İlk 144 satır.
Eh, hei, katanya dia sudah jadian dengan cowok yang dekat dengannya.
O-Oh...
Cowoknya keren, sih, bikin iri.
Iya.
Nina tertarik sama seseorang, tidak?
Eh?!
Lagian, kamu sendiri sama Jino bagaimana?
Jino?!
Terus dia tiba-tiba panik.
- Aku enggak pernah lihat mukanya begitu. - Hu-Hubunganku sama Jino bukan begitu!
Selain itu aku mau hidup cukup sama pedang saja!
Saingan si Anjing Gila memang beda.
Nina mana sempat mikirin asmara.
Si Anjing Gila masih seperti biasa.
Apa habis berlatih sama Gusti Dewa Pedang?
Heh, paling kamu enggak bakal bisa punya cowok!
Habiskan saja hidupmu sama pedang dan tetap jadi perawan!
A-Apa, sih?!
Maaf saja, tapi aku bukan gadis perawan!
Yang benar?! Sama siapa?!
Orang yang dari kecil dibesarkan bersamaku.
Rudeus itu sangat hebat!
Kami jadi petualang dan berjalan dari benua iblis sampai kampung halaman.
Dia juga bisa membalas serangan Orsted!
Bohong!
Aura tempur Dewa Naga itu hebat!
Kata Ayah, serangan biasa tidak akan bisa melukainya sedikit pun!
Aku tidak bohong, Rudeus itu bukan orang biasa.
Diriku yang sekarang tidak sebanding dengan Rudeus.
Aku harus jadi lebih kuat.
Mushoku Tensei: Jobless Reincarnation Season 3
Rudeus pasti cuma imajinasi Eris.
Rudeus?
Iya! Kalian pasti tidak pernah dengar ada petualang dengan nama itu, kan?!
Ah, kalau Rudeus si Ahli Rawa, dia terkenal di antara para petualang.
Eh?
Katanya berulang kali diajak gabung sama Stepped Leader yang itu.
Tempo hari katanya dia mengalahkan Naga Merah liar seorang diri.
Jago banget, ya?
Mengalahkan Naga Merah sendirian?!
Hebat amat.
Informasi soal petualang bernama Rudeus yang kuminta?
Oh, langsung terkumpul soalnya terkenal.
Eh, yang benar?!
Rudeus Greyrat, jadi penyihir tingkat Dewa Air di usia lima tahun.
Di usia tujuh tahun jadi guru privat Eris Boreas Greyrat di Wilayah Fittoa.
Setelahnya dia memang menghilang,
tapi belakangan mulai tenar jadi petualang dengan nama Rudeus si Ahli Rawa.
Saat ini diundang akademi sihir sebagai siswa khusus
dan tinggal di Kota Sihir, Sharia...
Jadi Rudeus bukan cuma pangeran dari imajinasi Eris?
Tunggu, prestasinya memang hebat, tapi dia cuma seorang petualang.
Mengalahkan Naga Merah sendirian terdengar cuma omong kosong.
Julukannya norak kayak "Ahli Rawa", bisa jadi aslinya tidak sehebat itu?
Oh, iya!
Tunggu saja, Eris!
Akan kukalahkan Rudeus dan kuseret dia sebagai budakku ke hadapanmu!
Penyihir ternyata banyak juga yang kekar.
Jadi Rudeus ada di sana?!
Terima kasih!
Rudeus?
Kau juga mau berduel dengan Rudeus?
I-Iya.
Apa Anda yang bernama Rudeus si Ahli Rawa?
Mohon terima duel lamaran dari saya.
Ah, anu, apa maksud Anda itu lamaran dengan berduel?
- yang sedang ramai akhir-akhir ini? - Jadi ini Rudeus?
Benar.
Badannya kelihatan cukup terlatih,
tapi tidak terasa ada ambisi atau semacamnya.
Mukanya oke, lah.
- Kisanak tidak berhak menolak! - Tapi, tidak ada daya tarik seorang pria.
Cocok sekali sama Eris.
Oke, biar kuhajar habis dia...
Mari bertarung dengan adil!
Artinya, saya yang menang, ya.
Penyihir bisa mengalahkan pendekar di jarak sedekat itu?
Tidak, kebetulan saja orang dari suku binatang tadi yang lemah.
Kamu yang di situ, aku sedang mencari penyihir bernama Rudeus.
Ada apa? Kau juga mau mengajaknya berduel, ya?
Eh? Iya.
Berarti antre di ujung belakang sana.
Antrean apa ini?! Apa sedang ada festival?!
Ini antrean untuk mengajukan duel pada Rudeus Greyrat!
Sebanyak ini?
Ada caranya tidak biar aku boleh diizinkan untuk duluan?
Berarti kalahkan dulu semua yang sudah mengantre!
Boleh itu! Aku suka!
Kalian semua seranglah aku sekarang!
Aku Badigadi si Raja Iblis Abadi.
Akan kuberikan gelar pahlawan bila berhasil mengalahkanku!
Jangan bercanda, woi!
Biar kuhajar sini!
E-Eh?
Jangan sombong dulu, hei!
Aduh, duh.
Baiklah, akan kumulai.
Iya, maju sini!
Raja iblis itu tumbang sekali serang?
Eris ingin jadi sebanding dengan orang itu?
Terima kasih sudah datang dari jauh-jauh sampai sini.
Perjalanan jauh pasti berat untuk lansia.
Dewa Air.
Benar sekali.
Tapi kau sampai mau menundukkan kepala padaku.
Saking mengejutkannya, aku jadi datang kemari.
Jadi, siapa dan apa yang harus kuajari?
Nina, izin untuk masuk.
Tenangkan dirimu.
Biar kuperkenalkan.
Nenek ini adalah Reida Lia, pemimpin aliran Dewa Air.
Lama tidak bersua, Nyonya Dewa Air.
Oh, Nina, ya. Kamu sudah besar.
Apa sudah jadi Ratu Pedang?
Ah, belum, masih jauh untuk saya.
Saya yakin bisa jadi yang tercepat,
tapi kalau yang terkuat itu bukan saya.
Eh, kamu ini! Ayo duduk, tidak sopan!
Eris, nenek ini mulai sekarang akan mengajarimu tetek bengek Aliran Dewa Air.
Tolong dibantu.
Seperti binatang liar saja.
Maaf saja, Nak Gal.
Aliran Dewa Air tidak cocok untuk anak gadis ini.
Aku juga tahu itu.
Terus apa yang harus kuajarkan?
Tidak usah kau ajari apa-apa, cukup jadi lawannya.
Oh...
Apa ini? Kau ingin menyuruh binatang ini membunuhku, ya?
Mana mungkin.
Buat apa membunuh nenek-nenek yang nanti juga mati sendiri.
Ya sudah, ayo beri tahu, kau ingin dia melawan siapa?
Eris yang di situ katanya ingin mengalahkan Dewa Naga Orsted.
Apa?! Dewa Naga?
Besar sekali targetnya.
Memang kau pikir dia bisa?
Menurutku bisa.
Kalau Eris yang melawan.
Itu baru menarik.
Tapi, maaf saja, aku tidak akan mau menghadapi orang tak berbakat.
Lawan dulu muridku, kalau sudah bisa menang telak, baru melawanku.
Sudah kudengar ceritanya.
Perkenalkan aku Isolde Cluel, tingkat Raja Air.
Mohon ingat aku untuk ke depannya.
Aku Nina Farion, tingkat Pedang Suci.
No comments yet. Be the first to leave one.