Omar

Omar

ดาวน์โหลดคำบรรยายIndonesian

ซีซั่น 1

ข้อมูลรุ่น

Umar bin Khattab - Episode 30
ความคิดเห็นโดย Inisial ZA
https://www.facebook.com/ZainuddinAri

แท็ก

other
เผยแพร่เมื่อ: 2014-07-28
ดาวน์โหลด: 91
ผู้พิการทางการได้ยิน: No

ตัวอย่างคำบรรยาย Indonesian

200 บรรทัดแรก

ZainuddinAri

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

ZainuddinAri mempersembahkan

Umar bin Khattab

Episode 30

Kau tampak sangat gembira, Amirulmukminin.

Maukah kalian mendoakanku?

Mendoakan bagaimana, Amirulmukminin?

Aku telah jadi bagian dari keluarga Rasulullah

dengan menikahi Ummi Kultsum, putri Ali.

Itu sungguh mulia. Kau jadi semakin dekat dengan Rasulullah.

Begitulah.

Apa kau tak ingin mengundang kami makan-makan, Amirulmukminin?

Bubur dengan daging. Yang kumaksud adalah bubur daging dan kuahnya.

Bukan sekadar bubur gandum dan minyak, yang hanya membuat perut panas.

Jangan sampai kita mengatakan kalau Allah tak hentikan kemaraunya,

Amirulmukminin pasti sudah celaka.

Masuklah sekarang.

Aslam, apa kau sudah minta izin pada Amirulmukminin?

Apa kau sudah mengabarinya kalau kami menunggu di sini?

Tentu sudah, tapi kumohon agar kalian bisa sabar menunggu.

Tapi, seseorang yang baru saja masuk itu datang setelah kami.

Begitu juga dengan yang masuk sebelumnya.

Aku hanya jalankan perintah dari Amirulmukminin.

Kesabaranku sudah habis, aku pergi. Bagi yang mau, silakan ikut.

Baru kali ini kualami!

Ia mengizinkan budak-budak itu dan mengabaikan kita di depan pintu!

Minta ampunlah pada Allah, Abu Sufyan.

Allah telah memberimu nikmat Islam, maka jangan kaunodai dengan hal semacam ini.

Dan kau Abu Sufyan, punya kesalahan besar pada perang Yarmuk.

Maka janganlah kauberi kesempatan pada setan untuk memengaruhimu.

Astagfirullah, Astagfirullah.

Jujur, aku mengambil pelajaran dari kejadian tadi.

Tapi godaan setan telah mengalahkanku.

Lihatlah pada budak-budak tadi.

Mereka tak punya apa-apa, hanya saja mereka memeluk Islam lebih dulu.

Jadi mereka sudah berada di jalan yang benar.

Kalau kalian harus marah, maka marahlah pada diri kalian sendiri.

Saat diajak masuk Islam, mereka langsung menjawabnya,

sedang kalian masih menunggu, bagaimana nanti kalau ditinggal pada hari kiamat?

Sekaranglah saatnya.

Apa itu?

Aku akan pergi ke Syam bersama putraku, Abu Jandal.

Itu adalah tempat untuk kita melakukan jihad.

Hingga Allah menjadikan akhir hidupku, lebih baik dari sebelumnya.

Apa kau tak bisa pertimbangkan lagi, Amirulmukminin?

Kau telah mencopot jabatan seseorang sebagai panglima pasukan di Syam.

Dan ia terkejut dengan keputusan itu,

yang membuatnya jadi bawahan Abu Ubaidah.

Seandainya itu bukan Khalid, pasti situasinya akan lebih buruk lagi.

Dan perjuangannya setelah ia lengser, tidaklah seperti saat ia menjadi panglima.

Ia punya andil besar pada saat penaklukan ke Damaskus

dan juga negeri Syam secara keseluruhan.

Dan ia juga yang melakukan perluasan ke Qinnisrin.

Lalu Abu Ubaidah mengangkatnya sebagai gubernur di sana dan kau menyutujuinya.

Benar, dan waktu itu aku mengatakan, "Semoga Allah merahmati Abu Sulaiman,

ia telah mengangkat dirinya sendiri sebagai gubernur."

Tentu dengan segala pengorbanannya dan Abu Ubaidah selalu menyebut

kebaikannya di hadapan kami.

Tapi kenapa kau malah menurunkan jabatan ia yang kedua kalinya

sebagai gubernur Qinnisrin?

