200 บรรทัดแรก
Sebelumnya di Dexter: Original Sin...
- Masalah? - Tak ada darah.
Bagaimana?
Rasanya tak seperti harapanku.
Kudengar ada pesta di Delta Alpha apalah.
- Akan kuwakili. - Satu syaratnya. Ajak kakakmu.
- Di mana minumannya? - Ada yang lebih baik.
Deb?
Ada pisau di bar.
Aku ingin mengambil pisau itu melebihi apa pun dalam hidupku.
Ayah?
Beberapa hari Harry dirawat, ada yang aneh.
Kenapa ayahku makin buruk?
Tak mudah melihat orang kesayangan menderita.
Selama ini aku berada di dekat seorang pembunuh berantai sungguhan.
Dia juga punya Penumpang Gelap.
Harry juga melihatnya.
Hentikan... dia.
Aku sudah menunggu kata-kata itu sekian lama.
- Kau layak ditawari pekerjaan. - Magang berbayar.
Dexter. Selamat datang di hari pertama sisa hidupmu.
'ANAK DI TOKO PERMEN'
Hari pertama di pekerjaan pertamaku. Bersemangat karena pembunuhan pertamaku.
Aku merasa... mabuk.
Hai.
Dr. Rivas bilang nilai-nilaimu terbaik yang pernah dia lihat.
- Yah... - Kami tak beri nilai di sini.
Ini liga besar, Dexter. Konsekuensinya besar.
Buat satu kesalahan, pembunuh bebas.
Dia wanita yang sependapat denganku.
- Kau mau tur di bagian Forensik? - Aku mau.
Baiklah.
Komputer, mikroskop, perlengkapan lab,
lemari kabinet, mesin faks. Itu saja. Tur berakhir.
Di mana yang lainnya? Kampusku punya spektrometer mobilitas ion.
Selamat datang di Miami Metro. Pembunuhan terbanyak,
tapi aku harus jual ginjal demi sekotak pulpen.
Kabar baiknya, kau mendapatkan ini.
Selalu bawa ini. Kau milikku sekarang.
Aku tak pernah suka dikekang.
Aku siap bekerja, Bos.
Tenang, Nak. Aku harus tindak lanjuti beberapa hasil autopsi dulu.
Masuka akan berikan jadwalmu.
Jadwal yang kuharap bisa membuat pekerjaanku lebih menantang.
Jangan sentuh apa pun.
- Kau sedang apa, Dexedrine? - Tidak menyentuh apa pun.
Apa?
Tanya bilang... Lupakan saja. Tidak ada. Aku tak melakukan apa pun.
Dia bosnya, kecuali jika dia tak ada.
Kau lapor kepadaku. Aku orang nomor dua di sini.
- Berarti aku orang ketiga? - Kau belum punya nomor.
Jangan, kumohon!
Aku mau pulang!
Kenapa kau lakukan ini?
Jangan tinggalkan aku di sini!
Anak-anakmu mengurusmu dengan baik?
Terlalu baik.
Kukira aku yang akan kena serangan jantung.
Aku berpura-pura kena serangan jantung supaya aku bisa lepas dari kalian.
Jika kau masih lapar, kurasa ada puding di kulkas.
Kau bisa makan setelah tidur siang.
Dokter bilang aku harus berhenti merokok. Jadi, harus cari yang lain.
Sersan, kau dengar soal anak Hakim Powell?
- Belum. Kenapa? - Dia dilaporkan hilang.
Tapi itu seperti penculikan.
Kurasa pelakunya kartel.
Powell banyak memenjarakan orang kartel. Mungkin pembalasan.
Jadi, kalian berdua resmi memimpin kasus Estrada.
- Terima kasih, Pak. - Kami bereskan.
Harus. Miami sudah dibanjiri kokain.
Jika kita tak tangani ini, dunia kita akan dipenuhi kokain.
Kepolisian butuh informan yang bisa menyusup ke organisasi Estrada.
Kita tak bisa jadikan orang Kolombia ini sebagai informan. Kita butuh cara lain.
Orang yang atur pertemuan dengan Estrada.
Betul, tapi itu akan berbahaya. Cari orang yang bisa kau percaya.
- Kapten Spencer. - Ya.
- Ada telepon untukmu. - Kuterima di ruanganku.
Hai, Dex. Kawan, kau sudah bekerja keras?
Tidak. Aku hanya...
Harry kira dia akan jadi dokter,
tapi Dex malah putuskan untuk bekerja dengan kita di sini?
Kami senang kau di sini.
Aku kenal anak ini sejak dia menonton Scooby-Do, mengenakan piamanya.
Juga membakar sesuatu dan membunuh binatang kecil.
Dengar. Ada pembunuhan terkait narkoba. Sepertinya NHI.
Jadi, Watt, Batista, Morgan. Waktunya pergi.
Detektif Morgan.
Sebenarnya, kalian berdua.
Hei.
Kau tahu pendapat Ayah soal kau kerja di sini, tapi sejak kau...
melakukan "itu", sepertinya kau baik-baik saja.
Jadi, kita pikirkan masa depanmu.
Mungkin menyingkirkan pembunuh sudah cukup.
Seperti methadone untuk pecandu heroin.
Itu perumpamaan yang bagus.
Namun, aku yakin banyak pecandu lebih suka yang asli.
- Bersemangat untuk beraksi? - Tentu saja.
Boleh aku bertanya?
Apa itu NHI?
Itu berarti "Tak Melibatkan Manusia".
