang bermasalah.
Yah, itu hidupnya.
- Magui Roldán. - Magui Roldán.
Itu hidupnya, harinya.
Bagaimana dengan harimu?
Sudah kubilang, hariku...
Begitulah hariku, itu sebagian besar hariku.
- Sebagian besar? - Ya, seperti bagian dari...
hariku.
- Itu bagus. - Aku tahu, aku sangat beruntung.
Ayah yang luar biasa.
Jika dia pikir dia mengalahkanku... Pertandingan masih berlangsung.
Mungkin ada pertambahan waktu.
Tak bisa merayakannya dan bilang, "Aku menang," sebelum itu terjadi.
Mungkin ada pertambahan waktu, jadi...
Bahkan tendangan penalti.
Barulah bisa bicara.
Satu tendangan, lalu lagi dan lagi...
Begitu.
Dia tidak menang.
Haruskah kulanjutkan kisah hariku?
Menguntungkan semua.
Benar. Tentu.
Tidak. Kapan waktu yang tepat?
Baik, nanti kuhubungi lagi.
- Vicky. - Ya?
- Aku ingin bicara. - Ya, hai.
Apa dekorasi di unit baru sudah siap?
Sudah. Semuanya lengkap. Semuanya dihias. Hasilnya bagus.
- Jadi, bisa diperlihatkan? - Ya, tentu.
Boleh kita lihat sekarang?
- Sekarang? - Ya, sekarang.
Tentu, sekarang. Aku punya kuncinya. Mari kuantar.
- Oke. - Atau, kau bisa mengantarku.
Atau kita bisa pergi secara terpisah ke...
Maksudku, kita bertemu di sana jika kau mau.
Oke, baiklah.
Ya.
Kerja yang bagus. Kombinasi yang bagus, tekstur...
- Begitu cerah. Selamat, kerja bagus. - Hasilnya bagus. Terima kasih.
Kau suka lukisannya? Kupilih sendiri setiap detail kecilnya.
Tak yakin apa... Bisa kau menciumnya?
Aku pakai aroma tertentu. Bagiku, setiap sudut, celah, dan lingkungan
harus beraroma khas.
Makanya aku memilih aroma yang sangat spesifik.
Itu hal yang memikatku dengan cara yang unik...
- Benar, sungguh gayamu. - Ya...
Ya. Sungguh gayaku.
Baiklah, bicaralah dengan Magui, jadi dia bisa mulai menunjukkannya.
Tanpa perubahan?
- Kau mau ada yang diubah? - Aku suka apa adanya.
- Tapi bilang saja jika perlu... - Tidak, aku suka.
Aku sangat suka.
Suka "itu" atau "kau"?
Kau paham?
- Langsung paham. - Ya.
"Menyukainya, mencintaimu", oke... Kau mau makan siang?
Maksudku, makan siang yang menyenangkan di sekitar sini untuk merayakan.
Itu kiasan... Tidak?
Tidak mau?
Maaf jika merasa tersinggung dengan saranku. Itu salahku.
- Itu hanya ide. - Ya.
Apa kau masih sendiri?
Dia bukan hanya penakluk wanita,
menggodaku untuk merasa kuat, begitu?
Siapa bilang dia begitu?
Kau. "Dia penakluk wanita, ini dan itu ..."
Aku tak pernah bilang begitu.
Aku yakin aku ingat itu dalam ceritamu di tiga atau empat sesi terakhir,
kau bilang dia mungkin menegaskan otoritasnya karena dia bosnya, jadi...
Mungkin kubilang begitu, lalu kau bilang, "Hmm."
Jadi, kumaknai "Hmm" sebagai "Ya, penakluk wanita, kita sepakat."
Mungkin kupahami begitu.
Ini membuktikan dia tak mengajakku kencan karena dulu aku berpacaran dengan Dani.
Kau sudah putus, 'kan?
Aku sangat putus.
Sangat amat putus.
Artinya, aku jomlo.
Aku jomlo yang paling jomlo di luar sana.
