İlk 200 satır.
Hei, tunggu!
- Penabrak! - Dasar kalian!
Bajingan.
Sayang, kau hampir menabrak mereka.
Kau mau aku kembali dan menabrak mereka?
Omong-omong, kita dimana?
Kupikir kau yang memegang petanya.
Peta membuatku bosan.
Dan kini, laporan cuaca.
Pekan ini, tampaknya takkan ada awan...
...dengan suhu sekitar 15 °C.
Cuaca ini diperkirakan akan berlaku pekan ini.
Dan kini, bagian musik.
Aku tak suka awan di sini.
Mungkin sebaiknya kita menepi.
Dimana? Di gua terdekat?
- Ini luar biasa. - Apa?
Kau setuju, Sayang?
Astaga!
Ayolah.
Baik.
Ban sialan! Tak bisa jalan, ya?
Coba lagi.
Astaga! Baiklah.
- Astaga! - Hati-hati banyak lumpur, Sayang.
Astaga!
Ayah, jangan mengeluh. Ibu bilang tidak baik mengeluh.
Diam.
- Tapi ibu bilang... - Kini ibu tak di sini.
- Tapi... - Judith.
Rosemary.
"Mama Rosemary" untukmu.
Kau bukan ibuku.
Akhirnya.
Butuh bantuan di sini, Sayang.
Baik jika kau bisa mengangkatnya, jika tidak diam saja.
Sial.
Ayah.
- Akan kubunuh anak itu. - Jangan mengeluh.
Tampaknya badainya makin mengamuk.
Kurasa sebaiknya tinggalkan mobilnya dan berpencar.
- Jalan ini mungkin nanti akan banjir. - Kau mau aku berjalan?
Tidak jauh. Ikuti saja jalan setapaknya, lihat.
Sayang, mungkin ada kamar kosong.
Mungkin kita bisa ke sana sebelum hujan lagi.
Betapa bagusnya rencana liburan yang kau buat.
Tinggalkan benda itu di sini.
Teddy dan aku tak pernah dipisahkan. Kami teman baik.
- Ayo. - Tidak kali ini, Nak.
Kau akan berjalan lebih cepat jika sendiri.
Teddy akan membalasmu nanti.
Astaga!
- Sial! - Teddy!
Tidak!
Ayah.
Oh, Teddy.
Berhenti memikirkan mainan itu dan ayo pergi.
Apa yang menghambat kalian berdua?
Anakmu mengkhayal lagi.
Baiklah. Kali ini apa, Judy?
Hantu? Jembalang? Tuyul yang sedang mencuri?
Astaga, entah apa yang ibumu berikan saat kecil.
Astaga!
Lihat tempat itu.
Tidak seperti hotel bintang empat.
- Ayo, Nak. - Ayo!
Ketuk.
- Mungkin mereka pergi karena badai ini. - Mungkin.
Mungkin mereka tahu apa yang kita tak tahu.
Mungkin tempat ini sudah kebanjiran.
Mungkin mereka ke tempat yang lebih tinggi.
- Mungkin kita terjebak di sini! Mungkin... - Mungkin sebaiknya kau diam.
Apa?
Kubilang, mungkin mereka menutup tempat ini karena badai.
- Halo? - Ketuk lagi.
- Kita bisa lewat sini. - Itu namanya menyusup.
Siapa yang akan menahan kita di sini? Dracula?
Ayo.
- Ayo. - Tidak.
- Tanganmu. - Maaf.
- Mantelku basah. - Maaf.
Hati-hati.
Tampaknya ini gudang.
Seharusnya ada ceklikan di sekitar sini.
- Bagus. - Aku tadi ketakutan.
Apa yang kau lihat kali ini?
Kami memang senang ada pengunjung...
...tapi kami lebih suka jika mereka lewat pintu depan.
Tapi pintu depan terkunci dan tak ada yang membukanya.
- Dan kami kebasahan. - Oh, Anak malang.
Tak tahu kalau malam ini akan hujan?
Terkadang di sini hujan tiba-tiba.
Baiklah. Ayo naik. Kemari dan kita hangatkan kalian.
- Terima kasih. - Terima kasih banyak.
Ada apa? Takut akan kegelapan?
Tidak, tapi takut akan apa yang ada di kegelapan.
Dia selalu mengkhayal. Melihat sesuatu.
Imajinasimu masih aktif?
- Sepertinya. - Itu bagus.
Kalian datang ke rumah yang tepat.
Benar sekali.
Ayo kita ke dapur. Akan kami masakan sesuatu untuk kalian.
Rumah tua ini menjadi lembab saat hujan.
Wow!
Akan kuberi makan kau, lalu kau boleh melihat-lihat, ya?
Baik.
Ada apa, Sayangku?
Hanya imajinasiku.
Aku belum pernah melihat badai seburuk ini.