Aku hanya takut kau melukai hatinya dan juga Bani Makhzum.

Mereka akan berkata:

"Kenapa Umar selalu mencari-cari kesalahan dari pihak kami?"

Bukannya aku mencari-cari kesalahan seseorang.

Aku lakukan hal seperti ini juga kepada seluruh para pejabat dan gubernurku

dan aku tak pilih-pilih, meski ia dari kaummu sekalipun.

Dan aku memberinya perintah seperti apa yang kulakukan pada orang lain.

Agar menyiapkan uang itu untuk orang-orang yang tak mampu.

Dan jangan memberikannya pada orang yang punya kedudukan dan mulia.

Sedangkan ia datang membawa harta itu dari negeri Romawi.

Asy'ats bin Qais Kindiy dan para pejabatnya datang menemuinya

kemudian Asy'ats memberinya 10.000 dirham dan ia telah abaikan perintahku.

Apa ia lebih memilih taat pada Abu Ubaidah

sedang ia adalah gubernur Syam daripada aku?

Tapi begitulah Khalid, bertindak sesuka hatinya.

Kau tak tahu, mungkin saja ia ada benarnya.

Seharusnya ia bertanya padaku lebih dulu, apa aku setuju atau tidak.

Aku sudah jelaskan tentang caraku memimpin sejak pertama kali menjabat.

Maka bagi siapa yang mau taatilah aku, dan bagi yang tak mau juga dipersilahkan.

Damaskus

Jangan bersedih, Abu Sulaiman. Dunia hanyalah tempat singgah.

Dan sesungguhnya cobaan bagi seorang pemimpin lebih banyak dari kenikmatannya.

Kau sudah melakukannya sebaik dan semaksimal mungkin.

Dan semoga nanti akan dimuliakan di hadapan Allah, insya Allah.

Dan umat muslim hingga akhir masa, akan selalu ingat penaklukan Irak dan Syam.

Mereka akan mengingat perjuangan Khalid, si Pedang Allah.

Dan seluruh muslim yang hidup di wilayah ini, berutang budi padamu.

Kau benar, Abu Ubaidah. Ketentuan Allah selalu lebih baik.

Aku punya pendapat dan Umar berpendapat lain.

Aku menyaksikan sesuatu dan Umar tidak.

Dan ia adalah seorang Amirulmukminin.

Tinggallah bersamaku di Damaskus.

Amirulmukminin menugaskanku di Syam kemudian ia memindahkanku ke Qinnisrin.

Tapi setelah Syam berkembang pesat dan menjadi besar, ia mencopot jabatanku.

Sabarlah pemimpin, ini adalah cobaan.

Selama Ibnu Khattab masih hidup tentu tidak.

Kenapa kaulengserkan Khalid bin Walid untuk kedua kalinya?

Aku tak mencopotnya karena dendam atau khianat.

Dulu kau juga bilang begitu dan kauulangi lagi,

tapi tetap saja kau mencopotnya.

Aku memintanya untuk menyimpan sejumlah harta bagi kaum tak mampu.

Tapi ia memberikan harta itu pada orang yang mampu dan berkedudukan

dan aku tak memerintahkan hal itu.

Sesungguhnya aku menghormati dan mencintainya.

Maka jangan sampai ada yang menyalahkanku lagi setelah ini.

Ini sungguh tak bisa diterima, Umar.

Kau telah mencopot seseorang dari Bani Makhzum yang Rasulullah telah tugaskan.

Kau telah masukkan pedang yang Allah hunuskan kembali ke sarungnya.

Kau telah mengabaikan suatu perkara yang Rasulullah agungkan.

Dan kau telah memutuskan tali silaturahmi

pada saudara-saudaramu, Bani Makhzum.

Itu lebih baik, agar orang tahu kalau aku memperlakukannya sama dengan yang lain.

Sedangkan hubungan silaturahmi, itu urusan pribadiku.

Bukan urusan kaum muslimin dan pemerintahan.

Tapi...

Kau sudah lancang pada Amirulmukminin, Pemuda!

Tak apa-apa.

Ia adalah kerabat dari Abu Sulaiman, masih muda, ia hanya membela sepupunya.

Apa ini ibu kota rajamu?

Sudah kukatakan, ia bukanlah raja, ia Amirulmukminin, seorang khalifah.

Mereka adalah para sahabat Rasulullah dan menteri-menteri Amirulmukminin.

Siapa?

Assalamualaikum Warahmatullah.

Waalaikumsalam Warahmatullah.

