89 บรรทัดแรก
Telah bertahun-tahun lamanya, peperangan terus-menerus
meluluhlantahkan wilayah ini.
Tangisan yang selamat dapat terdengar di seluruh penjuru negeri ini.
Bunuh saja aku! Cepat!
Biarkan semua orang yang hidup menerimanya sebagai peringatan!
Suamiku, tidak!
Carilah di sana juga!
Episode 3
Kisah Jukai
Kisah Jukai.
Hoi, Kaname.
Selamat siang!
Ini, untuk dokter.
Oh, terima kasih banyak.
Tak apa. Ini juga tak seberapa.
Berkat dokter, putraku mampu berlari lagi.
Dunia ini jadi tak sepahit itu berkat keberadaan orang sepertinya.
Ya!
Bisa digerakkan dengan otot bahu.
Kalau latihan pasti bisa.
Wah, aku jadi punya tangan!
Sayang, syukurlah, ya.
Ya.
Benarkah tak apa-apa? Aku punya benda hebat ini secara cuma-cuma.
Aku melakukannya karena ingin.
Terima kasih banyak!
Guru!
Ajari pria ini cara gunakan lengannya.
Baik.
Selanjutnya.
Dokter Jukai itu seperti Tuhan, ya.
Ya, benar.
Gurulah yang membuatku ada alasan untuk hidup waktu aku jadi yatim.
Bisa bekerja di sini adalah hal yang membahagiakan bagiku.
Guru terus bekerja semalaman.
Sakit, Bu! Sakit!
Sebentar lagi kita akan sampai ke tempatnya dokter. Bertahanlah sedikit lagi.
Sakit, Bu!
Ada apa?
Apa rumahnya Dokter Jukai sudah dekat?
Ada samurai yang menyerangnya dan menebas tangannya.
Betapa malangnya putraku.
Tenang saja. Guru pasti akan menyelamatkannya.
Tampaknya akan memakan waktu
tapi akan kulakukan yang kubisa.
Benarkah? Terima kasih banyak!
Syukurlah! Syukurlah, ya.
Ya.
Aku benar-benar berterima kasih banyak!
Dia akan segera pulih.
Sebenarnya, aku takut karena kukira dokter adalah orang yang menyeramkan
tap aku bersyukur bisa datang.
Kau tak seharusnya memercayai kabar angin itu.
Kabar angin?
Tidak.
Kaname?
Guru.
Apa benar?
Dulunya, kau melayani Raja Shiba.
Ada kapal orang asing yang selamatkanku usai jatuh ke laut.
Aku pun dibawa ke negara mereka.
Aku belajar cara buat prostetik di sana
agar mampu buatkan lengan bagi yang tak punya.
Aku tak berniat menebus dosa
hanya saja, meski hanya ingin mati dengan tenang layaknya tak terjadi apa-apa
kurasa tetap saja aku tak bisa diampuni.
Harusnya aku sudah mati, tapi masih hidup juga.
Itu berarti masih ada hal yang harus kulakukan.
Saat perang dengan klan Shiba, ayahku...
...terbunuh!
Ayah!
Ayah!
Kau...
Kaulah yang sudah bunuh ayahku!
Kaname.
Kumohon.
Kau masih memohon untuk hidup setelah berbuat semua itu?
Aku tak peduli dengan nyawaku.
Lakukan saja sesukamu saat pekerjaan ini selesai, hanya saja
biarkan aku tepati janji pada anak itu.
Ini demi anak itu.
Terima kasih.
Terima kasih, Dokter!
Selamat tinggal!
Kau takkan pernah bisa tebus perbuatanmu.
Kau takkan mungkin bisa selamatkanku.
Masih hidup? Tak mungkin.
Kau ingin hidup?
1 Tahun Kemudian
No comments yet. Be the first to leave one.