Ya, di sini badainya cukup kencang. Orang asing biasanya tak mengiranya.
Oleh karena itu kami selalu dapat pengunjung di sini.
Mereka biasanya takut akan hutan dan badai di sini.
- Tapi kami menyukainya, bukan, Sayangku? - Oh, ya.
Rumah ini cukup menarik untuk ditinggali.
- Kau bercanda. - Hilary dan aku... Dimana sopan santunku?
Aku Gabriel Hartwicke, dan dia istriku, Hilary.
David Bower. Ini istriku, Rosemary, dan putriku...
Judy.
Dia bukan ibu kandungku. Ibu kandungku tinggal di Boston.
Diam.
Ini akan menguatkan tulangmu, Sayang.
Kau memilih tempat yang aneh untuk berlibur./Memang.
Aneh, tapi kaya akan petualangan dan keindahan.
Bagaimana kalian bisa tahan dengan badainya?/Kami sudah terbiasa.
Badai di sini bagaikan keajaiban.
Tampaknya badai di sini bagai takkan pernah berhenti.
Bagai malam yang panjang.
Tepat, Sayangku. Malam terpanjang di dunia.
Anehnya.
Badai ini membuat kita menjadi kreatif. Serta membantuku bekerja.
Apa pekerjaanmu? Guna-guna?
Hampir benar.
Aku pembuat boneka. Aku membuat mainan terindah seperti:
Boneka, wayang, prajurit, ballerina.
Tapi kini, tampaknya orang-orang lebih memilih barang yang di produksi massal.
Tak ada yang mau boneka buatan tangan...
- ...yang dibuat oleh Pak Tua ini. - Aku mau.
Ya, aku yakin kau mau.
Judy, katakan, dari tadi sudah kuperhatikan.
Kau tak punya boneka. Tampaknya aneh bagiku.
Gadis kecil yang tak berboneka bagaikan belum utuh.
Aku punya Teddy saat aku keluar dari mobil, tapi...
Tapi sayangnya dia menjatuhkannya di hutan.
Aku menjatuhkannya di hutan.
Memalukan sekali. Tak bisa kugantikan boneka Teddy.
Tapi kuyakin kau akan ditemani boneka selagi kau di sini.
Boneka kesukaanku.
Aku menyukainya.
- Beri salam pada Tn. Punch. - Halo, Tn. Punch.
Rekannya Punch dulu juga bernama Judy. Sama sepertimu.
Kau dengar itu? Kita rekan.
Ayo, Tn. Punch. Kita beri makan kau.
Baik, Judy.
Astaga! Aku kebasahan!
Basah hingga ke dalam-dalam.
Astaga!
Hei. Perkenalkan kami. Namaku Ralph. Ralph Morris.
Gadis-gadis ini, mereka berjalan sehingga aku beri mereka tumpangan.
Memberi kami tumpangan?
- Mencoba kami, Ralph? - Mereka hanya bercanda.
Kuberi mereka tumpangan karena hujan, kalian tahu.
Kau mau "threesome"?
Tidak! Karena hujan dan kalian memakai pakaian seperti...
Tadinya kupikir...
Ada apa dengan yang kami kenakan?
- Duduklah, Ralph. - Terima kasih.
Namaku Gabriel, dan istriku, Hilary.
- David, Rosemary, dan Judy. - Dan Punch.
Astaga! Aku belum pernah melihat boneka seperti ini saat aku kecil.
Kau suka mainan?
Kau mau dimainkan, Ralphie?
Oh, ya! Maksudku, tidak.
Aku suka boneka saat aku kecil. Tapi, tentu, kini aku tidak suka.
Buktikan.
Ini Isabel dan aku Enid.
Kalian semua diterima menginap sampai badainya bluea.
Kenapa kau tidak tunjukkan kamarnya, Gabriel?
Baiklah. Akan kutunjukkan kamar kalian.
Sini, biar aku bantu.
Biar aku bawa.
Hei, tuan.
- Ralph. - Ralph, apa kau ketakutan?
Tentu tidak. Apa yang harus ditakuti?
- Rumah ini. - Jangan aneh.
Hanya satu kasur? Anaknya tidur dimana?
Ada kamar untuknya.
Ide bagus.
Ya. Kurasa kalian akan menyukainya.
Bagaimana menurutmu si Ralph itu?
Bagaimana menurutmu? Apa aku harus mencumbunya?
Tidak, Bodoh.
Maksudku, apa dia akan tertipu atau tidak?
Entahlah. Kurasa sebaiknya dilupakan saja.
Dengar.
Maksudku, bagaimana bisa kita mencuri dompetnya kalau ada banyak orang...
...dan dia berbeda kamarnya dengan kita?
Jangan khawatir.
Akan kudapatkan. Dan kunci mobilnya.
Tuan?
Tuan, tunggu.
No comments yet. Be the first to leave one.