200 บรรทัดแรก
Berhenti! Baiklah.
Aksi pembunuhan yang keren. Bagus.
Kejutan!
Adegan pengganti sudah selesai, bawa pemeran utamanya.
Baik.
Terima kasih. Semoga harimu menyenangkan.
Semoga...
Sulitkah bagi mereka mengatakan kerjaku bagus?
Kenapa aku bisa menyedihkan seperti ini?
- Pahit sekali. - Joon-gi, ini ponselmu.
- Apa? - Sejak tadi berdering.
Terima kasih.
Halo?
Apa?
Sial!
Mari tepuk tangan.
KELAS MENYANYI UNTUK IBU RUMAH TANGGA
SHIVA WOO-SHIK
Apa? Aku sedang di kelas.
Apa? Sial.
Satu lemparan lagi baginya untuk memenangkan kejuaraan ini.
Kook Ki-bong belum mencetak skor sampai inning kesembilan.
Semuanya tergantung pada lemparan terakhir ini.
Jumlahnya kini adalah tiga ball dan dua strike.
Kook perlu berhati-hati agar bolanya tak melanggar.
Sato mungkin berharap bolanya melenceng.
Baik. Ini momen menegangkan.
Kini semua berada di tangan Kook.
Bersiap.
- Strike! Dia melewati pemukul! - Ya!
Dia berhasil! Mereka memenangkan kejuaraan!
Terima kasih, Sato!
Pahlawan nasional Kook Ki-bong membawa kemenangan pada timnya
dengan membuat lawan kalah telak tanpa skor dan run.
Dia pemain yang luar biasa.
Bangun!
Hei, Kook Ki-bong!
Tanpa skor! Juara!
Kau pingsan saat berlari.
Apa kau bahkan bermimpi?
Bangun!
Kau tak mau masuk liga utama?
Kau mau membusuk selamanya di liga kecil?
Pelatih, boleh kuangkat telepon ini?
Dasar bodoh, angkatlah.
Astaga.
Halo?
Apa? Aku sedang latihan.
Apa? Sial!
Bagus. Itu baru yang dinamakan lari.
Apa-apaan itu? Mau ke mana kau?
SANGGRALOKA WAIKIKI
Bagaimana?
Bagian dalamnya rapi, dan interiornya juga bagus.
- Kau menyukainya? - Ya.
Selain itu, lokasinya bagus,
jadi, cocok untuk bisnis.
Kau bisa menggunakan semua ini.
- Hebat, 'kan? - Ya.
Pikirkanlah baik-baik.
Ini sungguh membuatku gila.
Kenapa mereka tak datang?
Setiap orang yang tinggal di sini sukses dengan pekerjaan mereka.
Dari sutradara film, jurnalis,
CEO pusat perbelanjaan, sampai pembuat kue.
Mereka semua sukses besar.
- Bu! - Bu!
Kau siapa?
- Siapa mereka? - Hanya mereka yang aneh.
Aku serius.
Akan kupikirkan dan kuhubungi kau lagi.
- Permisi. - Tapi
- kau harus melihat-lihat lagi. - Permisi.
Banyak yang ingin kutunjukkan!
Pak, tolonglah...
Astaga, apa yang kalian lakukan?
Kenapa kau menyewakan tempat ini tanpa berdiskusi dengan kami?
Maka kalian harus membayar sewa.
Kalian tahu sudah berapa bulan kalian menunggak?
Jika diberi waktu sepekan, kami akan mengurusnya...
Kalian tahu berapa bulan kalian mengatakan hal itu?
Sekitar empat bulan dua pekan...
Baik. Kuberi sepekan lagi dan ini kesempatan terakhir kalian.
Sebaiknya kalian membayar semua tunggakan sewa.
Lihat betapa menyedihkannya kalian.
Kalian lampu lalu lintas atau apa?
- Semoga harimu menyenangkan. - Semoga panjang umur.
Sampai jumpa.
Kenapa ada ban di dalam sanggraloka?
Lihat siapa yang berbicara.
Hei, Lampu Merah. Berhenti.
- Jangan sentuh aku. - Tunggu.
Kenapa kau lama sekali? Aku meneleponmu sejak tadi.
Aku langsung datang setelah kau menelepon.
Tak lihat aku masih memakai wig?
Sial.
Siapa yang menaruh ini di sini?
Ini membuatku gila.
Bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?
Ya.
Jeong-eun, kau punya uang?
- Apa aku akan menumpang jika punya? - Sudah kuduga akan begitu.
Kenapa penampilanmu begini hari ini?