Korbannya manusia, tapi NHI merujuk pada kelompok tertentu.
PSK, pecandu narkoba, tunawisma.
Sebenarnya, kedengarannya buruk saat kuucapkan itu.
- Hei, hanya petugas resmi. - Karyawan magang Forensik baru.
- Tak bisa tanpa pengenal. - Ini putra Sersan Morgan.
- Terima kasih. - Tenang saja.
TKP pertamaku.
Rasanya seperti Natal di pagi hari.
Ternyata, selama ini aku anak baik.
- Morgan, aku senang kau di sini. - Kita berdua senang.
- Ini TKP pertamamu, 'kan? - Ya.
Aku ingat TKP pertamaku. Kaptenku, yang sok jantan,
khawatir wanita kecil ini tak kuat melihat darah.
Sepuluh menit di TKP, dia yang muntah.
Aku mungkin kecil, tapi kuat. Jangan lupa itu.
- Tidak akan. - Bagus.
Ada misi penting untukmu. Bawa buku catatan?
Ya.
Pergi ke seberang jalan dan beli banyak kopi.
Kami butuh tiga kopi hitam, satu dengan krim dan gula, dua gula saja.
Kau tahu jantung ayahmu tak kuat kafein.
Belikan jus untuk teman lolipopnya.
Belikan aku roti pisang dengan butir cokelat.
Apa?
Aku suka yang manis. Aku pria yang manis.
Bukan begitu yang kudengar dari mantan istrinya.
Awalnya tak sesuai harapanku.
Bagaimana penampilanku?
Sangat keren.
Aku akan beli kacamata ini. - Caranya? Harganya 150 dolar.
Dasar pelit. Kenapa kau biarkan aku bayar minumanmu?
Berterima kasih kepada mendiang Nenek Elisa.
- Kugadaikan satu mantel bulunya. - Orang tuamu membiarkanmu?
Tidak. Tapi sejak bercerai,
mereka terlalu sibuk untuk mengawasiku.
Ayah dan kakakku terlalu sibuk sampai tak tahu aku ada.
Bicara soal kakakmu...
Bukan main.
Dexter?
Sampai minggu lalu, dia hanya manis.
Tapi sejak melihat aksi karatenya di pesta itu...
- Kacamata ini cocok untukmu. - Ya, betul sekali.
Butuh uang? Lakukan saja sepertiku.
Kurasa tak ada yang bisa kujual.
Kau pasti bisa temukan sesuatu yang tergeletak di rumah.
Kau akan terkejut melihat orang-orang tak menyadarinya hilang.
- Kapten? - Ini dia. Mereka tak beri nampan?
- Tidak. Habis. - Kau beli roti pisang.
- Terima kasih banyak. - Terima kasih, Dex.
Masuka.
Terima kasih.
Detektif.
Baiklah, Orang Baru. Waktunya kau bekerja.
Daftar periksa. Kau lewatkan satu, seseorang akan mati.
Kau.
Humor pembunuhan untuk awali hari.
Baiklah.
Jadi, area ini sudah diamankan. Tidak ada saksi.
Tahap berikutnya, dokumentasi.
Banyak orang baru hanya fokus pada mayat.
Kita butuh foto seluruh TKP, terutama semua darah.
Percikan darah itu penting.
Aku lebih suka metode spiral. Dari perimeter ke tengah.
Aku suka mulai dari kanan, ke kiri, lalu memutar...
Mayat ini sudah kaku.
Berarti pembunuhnya menyerang minimal delapan jam yang lalu.
Gigi seri busuk. Jelas pengguna narkoba lama.
Sabu-sabu. Kokain. Mungkin keduanya.
Ada yang bisa ambil pipa sabu-sabu itu?
Pembunuhnya pasti dari belakang.
Korban terkejut. Dia berbalik.
Morgan, sudah periksa semua?
Pembunuhnya berada di sini, tepat di depan korban.
Tidak ada luka tembak tembus. Dia pasti menggunakan pistol berkaliber kecil.
Ketika korban ditembak,
darahnya memercik dari luka tembak masuk ke tanah.
Kecuali... ke tempat darah itu mengenai pembunuhnya.
Lihat tempat yang bersih ini? Tempat tak ada darah?
Di situlah pembunuhnya berdiri.
Balista, kemari. Beri tahu Batista yang tadi kau katakan.
Pembunuh di depan korban saat menembak.
Lihat tempat yang bersih percikan darah?
Di situlah pembunuhnya berdiri.
Hei, Kapten, Bobby, dengarkan ini.
- Ya? - Morgan, beri tahu mereka hipotesismu.
Pembunuhnya tepat berada di depan korban.
Tempat yang tak ada percikan darah adalah tempatnya berdiri.
Teman-Teman, kita punya orang hebat, bukan?
Ya. Tak akan tahu korban ditembak dari jarak dekat,
kecuali dari luka bakar mesiu di tengah dahinya.
Cukup, Teman-Teman. Dex, Ayah mau bicara sebentar.
Mereka mengolok-olok karena kau baru.
Begitu rupanya. Aneh, tapi tak masalah.
Itu humor gelap. Hanya itu cara kami bisa menghadapi hal seperti ini setiap hari.
Masuk akal. Aku tak terganggu.
Baguslah.
Sekarang, kau harus bergabung. Balas mengolok-olok mereka.
Seperti yang selalu Ayah ajarkan, kau harus berbaur.
Baik. Berbaur.
Baiklah. Ambillah beberapa foto TKP.
No comments yet. Be the first to leave one.