200 บรรทัดแรก
=Cerita Bahagia=
=Episode 1=
Sudah mau pukul 10:30, kenapa Chenghuan belum pulang?
Apakah dia ada bilang kenapa malam ini pulangnya lebih larut?
Chenghuan sudah bilang,
malam ini mau lembur.
Jarak antara rumah dan tempat kerjanya hanya satu jalan raya saja,
agak larut juga tidak perlu takut.
Siapa yang bilang tidak perlu takut?
Apakah karena dekat, lalu tidak berbahaya?
Seandainya tepat saat dia pulang, lalu muncul orang jahat di depan gang,
kau takut atau tidak? Cepat, pergi menjemputnya.
Istriku, putrimu sekarang sudah 29 tahun,
bukan anak berusia tiga tahun.
Memangnya kenapa dengan 29 tahun?
Apakah 29 tahun bukan gadis muda lagi?
- Pergi, tidak? - Pergi.
Cepat.
Sudah pukul 10:30, aku harus pulang.
Jika tidak, keluargaku akan ribut lagi.
Tunggu sebentar lagi saja.
Kebebasan dibangun atas dasar kemandirian.
Sudahlah, Rekan Xin Jialiang.
Besok aku akan membawakanmu kue yang kubuat, oke?
Apa lagi yang kau lakukan?
Sudah tiga tahun.
Kau sama sekali tidak pernah mau menginap denganku.
Sudahlah. Bukankah saat malam kita masih bisa melakukan panggilan video?
Apa yang kau lakukan?
Di depan umum begini, kau tidak malu?
Apa yang kau lakukan?
Ibu...
- Kau! - Bibi.
Tahukah kau sekarang jam berapa?
Kau sudah tidak mau pulang sama sekali, ya?
Kau tidak punya tata krama!
- Ibu. - Kau... jangan bicara lagi!
Bibi, aku mengantar Chenghuan pulang,
di jalan agak macet. Sebenarnya aku sudah mengemudi cukup cepat.
Macet? Sekarang jam berapa masih bilang macet?
- Sekarang pukul 10:00. - Sekarang pukul 10:30, masih macet?
Kau berbohong tanpa mengarang dulu, ya?
Kali ini bukan salah Jialiang, aku yang mengajaknya bertemu.
Aku juga yang terlambat pulang.
Kau minggir, kita bicarakan lagi setelah di rumah.
Apakah kau sudah gila?
Sudah malam begini, masih mengajaknya melakukan
hal tidak senonoh di jalanan.
Otakmu sudah gila, ya?
Kalian belum menikah.
Meskipun sudah menikah, juga tidak boleh seperti ini...
Malam-malam begini mengajaknya melakukan hal semacam itu...
Ayah, ada apa dengan kaki Ayah?
Sudah menikah pun kau juga tidak boleh begini!
- Ayah! - Kau tahu atau tidak?
Ibu, cepat lihat kaki Ayah.
Ada apa dengan kakimu?
- Ada apa? - Jalan licin, terkilir sedikit.
Kau orang yang bekerja mengandalkan kaki,
kenapa membuat kakimu terkilir?
Kau pakai sandal! Sudah kukatakan padamu,
jangan keluar pakai sandal, kau pantas terkilir.
- Ototku terkilir. - Separah itu, ya?
Istriku, apakah ada koyok untuk cedera otot di rumah?
Ibu, coba lihat kaki Ayah terkilir.
Cepat papah aku.
Kau sudah merasa hebat, ya. Masih membantunya bicara.
Ada apa denganmu? Menyebalkan sekali. Hati-hati sedikit.
Chenghuan, pemuda tadi sangat keterlaluan.
Dia tidak memapah ayahmu yang terkilir!
Mengagetkanku saja.
Coba kau lihat,
kau tidak pakai kaos kaki lagi.
Pada musim seperti ini, jika tidak pakai kaos kaki akan flu.
Udara dingin akan masuk dari telapak kaki, dengar tidak?
- Tidak mau dengar. - Aku sudah tahu.
Sekarang akan kupakai. Dasar anak ini, kau tidak boleh flu.
Kau masih mau...
Kutanya kau,
kau dan Xin Jialiang itu,
sebenarnya sudah sampai tahap mana?
Apa maksud Ibu?
Apakah kalian sudah begitu?
Begitu apanya?
- Begitulah. - Ibu, kenapa Ibu mempertanyakan
hal yang membuat kita canggung begini?
Lagi pula, ini urusan pribadiku tidak berhubungan dengan Ibu.
Urusan pribadi? Kau punya urusan pribadi apa denganku?
Dasar, dirimu saja milikku.
Dasar!
Kau ingat baik-baik, ya.
Sebelum menikah tidak boleh melakukan hal itu.
Wanita yang akan rugi.
Ibu, apa yang Ibu katakan?
Apakah dia ada membahas soal pernikahan kalian?
Kau sungguh berhati lapang, sama sekali tidak terburu-buru.
Kau sudah 29 tahun, akan segera 30 tahun.
Coba kau lihat Mao.
