200 บรรทัดแรก
Apa yang dikatakan di surat kalian?
Katanya, kami harus membantu Kakeru dan Naho agar bisa dekat selamanya.
Naho, maaf!
Di suratku dikatakan "Dukung Naho, bukan kak Ueda".
Meski begitu, kau tetap mendukung senior?
Habisnya, aku tak percaya dengan surat itu.
Awalnya, kupikir surat itu hanya ulah iseng seseorang.
Tapi, saat Kakeru mulai berpacaran dengan senior,
Naho mulai bertingkah aneh.
Saat itulah, akhirnya aku menyadari bahwa surat ini sungguhan.
Karena itulah, aku merasa bersalah padamu, Naho.
Tapi, mulai sekarang aku akan sepenuhnya mendukungmu!
Heh?
Kami tak ingin lagi ada penyesalan.
Tak perlu!
Tak apa-apa meski kalian tak mendukungku.
Bicara apa kamu ini?
Kupikir, dengan begini kita akan bisa menyelamatkan Kakeru.
Menyelamatkan Kakeru?
Yang bisa membuatnya bahagia hanyalah kau!
Aku?
Tapi, aku tak tahu harus melakukan apa.
Mudah saja.
Saat kami mengatakan "selamat pagi" pada Kakeru, itu tak membuatnya senang.
Tapi, saat kamu mengatakan "selamat pagi" padanya, itu membuatnya senang.
Mengerti?
Aku tak mengerti.
Aku mengerti.
Seorang lelaki akan senang mendapatkan pesan dari perempuan yang ia sukai.
Meski itu hanya ucapan salam.
Benarkah?
Apa Kakeru akan senang jika aku melakukan itu?
Tentu.
Beban di hatiku serasa meringan.
Keraguan yang kumiliki sampai kemarin,
sudah tak ada lagi.
Pagi!
Ayahku tiba-tiba saja melakukannya.
Hebat sekali.
Benar.
Aku tak menyangkanya.
Selamat pagi!
Cerdas.
Saat kamu mengatakan "selamat pagi" padanya, itu membuatnya senang.
Pagi ....
Pagi!
Pagi ....
Pagi.
Lo?
Kakeru, hari ini kamu terlihat lebih tampan dari biasanya.
Apaan sih?
Menjijikan.
Benar, kamu tampan.
Kalau aku?
Biasa aja.
Kau tak memakai sepatumu?
Ya.
Aku tak ingin tersandung seperti kemarin.
Aku akan memakainya setelah kamu selesai.
Kakeru, kenapa kamu tak menggenggam tangan Naho?
Hah?!
Pegang tangannya untuk membantunya.
Ke-Kenapa kami harus berpegangan tangan?
Aku duluan.
Ah, dia melarikan diri.
Berisik!
Kakeru!
Se-Selamat pagi!
Bukannya tadi sudah, ya?
Iya, sih ....
Kalian mengerti?
Ya!
Payung, 'kan?
Dimengerti!
Hei!
Aku sudah meminjam tongkat-nya!
Bagus!
Kalau begitu, ayo mulai latihan!
Jangan mengacaukannya, ya!
Apa yang kalian bisikkan?
Bukan apa-apa, kok.
Kami sedang ngediskusiin urutan pelari estafet-nya!
Benar, 'kan?
Hmm?
Uutan pelarinya gimana?
Pertanyaannya adalah di mana kita akan menempatkan Hagita?
Karena aku adalah pemain kunci.
Dalam artian yang lain, sih.
Azusa Murasaka
5 Oktober
Aku takkan pernah melupakan tanggal lima oktober.
Hari ulang tahunku.
Sepulang sekolah pada hari itu,
semuanya memberiku hadiah ulang tahun.
Kalau tak salah, saat kami semua dalam perjalanan pulang,
hujan mulai turun.
Naho membawa payung lipat, dan Kakeru bilang,
"Bolehkah aku berteduh di bawah payungmu"?
Tapi, Hagita telah memberikanku payung lipat sebagai hadiahnya,
dan aku meminjamkannya pada Kakeru.
Pada akhirnya, yang ikut berteduh di bawah payung Naho adalah Taka dan aku,
sementara Kakeru memakai payung yang kupinjamkan bersama Suwa dan Hagita.
Aku penasaran apa yang akan terjadi ...
... jika aku tak meminjamkannya payungku?
Baiklah.
Dengan begini, rasanya pasti akan lebih nendang.
Kamu mengubah resepnya lagi?
Oh, Azusa.
Kamu tak punya PR, ya?
Akan kukerjakan nanti.
Misuzu, perkiraan cuaca untuk besok apa?
Cerah.
Eh?
Kalau besok gak hujan, bisa gawat.
Kenapa begitu?
Bukannya Kak Azu tak suka hujan?
Ini bukan masalah suka atau tidak suka.
Tolong dong besok hujan!
Suzu juga doakan, dong!
Ya ....
Azu, selamat ulang tahun!
Eh, ada apa ini?
Bikin kaget saja.
Hei, Hagita.
Ya?
Apa ini?
Apa itu?
Itu sebuah payung.
Tak bisa!
Kenapa?
Kenapa?!
Aku tak tahu harus memberikan apa, jadi tak apa, bukan?
Apa-apaan ini?
Bungkusannya imut banget.
Tak masalah, bukan?
Ini masalah!
Mereka mulai lagi.
Pertengkaran pasangan suami istri.
Kalau begitu, tak usah memakainya.
Lalu, apa gunanya payung ini?!
Hujan.
Tunggu, kenapa kalian semua membawa payung?
Ramalan cuaca bilang hari ini akan hujan.
Bohong!
Seharusnya hari ini cerah.
Nebeng, dong!
Nggak mau!
Ayolah!
Kenapa sih?
Kalau begitu, Hagita ....
Apa?
Sial.
Kau dapat payung dari Hagita, 'kan?
Pinjam, dong!
Nggak mau!
Ini hadiah yang berharga, jadi aku tak mau menggunakannya.
Ini hadiah dari Hagita, jadi ini berharga.
Kakeru, ini!
Biar aku nebeng dengan Azu.
Aku mau memakainya bersamamu.
Ayo kita pulang bareng.
Eh ....
Baiklah.
Jangan terlalu menjauh.
Nanti bisa basah, lo!
Lebih mendekatlah!
Ma-Maaf!
Bagaimana kalau kita berteduh sebentar?
Kakeru.
Makasih.
Maaf, kamu mengagetkanku.
Tidak.
Itu salahku.
Kamu tak suka, ya?
Bukan berarti aku tak suka.
Aku juga begitu.
Sama seperti saat kamu memegangku karena tersandung saat memakai sepatu.
Bohong!
Itu pasti mengganggumu.
Itu tak mengganggu.
Justru membuatku senang.
Aku ngomong apa, sih?
Sudahlah!
Kita sudah berpegangan tangan sekali saat festival budaya.
Apa sekali sudah cukup?
Maaf.
Karena kamu terus tak ada niatan mau berpegangan tangan denganku, aku jadi ngasih kode padamu!
Habisnya, itu kan ....
Aku takkan tahu jika kamu tak bilang.
Aku menyukaimu.
Eh?
Jika kamu menyukaiku,
aku ingin berpacaran denganmu.
Ya.
Meski tak pacaran pun, aku juga bahagia.
Ya!
Aku juga senang.
Naho, mendekatlah ke sini!
Lebih dekat lagi!
Lebih dekat lagi!
No comments yet. Be the first to leave one.