Omar

Omar

ดาวน์โหลดคำบรรยายIndonesian

ซีซั่น 1

ข้อมูลรุ่น

Umar bin Khattab - Episode 04
ความคิดเห็นโดย Inisial ZA
https://www.facebook.com/ZainuddinAri

แท็ก

other
เผยแพร่เมื่อ: 2014-07-02
ดาวน์โหลด: 89
ผู้พิการทางการได้ยิน: No

ตัวอย่างคำบรรยาย Indonesian

200 บรรทัดแรก

ZainuddinAri

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

Episode 4

Kita sudah mengusahakan sebisanya dengan Abu Thalib,

tapi kita belum mencobanya dengan Muhammad sendiri.

Apa sebaiknya kita tak bicara padanya?

Agar ia mau mengatakan hal yang kita benci?

Muhammad belum berusaha menyerang kita.

Yang ia lakukan hanyalah menyebarkan agamanya secara lisan.

Kalian adalah masyarakat yang paling fasih dalam berbicara.

Saat orang menyadari bahwa kau sudah berdebat dengannya

dan memenangkan perdebatan itu, maka mereka akan meninggalkannya.

Bagaimana kalau menurut mereka malah sebaliknya?

Maka hanya akan ada dirimu sendiri untuk disalahkan.

Siapa yang mengerjakan tugas itu?

Tidak, demi Tuhannya Kakbah.

Aku hanyalah yang termuda. Aku tunduk kepada para tetua.

Perkataanmu hari ini sudah menunjukkan kepada kita bahwa pendirian seseorang

tak diukur oleh usia atau kekayaan,

tapi dengan kebijaksanaan dan pendapat yang teguh.

Umar, saat bangsa Quraisy menjadikanmu utusan dan juru bicara mereka

itu merupakan pengakuan akan kualitas yang ada padamu.

Jangan memaksaku, Abu Walid.

Demi Tuhan, aku takkan menerimanya selagi ada kau,

dan ada Suhail bin Amr, pembicara terbaik dari kaum Quraisy

dan Abu Abdi Syams, anggota tertua kita.

Inilah Abu Abdi Syams.

Mereka menyerahkannya kepada ayahmu.

Aku tak tahu, apa itu baik atau buruk.

Wahai warga Mekah, para tetua kaum Quraisy!

Wahai, warga Mekah! Dengarkan aku!

Warga Mekah, aku menyatakan sudah membebaskan Salim

dan sudah mengadopsinya sebagai anak.

Mulai hari ini, ia adalah Salim bin Abu Hudhaifah bin Uthbah bin Rabi'ah.

Ia mewarisiku dan aku mewarisinya.

Aku ikut senang seperti Salim.

Seorang budak seharusnya senang saat budak lain dibebaskan.

Aku tak iri padanya, kalau itu yang kaupikirkan.

Ya, benar. Aku iri padanya. Aku iri!

Ia nyaris tak membebaskannya sebelum mengadopsinya

dan memberinya nama, agar bisa memberi warisannya.

Apa itu karena ia seorang budak Arab?

Apa arti kita dalam perbudakan sebagai orang berkulit hitam?

Kalau memang Sang Pencipta itu ada

kenapa Dia menciptakan orang berkulit putih dan hitam?

Apa kau benci warna kulitmu, Wahsyi?

Apa kau tak membencinya?

Kalau ya, aku akan benci diriku sendiri.

Aku benci diriku.

Bagaimana aku tak benci, kalau mereka menghinaku karena warna kulitku?

Andai aku sama seperti mereka, ini tak akan terjadi.

Kini kau sama seperti mereka, Wahsyi.

Seperti mereka?

Apa kau tak memandang yang berkulit hitam seperti pandangan mereka?

Kalau kau adalah budak mereka

mereka diperbudak oleh keinginan mereka sendiri.

Mereka tak bisa lihat kebenaran dan selalu tersesat.

Sungguh aneh apa yang kudengar.