Dia sudah menikah setelah lulus kuliah.
Setelah menikah langsung hamil.
Sekarang anaknya sudah empat tahun dan masuk taman kanak-kanak.
Coba kau lihat dirimu. Kau membuatku sakit kepala memikirkannya.
Aku hanya cemas, begitu cemas aku akan...
Kuberi tahu kau, Xin Jialiang itu
kalau begini terus dan tetap tidak berpikiran ke depan,
kebetulan kau bisa putus dengannya.
Lagi pula, aku juga tidak puas dengannya.
Kau seharusnya mencari pria yang lebih baik darinya.
Aku tahu, Ibu.
Ibu, jadi begini.
Aku hanya memedulikan kebahagiaanku sendiri.
Aku tidak mempertimbangkan perasaan Ayah dan Ibu.
Sebenarnya aku yang salah.
Begini saja, aku dan Jialiang akan mendiskusikannya dengan baik.
Bagaimana merencanakan masa depan kami, bagaimana menurut Ibu?
Benarkah?
Benar.
Baik. Nanti akan kubicarakan dengan ayahmu.
Jadi begini saja. Besok kau diskusikan dengan Jialiang,
suruh dia bicara dengan orang tuanya.
Kedua keluarga bisa bertemu
dan baik-baik mendiskusikan soal pernikahan kalian.
Baik.
Kau membohongiku, 'kan?
Kau tidak membiarkanku bicara, 'kan?
Kuberi tahu kau, kau harus segera merencanakan hal ini.
Aku tahu. Siapa suruh namaku Mai Chenghuan?
Namaku berarti menyenangkan orang tua, pendapat Ibu yang terpenting.
Peluk.
Sayangku. Apa yang Bibi lakukan selanjutnya?
Apakah Bibi masih marah padaku?
Tidak, sudah berhasil kurayu. Tenang saja.
Sayangku memang hebat.
Kulihat sikap Bibi tadi seperti mau menghabisiku.
Dasar, kau ini! Ibuku bukan ibu-ibu galak.
Jialiang, sebelumnya kau bertemu ibuku,
tetapi tidak pernah meninggalkan kesan yang baik.
Dia juga tidak terlalu memahami dirimu.
Bagaimana kalau lain hari
kau cari kesempatan untuk datang ke rumahku
dan makan secara resmi?
Kalau begitu, aku harus baik-baik mempersiapkan mental,
nanti aku mau main gim untuk menenangkan hati.
Jangan main gim lagi.
Besok pagi mau kerja, cepat tidur.
Aku baru saja mengajukan permintaan padamu agar aku boleh main gim.
Baiklah, aku tidak akan main karena kau bilang tidak boleh.
Kenapa kau tidak tidur?
Aku berniat membuatkan kue untuk orang tuaku juga.
Kau berbakti sekali.
Jialiang.
Hubungan dengan ibuku,
menurutku selama masih dalam batas wajar,
tidak termasuk konflik.
Jika agak berusaha, masih bisa diselaraskan. Bagaimana menurutmu?
Baiklah. Besok aku akan menjemputmu setelah pulang kerja.
- Aku tahu. Selamat malam. - Selamat malam.
Kenapa terburu-buru sekali?
Perusahaan kedatangan pemimpin baru yang mau inspeksi.
Makan malam tidak perlu menungguku.
Kau tidak makan?
Peluk!
Hati-hati di jalan.
Ayah, aku pergi dulu.
Pak Zhu. Hari ini direktur baru akan datang, aku pergi membantu dulu.
Chenghuan, pergi kerja, ya?
Paman Liu, bunga hasil perawatanmu indah sekali.
Jialiang, kau sudah bangun, belum?
Kalau sudah bangun, ingat sarapan.
Halo.
Semangka?
Baiklah.
Halo, sudah kubeli. Aku akan segera tiba.
- Pagi, Chenghuan. - Selamat pagi.
- Chenghuan, pagi. - Pagi.
Tunggu sebentar.
Maaf, pagi.
Wu You juga menyuruhmu membawa barang?
Sherry, tolong ambilkan ponselku.
Terima kasih.
Ibu, ada apa? Aku sedang di lift.
Kemarin malam kau belum menjelaskannya padaku.
Sebenarnya kau sudah tidur dengan Jialiang atau tidak?
Aku sedang di dalam lift, sinyalnya tidak bagus.
Ibu, teleponnya kututup dulu.
Maaf, permisi.
Maaf, Tuan.
Tuan, Anda tunggu sebentar.
Tolong bantu aku
memasukkan kue untuk pacarku ke dalam kulkas,
lalu berikan ini kepada Wu You.
Tuan.
Tuan, aku benar-benar minta maaf karena masalah barusan.
Aku telah mengotori pakaian Anda.
Aku punya pena penghilang noda, noda akan hilang jika dioleskan pena ini.
Izinkan aku mengoleskannya untuk Anda.
Lalu, ambil tisu untuk menekannya.
Nanti seharusnya akan membaik.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Aku adalah staf dari Departemen Penjualan di Hotel Botticelli.
No comments yet. Be the first to leave one.