Ini adalah utusan Raja Romawi, datang dengan niat baik dari Konstantinopel.

Ingin bertemu Amirulmukminin, untuk mengajak berdamai

dan ingin tahu apa saja yang ia lakukan.

Dan mana pemimpinmu? Umar? Bisakah kau membawaku padanya?

Inikah ia?

Ya, Amirulmukminin Umar.

Ini adalah utusan Raja Romawi, Amirulmukminin.

Ia datang dengan damai.

Ya Allah, Kaulah Sang Pemberi Keselamatan

dan dari-Mu keselamatan itu datang.

Silakan duduk.

Sungguh apa yang kusaksikan amat berbeda dengan apa yang kudengar.

Ketika sampai, aku bertanya-tanya.

Apa pasukan yang merebut Syam dari kami berasal dari tempat ini?

Kini rasa terkejut, heran dan kebodohanku telah menjadi pemahaman yang bijak.

Aku jadi semakin paham dan percaya.

Aku hanya mengeluarkan pendapatku, pandanganku secara pribadi.

Kita selalu mencari kebenaran, tapi tersesat oleh hawa nafsu kita sendiri.

Kita bisa ambil pelajaran dari musuh kita yang tak bisa kita dapatkan dari teman.

Itu benar!

Seseorang yang menaklukkan para raja, dan punya pasukan perang yang berani.

Ia tak layaknya raja-raja yang lain dan beginilah keadaannya.

Tapi yang mengherankan bagiku,

di saat raja-raja yang lain berbuat sesuka hatinya hingga tak tidur dan gelisah,

sedangkan kau, Khalifah. Bolehkah aku memanggilmu Umar?

Kau, Umar. Telah berbuat adil, maka kau merasa tenteram.

Dan bisa tidur nyenyak.

Kenapa kalian beranjak lebih dulu padahal kita janji bertemu di Damaskus?

Agar kita bisa keliling ke setiap sudut kota

dan mengetahui seluk-beluk rakyat.

Sebenarnya seluruh penjuru negeri sedang dilanda penyakit.

Penyakit Tho'un, dimulai dari negeri Palestina,

dan akhirnya menjalar ke seluruh negeri.

Kemudian mereka berpendapat lebih baik kita segera bertemu

dan mengabarkan tentang hal ini.

Apa kau akan terus lanjutkan perjalanan, atau kembali ke kota Rasulullah.

Jadi pikirkanlah baik-baik.

Menurutku lebih baik kau teruskan perjalanan.

Kau melakukannya karena Allah dan hanya mengharapkan rida-Nya.

Dan segala apa pun yang akan terjadi kau sudah siap.

Sebaiknya kau kembali saja, Amirulmukminin.

Ini adalah cobaan yang harus dihindari.

Kami tak ingin kauhadapi cobaan ini

melainkan Allah yang akan memberi jalan keluarnya.

Kita akan kembali, insya Allah.

Apa kau menghindar dari takdir Allah, Umar?

Kenapa kau berkata begitu, Abu Ubaidah?

Benar, kita menghindar dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain.

Bagaimana menurutmu kalau ada seseorang yang jatuh ke suatu lembah

yang memiliki dua ladang? Yang satunya subur, satunya lagi gersang.

Bukankah ia terjatuh di tanah yang subur dengan takdir Allah?

Dan jatuh di tanah yang gersang dengan takdir Allah?

Benar sekali, sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda:

"Kalau kalian mendengar tentang negeri yang terjangkit suatu wabah,

maka janganlah kalian mengunjunginya.

Dan kalau kalian terjebak di dalamnya, janganlah kalian keluar darinya."

Segala puji bagi Allah, kau telah meyakinkan kita semua.

Mari kita jalan. Semoga Allah merahmati kalian semua.

Cukuplah pertolongan dari Allah.

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.

Kau akan baik-baik saja, Abu Yazid.

Semoga jadi penghapus dosa dan segala keburukan.

Dan ini adalah saat-saat yang sudah ditetapkan.

Setelah kehidupan ini kau akan temukan tetangga yang terbaik,

dan teman yang lebih baik dari sebelumnya.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu, Ayah.

Dan semoga Allah akan mengumpulkan kita lagi di surga.

Duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.

Semoga Allah menjadikanmu tabah, Abu Jandal.

Apa yang ia ambil dan yang ia beri hanya karena Allah semata.

More Indonesian subtitles for Omar

ความคิดเห็น

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left