Benar.
Bagaimana Song Joon-seok dari Newsroom bisa bernasib begini?
Lihat aku, aku aktor berbakat.
Kenapa aku hanya menjadi pemeran pengganti?
Hanya pengganti?
- Kau belum jera, ya? - Diam.
Itu sebabnya para gadis mencampakkanmu.
Hei! Aku sudah bilang
jangan membahas Seo-jin.
Dia tak memutuskan aku.
Kami putus baik-baik.
Terserah kau saja. Aku mau mandi.
Mandi?
Haruskah kau mengungkit tentang perpisahan itu?
Mau ke mana kau?
Kau menjulurkan lidah kepadaku?
Jangan mandi! Itu pemborosan.
Berhenti!
Tapi itu semua salahmu. Bertanggungjawablah untuk itu.
Kenapa? Kenapa ini semua salahku?
Kau CEO.
Kami hanya investor.
Kau bilang itu investasi bagus.
Kau bilang kita akan dapat uang setelah rumah direnovasi.
Kita sedang mengalami resesi ekonomi global.
- Semua sanggraloka kesulitan... - Diam!
Seharusnya aku tak memercayai orang sepertimu.
Kau hanya menyebutku CEO jika hal buruk terjadi.
Hei. Lihat itu.
Sepertinya ada festival di sini.
- Lalu? - Untuk menyaksikan meteor jatuh...
Aku hanya ingin memberi tahu. Di sana ramai.
Siapa itu Hujan Meteor?
Siapa dia dan kenapa orang berkumpul untuk melihatnya?
Dia penyanyi? Aktor?
- Kau bercanda? - Aku tahu! Pemain sepak bola!
Aku harus menyalahkan diriku
karena memercayai orang bodoh seperti kalian dan berinvestasi.
Itu semua salahku.
Aku yang gila di sini.
Jadi, siapa Hujan Meteor?
Kurasa hal baik akan terjadi.
Kurasa kita tak seharusnya menonton meteor sekarang.
Ini akan menjadi hujan meteor bersejarah,
kita tak boleh melewatkannya.
Siapa tahu? Jika kita berharap pada meteor,
uang mungkin menghujani kepala kita.
Yang benar saja.
- Kenapa kau pesimistis sekali? - Mana bisa optimistis
jika kita akan menjadi tunawisma sepekan lagi?
Itu sebabnya kau perlu lebih optimistis.
Dengarkan aku, Woo-shik.
Ki-bong, kau juga.
Tataplah satu sama lain.
Tak ada yang lebih buruk dari ini.
- Maksudmu? - Itu dia maksudku.
Kita telah mencapai titik terendah dalam hidup.
Apa artinya?
Tak ada tujuan lain selain naik.
Tak mungkin hal lebih buruk lagi akan terjadi kepada kita.
Bisa-bisanya kau tak optimistis?
Bukankah begitu?
- Kau serius? - Ya.
Mati saja kau.
Jangan sia-siakan oksigen yang kau hirup, mati saja.
- Mati! - Hentikan, kalian berdua!
Yang benar saja.
Lihat! Sudah dimulai! Lihat ke sana!
Jadi, itu yang namanya meteor.
- Keren sekali. - Ya.
Lihat.
Lihat itu.
Yang itu besar sekali, ya?
Sangat besar. Bukankah itu sepertinya menuju ke arah kita?
- Benar? - Ya.
- Menurutmu begitu? - Aku tak peduli.
Bukankah itu mengarah terlalu dekat ke kita?
- Romantisnya. - Bagaimana jika kita kejatuhan?
PEMBUKAAN AKBAR SANGGRALOKA WAIKIKI
SERATUS JUTA BINTANG JATUH DARI LANGIT
Aku di sini.
Apa bintang sungguh jatuh di sini?
- Di sanggraloka kita? - Kurasa begitu.
Jadi, seperti itu rupanya meteor.
Aku rasa begitu.
Ini keren sekali.
Bukankah ini sangat menarik?
Katamu takkan ada hal yang lebih buruk lagi.
Katamu tak ada tujuan selain naik.
Katamu kita telah mencapai titik terendah hidup.
Kita mencapai titik terendah,
tapi aku bukan berpikir kita bisa lebih rendah lagi.
Tutup mulutmu!
Lihat itu. Eternit kita berlubang.
Jika pemilik sanggraloka tahu, kita tak hanya akan diusir,
tapi kita akan dituntut. Paham?
Ini bukan kesalahan kita.
No comments yet. Be the first to leave one.