Tadi aku berdiri lebih tinggi dari majikanku

dan aku tak bisa lihat di antara mereka ada

yang lebih ringan bebannya atau yang hati dan jiwanya lebih bebas dariku.

Hah! Dan kau suka menuduhku bermimpi.

Bagaimana menurutmu tentang pendapat kaum Quraisy yang kaudengar?

Apa maksudmu?

Kenapa? Bukankah seorang budak punya telinga untuk mendengarkan?

Aku tak dengar apa-apa sampai Abu Hudhaifah membawa Salim

dan menyatakan ia sebagai orang merdeka.

Kau berdiri di sana dan tak mendengarnya?

Tuanku sudah mengajarkanku bahwa saat aku layani pertemuan mereka,

aku tak boleh lihat atau dengar apa-apa.

Urusan mereka, bukan urusanku. Aku diberi perintah dan aku taat.

Ya. Aku tahu bahwa mereka berbicara tentang Muhammad dan agamanya.

Lalu bagaimana menurutmu?

Menurutku? Tentang apa?

Apa kau sedang menyindir, putra Hamamah?

Bagaimana budak sepertiku punya pendapat tentang masalah kaum Quraisy?

Pendapat ada di sini dan di sini.

Seorang laki-laki harus mencarinya sendiri terlebih dulu.

Seorang laki-laki! Bukan main, kapan aku punya kualitas seperti itu.

Kenapa aku harus peduli tentang Muhammad?

Kau tak akan tahu, sampai kau bertanya dan cari jawabannya.

Aku tak perlu lakukan itu untuk mengetahui pendapatku.

Jadi kau punya pendapat.

Pendapatku adalah bahwa aku tak peduli tentang agama Muhammad

melebihi kepedulianku tentang agama Quraisy.

Itu adalah urusan mereka, tak ada sangkut pautnya dengan orang sepertiku.

Muhammad tak diutus hanya untuk kaum Quraisy saja

atau hanya untuk bangsa Arab saja.

Ia adalah utusan untuk seluruh umat manusia,

Arab dan bukan Arab, kulit hitam dan putih. Dan...

Dari mana kau belajar semua ini, putra Hamamah?

Kalau kau dengar dari orang-orang yang sama seperti yang kudengar,

kau akan tahu seperti apa yang kuketahui.

Apa tadi kaubilang untuk seluruh umat manusia?

Untuk orang merdeka dan juga budak?

Kalau aku percaya pada Muhammad besok,

apa ia akan memerdekakan aku?

Andai kaudengarkan baik-baik apa yang dikatakan kaum Quraisy

kau akan tahu bahwa mereka amat memusuhinya, berusaha menghentikannya

karena ia keturunan terbaik di antara mereka

dan yang terbaik dalam hal akhlak.

Menurutmu, apa mereka akan patuh kalau meminta untuk membebaskanmu?

Kalau itu benar, maka tak ada syarat yang bisa dibebankan padanya.

Mencari kebenaran adalah demi kebenaran itu sendiri,

dan tak bisa dinilai dengan harga berapa pun.

Sebaliknya, kita mungkin terluka karena berpegangan padanya hingga kemenangan itu tiba.

Lalu semua orang akan diadili dengan jujur dan seadil-adilnya.

Apa kaudengar semua ini dari pembicaraan orang-orang itu?

Apa benar?

Kau! Ibnu Abu Quhafah!

Kami sudah menganggapmu yang terbaik di antara kami

sampai kau yang pertama bergabung dengan Muthammam.

Kau tak berhenti bahkan mengajak serta orang lain.

Kau memalukan.

Dan kau si Gembala Kecil!

Kauanggap dirimu hebat karena sudah diberi kesempatan.

Kau takkan bisa lagi temukan orang di antara kami untuk memercayakan domba-domba mereka.

Kami akan melihatmu mati kelaparan.

Seekor anjing penggembala lebih baik darimu dan orang sepertimu.

Kau akan segera rasakan hukuman kami.

Kita akan lihat, apa yang satu ini atau orang lain, ada yang dapat melindungimu.

Tak ada kaum yang mau melindungimu.

