51 บรรทัดแรก
Waktu semakin cepat berlalu,
dan dunia ini semakin terasa dingin.
Si gadis yang tengah tersakiti, terus tertidur layaknya kucing besar.
Si Gadis dan Kisahnya
Ya, halo?
Miyu? Kau kenapa? Ibu khawatir, tahu.
Halo, Miyu?
Ada apa? Kau tak apa-apa?
Miyu? Miyu!
Miyu.
Pa-Panggil polisi.
Kau...
Ibu?
Miyu.
Eh?
Ibu kira kau kenapa-kenapa, makanya Ibu langsung kemari.
Memangnya apa?
Pokoknya, apa saja.
Ibu telepon juga tak diangkat.
Itu karena...
Jangan nakal.
Soalnya kau sudah kakek-kakek.
Kau harus jaga kebersihan. Karena Daru juga tinggal di sini.
Ibu sendiri saja jarang bersih-bersih, jadi jangan sok menasihatiku.
Suami Ibu pasti kerepotan.
Kau harus panggil dia "Ayah".
Bukankah sekarang sudah terlambat?
Dia pasti bakalan terharu kalau dipanggil "Ayah".
Tapi, yang telepon Ibu siapa, ya?
Pasti Daru yang telepon.
Lagi-lagi menuduh Daru.
Barangkali dia lompat ke sana dan tekan tombol-tombolnya?
Lalu dia telepon Ibu? Kok kebetulan banget.
Begitu, ya!
Kau pasti kangen sama Ibu, Daru?
Lo?
Sepertinya tak kangen.
Suara tawa ini sama seperti waktu itu.
Terima kasih sudah khawatirkanku.
Tak perlu, tak apa-apa, kok.
Ya sudah, karena Ibu sudah merasa tenang, Ibu pamit pulang, ya.
Mereka berdua sekarang sudah baikan.
Hati-hati, Bu, kapan-kapan aku juga akan mampir ke rumah.
Daru? Kau tidur?
Daru?
Diselimuti oleh aroma tubuhnya,
aku pun tertidur sangat pulas dibanding biasanya.
Tidur yang begitu nyenyak, panjang, penuh kedamaian serta kebahagiaan.
Aku begitu kagum pada suara bergemuruh ini.
Suaranya yang teratur dan keras.
Layaknya suara jantung dunia yang tengah salurkan kekuatan ke berbagai penjuru.
No comments yet. Be the first to leave one.