İlk 200 satır.
KING THE LAND
Siang. Selamat bekerja.
Pak Komisaris,
ada apa?
Sudah lama
kita tak berjumpa.
Apa kabar?
Kurasa orang yang tahu seluk-beluk
bagaimana aku diusir tak pantas menanyakannya.
Menurutmu,
aku akan bahagia
setelah anakku direnggut
dan menghilang bagai ditelan bumi?
Maafkan aku.
Aku tak berkuasa kala itu.
Tidak.
Meski hal itu terjadi sekarang,
kau akan lebih memilih perusahaan
karena…
begitulah sifatmu.
Tampaknya itu tradisi turun-temurun.
Kulihat kau menyingkirkannya diam-diam
ketika Won sedang pergi dinas
seperti aku dahulu.
Andai kau tak membentuk serikat pekerja,
hal itu tak akan terjadi.
Mana mungkin Ayah
merestui istri dirut yang memimpin dan memprovokasi pegawai
untuk melawan perusahaan?
Kau yang tak menepati janji.
Kau mengempaskan seluruh impian kita dan berpaling layaknya pengecut.
Itu demi menyelamatkan segalanya.
Tepatnya, kau membuang yang lebih mudah dibuang,
dan itu aku.
Alasan aku pergi tanpa berkutik
hanya satu,
yaitu demi Won.
Ayahmu menjadikan anak sekecil dia sebagai dalih,
lalu mengancamku
dan berjanji…
akan melindungi Won bila aku pergi.
Maka itu, aku pergi tanpa jejak
seakan-akan tak pernah terlahir ke dunia ini.
Aku…
selalu merasa bersalah soal itu.
Aku bukan ingin dengar permintaan maafmu.
Aku kemari untuk memperingatkanmu.
Berhenti memojokkan Won.
Bila kau tak berhenti,
aku pun tak akan tinggal diam.
Aku…
tidak bisa hidup sesuai keinginanku.
Apa kau…
sudah hidup sesuai keinginanmu?
Biarkan dia menjalani hidup yang dia inginkan.
Dukung dia agar bisa hidup
sesuai keingannya, bukan demi perusahaan atau keluarga.
Itulah tugas orang tua.
Membimbing anak ke jalan yang benar pun adalah tugas orang tua,
meski Won sendiri yang akan menentukan pilihannya.
Syukurlah…
kau membiarkan Won bebas memilih.
Aku pamit.
Kau tak berniat muncul di hadapan Won, 'kan?
Itu urusanku.
Hidupnya sudah tenteram.
Jangan buat dia bingung.
Ancaman macam itu sudah tidak mempan bagiku.
HOTEL KING
MANAJER UMUM, GU WON
Won.
Won.
Biar ibu bantu.
Ini…
namanya jam saku.
Jangan hilang, ya?
Ya.
Won.
Ini ibu.
Apa kau…
ingat ibu?
Ada perlu apa?
Ibu ingin minta maaf.
Maaf atas apa?
Ibu selalu takut…
tidak bisa melindungimu.
Walau terkesan berdalih,
ibu mengira
bahwa ibu harus pergi demi melindungimu.
Aku sudah dengar alasanmu pergi.
Meski tepatnya diusir.
Orang-orang Grup King…
ibarat gunung yang tak sanggup ibu daki.
Ibu pikir menghilang tanpa jejak
adalah cara paling tepat untuk melindungimu.
Akan tetapi,
penilaian ibu salah.
Padahal kau bisa tumbuh dewasa
dengan sendirinya
tanpa dilindungi siapa pun.
Kala itu,
kau juga masih seusiaku.
Wajar kau masih belum bisa bersikap dewasa.
Karena itu, kau mungkin takut.
Kini aku bisa agak maklum.
Maka,
tenang saja. Tak perlu merasa bersalah.
Kau sudah dewasa
sampai bisa memperhatikan…
dan membuat hati ibu tenang.
