122 บรรทัดแรก
Tunggu aku!
Siapa kau?
Episode 11
Kisah Banmon
"Kisah Banmon, Bagian Satu."
Kau ini makhluk apa?
Lenganmu itu...
Hoi, hoi! Kau ini sama sekali tak mau berterima kasih, ya?
Lagi pula, kalau tak ada abang, si samurai itu pasti sudah jadi santapan monster itu.
Aku tak tahu siapa dirimu, tapi terima kasih sudah selamatkan nyawanya.
Tak apa-apa.
Dengan begini, penduduk kampung bisa tenang.
Ada apa, Abang?
Maaf, ya.
Dia ini buta, jadi, hanya melihat jiwa.
Matanya...
Tak bisa melihat dan tak punya tangan, tapi mampu bertarung seperti itu?
Itulah hebatnya abang.
Dia sudah habisi berbagai monster saat berkelana di daerah ini.
Kalau hanya monster kecil takkan dilawan.
Kami hanya benar-benar melawan iblis dan monster.
Upahnya.
Terima kasih.
Omong-omong, katanya ada daerah yang kaya dekat sini.
Kau tahu tempatnya?
Yang dimaksud pasti wilayah Yang Mulia Daigo kami.
Tinggal perjalanan setengah hari lagi untuk sampai di perbatasan kota.
Terima kasih, ya.
Ayo, Abang.
Kau. Siapa namamu?
Hyakkimaru.
Hyakkimaru.
Wilayah Yang Mulia Daigo, ya?
Pakaiannya bagus, dia pasti tokoh penting di sana.
Abang! Ayo!
Ampuni aku, Tuan Muda. Aku...
Tidak, ini salahku karena sudah remehkan monster itu.
Padahal aku tak kalah dari siapa pun di doujo.
Tapi berbeda saat melawan monster sungguhan.
Percuma membandingkannya.
Seorang pengembara dan penerus wilayah ini berbeda, tak bisa dibandingkan.
Bagaimana kalau sayuran segar ini?
Barang yang bagus, 'kan? Kalau berkenan, silakan melihat-lihat.
Bayi iblis sudah lahir, sekujur tubuhnya merah.
Haruskah diserahkan pada binatang buas gunung untuk disantap?
Haruskah diserahkan pada makhluk laut untuk disantap?
Selimuti, hanyutkan, dan tak terlihat lagi.
Si iblis...
Si bocah iblis!
Bocah iblis itu sudah datang!
Abang, ada nasi kepal, lo!
Ada beras putih seperti kata orang-orang juga!
Selain itu, yang di sana...
Itu apa, ya?
Butuh lebih dari satu hari untuk lihat semuanya.
Pertama, kita makan dulu.
Abang, di sana ada pertunjukan!
Dalam beberapa tahun terakhir
para iblis menyiksa rakyat kita.
Sebagai penguasa di wilayah ini
aku, Kagemitsu Daigo, akan menebas iblis ini!
Hebat sekali, Dewi Belas Kasih.
Lindungilah rakyat Daigo dengan rahmatmu.
Lindungilah Yang Mulia kami.
Hebat sekali ya pak tua itu.
"Pak tua"?
Lancang sekali kau menyebutnya pak tua!
Dia itu Yang Mulia Kagemitsu Daigo, orang yang sudah buat wilayah ini jadi kaya raya.
Ya, terserah saja.
Abang, dia mirip denganmu, ya.
Iblis sudah kalah!
Seluruh lawan yang menentangku akan kulenyapkan
dan negeri Daigo ini akan terlindungi!
Begitu.
Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa mereka.
Paman kemari karena kabar burung kota ini?
Begitulah.
Wilayah ini bukanlah apa-apa saat masa sulitnya.
Aku penasaran apa yang membuat negeri ini begitu diberkati.
Kudengar para iblis yang Daigo kalahkan diabadikan di sana.
Aku berniat ke sana untuk memeriksanya.
Kami tak ada urusan dengan para monster yang sudah lama mati.
Kami hanya mengejar yang masih hidup dan mengamuk.
Begitu, ya.
Baiklah kalau begitu.
Kau juga membunuh manusia, ya.
Sebaiknya kau berhati-hati.
Memangnya itu sungguhan?
Ya, tapi...
Memang benar di sini tak ada pekerjaan untuk kita.
Bagaimana kalau kita senang-senang sebentar lagi, lalu pergi ke kota berikutnya?
Ya, Abang?
Lo? Abang?
Kudengar ini karena kutukan Banmon.
Pasti karena itu hujan tak turun.
Tak seharusnya kau berkata begitu.
Seluruh kampung yang kusinggahi mengalami kekeringan juga.
Ya, kalau terus begini, musim gugur nanti...
Abang?
Mana mungkin.
Wilayah Yang Mulia Daigo dilindungi oleh Dewi Belas Kasih.
Tapi keadaannya jadi begini semenjak Banmon itu.
Asakura juga bertindak mencurigakan.
Itu...
Banmon itu apa?
Apa?
Pemuda buta yang tak punya lengan kau bilang?
Benar.
Tampaknya, salah satu tangannya itu juga tangan buatan.
Mengalahkan monster sembari berkelana.
Nyawaku pasti sudah melayang kalau mereka tak selamatkanku.
Mereka membual hanya mengejar monster kuat
dan dia memang kalahkan monster besar hanya dengan satu tebasan.
Namanya Hyakkimaru.
Fungsinya melindungi kami dari klan Asakura.
Ada pertarungan sengit dan semuanya akan tumbang saat dinding itu terbakar habis.
Tapi itu saat pasukan Daigo pertama kali menyerang mundur Asakura.
Yang Mulia Kagemitsu pun mulai jadi orang yang berpengaruh semenjak itu.
Tinggi sekali dindingnya!
Katanya, Dewi Belas Kasih dari doa istri Yang Mulia Daigo-lah yang lindungi tempat itu.
Tapi belakangan ini Asukara semakin kuat.
Menembakkan anak panah pada suruhan Daigo dan memata-matai dinding itu.
No comments yet. Be the first to leave one.