Kau sungguh menjijikkan.

Salam perdamaian! Kami tak ingin terlibat dengan kaum bodoh.

Kau akan alami ini.

Rasulullah mengatakan kebenaran. Hampir dipastikan, ia, Abu Jahal.

Menakjubkan bagaimana Allah selamatkan nabi-Nya dari kekejaman mereka?

Mereka menyakiti Muthammam,

dan ia adalah Muhammad, Rasulullah.

Aku akan membalaskan kekejaman itu meskipun itu berarti kematianku.

Kita sudah diperintahkan untuk tak berbuat begitu.

Rasulullah diutus sebagai pembimbing yang membawa berita gembira

dan peringatan melalui teguran yang bijak dan baik.

Mereka akhirnya akan kembali kepada Allah.

Kau, Ibnu Mas'ud, sudah hafal sebagian besar Alquran.

Bagaimana kau bisa mengabaikan apa yang difirmankan Allah:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ

QS. Al-An'am: 108

Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah,

فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِعِلْمٍ

karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan.

كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ

Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka,

ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ

kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka,

فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Maha benar Allah dan rasul-Nya.

Seolah-olah aku mendengar ayat ini untuk yang pertama kalinya.

Selamat datang di rumah, Paman.

Tak satu pun kalian diterima!

Bukankah sudah kubilang agar tak melakukannya?

Bukankah sudah kularang kau, putra adikku Hantamah?

Apa yang kaularang?

Sudah kubilang, jangan membantahku di depan orang lain.

Apa kau tak lihat bagaimana Uthbah bin Rabi'ah

memuji pendapatmu dan meremehkan pendapatku?

Atau apa kau ingin dikatakan

bahwa Umar lebih bijaksana dari pamannya?

Apa ini yang membuatmu seperti ini? Dengar, Abu Hakam!

Kenapa kau tak memanggilku Abu Jahal

seperti Muhammad dan kerabatnya memanggilku?

Bukankah kita bertemu untuk bermusyawarah?

Bukankah musyawarah berarti semua orang menyatakan pendapat mereka

lalu sepakat dengan satu pendapat?

Kalau tidak, semua orang akan bertahan pada pendapat mereka

dan takkan ada kesepakatan apa pun.

Yang lebih kuat, maka ia yang menang.

Memang benar begitu, yang lebih kuat, ialah pemenangnya.

Maka orang hanya akan bicara menggunakan pedang

dan yang kalah akan berencana menjatuhkan yang menang.

Tidak, Abu Hakam.

Aku takkan menahan diri dari menyatakan pendapatku demi menyenangkanmu.

Memang aku memusuhi Muhammad dan menentang agamanya, tapi...

Suara ribut apa ini? Sepertinya kalian sedang bertengkar!

Tanyakan saja sendiri pada anakmu ini.

Sepertinya kau tak mendidiknya untuk menghormati orang yang lebih tua

terutama terhadap mereka yang ada hubungan kekerabatan.

Kuucapkan selamat datang kepada kalian semua.

Selamat datang, mari, mari. Silakan masuk.

Selamat datang, selamat datang.

Sahlah! Ini ayah dan saudaramu, Abu Jandal

bersama ayah dan saudaraku. Ayo, temui mereka!

Kenapa kau tak beri tahu aku, ayahmu, sebelum memberi tahu orang lain?

Ini adalah ayah mertuamu, Abu Yazid. Kenapa kau tak bermusyawarah denganku?

Aku melihatnya waktu itu

bahwa kau tak senang melihatku makan sepiring dengan Salim.

Dan kau tak peduli terhadap apa yang tak kusuka!

Aku sangat berharap, ayah mencintai apa yang kusukai dan yang kucintai.

Bagaimana kalau tidak?

Aku akan melakukan yang terbaik untuk menyenangkanmu.

Tapi saat sudah jelas kebenaran yang hakiki bagiku,

aku akan ambil keputusan untuk melakukannya.

More Indonesian subtitles for Omar

ความคิดเห็น

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left