Aku tidak mengatakannya supaya kau tenang,
maupun berusaha memahamimu.
Aku hanya…
sudah memahami bagaimana rasanya ingin melindungi…
sesuatu yang berharga.
Maka itu, mulai kini, hiduplah sesuai keinginanmu.
Berhenti berupaya melindungi orang lain
ataupun bersembunyi demi aku.
Hiduplah demi dirimu sendiri.
Jangan…
maafkan ibu.
Apa pun alasannya,
ibu telah meninggalkanmu
dan membuatmu…
menderita.
Aku tidak pernah membencimu sekali pun.
Walau tak mengingatmu…
aku masih bisa merasakan
betapa besar kasihmu kepadaku.
Selama ini, aku berusaha tegar
dengan menanamkan pikiran
bahwa kau…
mustahil menelantarkanku dan hanya pergi sesaat
karena suatu alasan.
Terima kasih tak mengecewakanku.
Itu saja cukup.
Maafkan ibu
karena hanya bisa…
mengucapkan kata maaf.
Aku pamit dahulu.
Jaga dirimu.
Aku mencintaimu, Ibu.
Ibu juga.
EPISODE 15
Kemampuanmu masih sama.
Kapas wajah dan korek kuping harus selalu diisi 90 persen.
Aku selalu mengingatnya.
Dasar pintar.
Kita duduk dahulu sebentar.
Aku tak menyangka kita sampai harus mengelola sauna juga.
Kerja di sini berat sekali.
Namanya juga pengasingan.
Kita harus mengerjakan semua akibat kurang orang.
Hotel tak merekrut anak baru
karena akan segera tutup saat aku baru bekerja di sini.
Kini sudah lima tahun begitu terus.
Hotel ini akan ditutup?
Itu karena tamu dan pendapatan hotel terus menurun.
Setidaknya kita bisa bertahan berkat pesta pernikahan,
ulang tahun pertama bayi, dan ulang tahun lansia,
tetapi tampaknya masih sulit.
Padahal pesakitan seperti kita tak tahu harus ke mana jika hotel ini ditutup.
Padahal staf di sini baik dan bagai keluarga.
Sayang sekali kalau harus ditutup.
Maka itu, semua bekerja pantang mundur
demi mempertahankan hotel dengan cara apa pun.
Kita harus semangat.
Semangat!
Omong-omong,
apa kabar hubunganmu dengan Pak Gu?
Maksudmu?
Benar hubungan kalian baik?
Kau sudah lama di sini, tetapi kenapa dia tak pernah kemari?
Karena itu, orang-orang bergosip kalian sudah putus.
Dia memang sibuk.
Selamat datang, Pak Wang.
Kenapa belum makan? Kalian menungguku?
Silakan makan.
Selamat makan.
Aku sudah makan. Ini sudah lewat jam makan siang.
Jadi, niatku mengumpulkan kalian karena satu hal.
Kenapa kalian tak pakai jatah cuti?
Sisa cuti kalian tidak bisa diuangkan.
Lekas habiskan jatah cuti kalian hingga pertengahan tahun ini.
Kami tak bisa, bukan tak mau pakai jatah cuti.
Mana mungkin kami cuti saat kurang orang begini?
Jangan terlalu bekerja keras.
Lebih baik kalian bersiap cari pekerjaan baru
sebab hotel ini akan segera terjual.
Keputusannya sudah final?
Akan ada berita baik tak lama lagi.
Jadi, daripada menyia-nyiakan tenaga,
lebih baik kalian berusaha menambah poin di daftar riwayat hidup.
Pak Wang,
mohon maaf atas kelancanganku.
Bagaimana kalau kita bersama cari cara untuk menyelamatkan hotel?
Kenapa kalian buang-buang tenaga untuk hotel yang nyaris bangkrut ini?
Semua staf sudah berupaya maksimal
dan berkorban demi menyelamatkan hotel ini.
Bila kita bekerja sama…
No comments yet. Be the first to leave one.