Kau bilang "jomlo".
Ya. Putus atau jomlo, entahlah. Semacamnya.
Jadi, dia hanya diam. Bersikap tenang karena dia pria sejati.
Lalu dia bilang, "Ayo makan siang."
Di sini, aku sadar bahwa pria ini menghormati tradisi pacaran.
Kubilang, "Putus," dan dia...
Dia mendekatiku.
Apa yang dia perbuat?
Dia mendekatiku.
Lalu bagaimana kencannya?
Aku harus membatalkannya.
Kau bilang kau akan ikut menemaniku ke dokter itu dari sejak lama.
Optometris, bukan dokter.
Fermín bisa menemanimu. Dia suamimu.
Yang benar saja. Kau meninggalkanku demi pria yang baru kau kenal?
Aku tak bisa pergi sendiri.
Aku bisa saja setengah buta sepulang dari sana.
Bukannya... Tunggu.
Jangan ganggu dia, Caro. Biar kutemani.
- Vicky? - Dia selalu begini.
Dia hanya hidup demi pria.
Victoria? Sedang apa dia? Aku tak paham. Vicky?
Aku... Aku harus ke kamar kecil sebentar.
- Kau baik-baik saja? - Aku hanya...
Aku tak bisa pergi.
- Aku tak enak badan. - Oke, kutunggu di sini.
Apa yang kau rasakan saat itu?
Seperti ingin memukul.
Ingin memukul seseorang.
Aku tahu Dani akan pulih. Tapi melihatnya begini?
Dia tulis "Sukacita sejati".
"Sukacita sejati" dan cincin sialan. Cincin kawin.
Kini dia suka emoji.
Lalu?
Dasar berengsek.
Bukan seperti yang kau pikirkan. Biar kujelaskan.
Sepuluh tahun di sisimu, menerima segalanya!
Gelar hukummu, magangmu, pascasarjana-mu.
Semua omong kosong itu.
Menyiapkan pakaianmu, memasak nasi putih dan mentega.
Ingat diare sebelum setiap ujian pengacaramu?
Aku ingat dan itu tak ada kaitannya dengan bahasan kita.
Ada, karena aku percaya pada kita!
Kau memintaku percaya!
Aku berlibur dengan teman-teman, aku bertemu Bruna, aku jatuh cinta...
Aku tak memilih ini.
Aku tak mau menyakitimu. Itu terjadi begitu saja.
Setidaknya kau bisa meneleponku. Telepon aku.
Bukannya tahu ini dari postingan.
Tapi aku pria lajang. Kau meninggalkanku.
Kau nikahi jalang pertama yang kau temui 10 hari setelah putus?
Jangan menghina Bruna.
Jangan kau berani sebut namanya! Dia menikah demi uangmu.
Jangan bicara begitu soal istriku, paham?
"Istriku," katanya.
"Istriku."
Ya, tapi penting untuk diingat poin yang dia katakan.
Kau meninggalkannya.
Tidak.
Tak bisa bertemu secara langsung ini sungguh konyol.
Ini sungguh buruk. Apa-apaan ini? Benar-benar buruk.
Aku tak bisa karena aku bersama anak-anak dan Peter ada perjalanan bisnis.
Hei, aku di Manhattan.
Hei!
Kita harus membuat rencana saat Debbie kembali.
Ini juga hari ulang tahunku.
Bagus. Kita bisa buat perayaan dobel dan bergembira.
Mengisap ganja, menari, minum, dan teler.
Aku ikut. Sertakan aku.
Bagaimana dengan Melina? Dia serius akan menikah?
Bukan sekadar menikah, dia sungguh akan menikah.
Felipe, berhenti menyiksa adikmu!
Berpacaran selama tiga bulan, lalu dia melamar.
Kubantu perencanaannya.
- Baru berpacaran tiga bulan? - Ini akan jadi pesta luar biasa .
Sayang, kau mau makan siang apa?
Sudah dulu, ya. Mau makan siang di luar, maaf.
No comments yet. Be the first to leave one.