İlk 193 satır.
Hari yang panjang.
Halo, Tuan.
Baik, Tuan.
Baiklah, Tuan.
Aku bisa bekerja minggu depan.
Bagus.
Kontrak di situs proyek lain baru saja selesai.
Terima kasih, Tuan.
Hei, Kawan, dengar.
Para gadis di sini mengkhayal tentangmu.
Kenapa kau tak mendekati salah satu dari mereka?
Tidak, mereka hanya mengganggu.
Kawan, jika aku diberkahi ketampanan sepertimu...
Aku pasti sudah meniduri banyak wanita di sini.
Silakan saja.
Jika kau menghamili seseorang, kaulah yang menderita.
Kau tahu kan gaji kita kecil sebagai buruh bangunan?
Nanti kau harus menghidupi satu mulut lagi.
Aku lebih baik fokus mencari uang dulu.
Tunggu dulu.
Ada orang meninggal di rumah Aling Mara.
Ayo kita berjudi di sana malam ini.
Mulai lagi kau, Banjo.
Kau tahu kita tidak pernah beruntung di sana.
Aku punya firasat kita akan beruntung malam ini.
Begitu juga katamu terakhir kali.
Ayolah.
Bukannya tiap hari ada orang mati.
Nikmati hidup sekali-kali.
Jangan habiskan seluruh waktumu untuk bekerja.
Ayo. Kita pergi.
Eh, Tuan.
Kita sudah sampai, Tuan.
Kita sampai.
Bagus.
Sudah kubilang.
Kita seharusnya tidak usah datang ke sini.
Kita pasti akan kehilangan semua uang kita di sini.
Jangan bersikap pesimis begitu.
Makanya kita selalu sial.
Kau tidak pernah berhenti mengomel.
Ayo, duduklah.
Akan kuurus.
Sungguh hidup yang sial.
Kocokan kartumu payah!
Kau payah sekali mengocok kartu!
Ayah memintaku memberikan ini padamu.
Beliau menyampaikan duka cita atas kepergian putramu.
Terima kasih banyak, Tuan Arnold.
Tolong sampaikan pada ayahmu...
Terima kasih atas ucapan belasungkawanya.
Sekali lagi, duka citaku.
Silakan, duduklah.
Hei, biarkan mereka duduk.
Tunggu, izinkan aku mengambil uangku.
Hei, Kawan.
Gadis itu,
adalah pacar salah satu pria paling berkuasa di sini.
Kau cari mati.
Kau mengincar pacarku, hah?
Kau tertarik padanya?
Tidak, Tuan.
Nyali juga kau.
Untunglah aku sedang berbaik hati.
Jadi akan kuberi kesempatan.
Mari bermain.
Jika aku menang,
aku akan menyuruh pengawal memukuli kalian.
Tapi...
Jika kau menang,
kubiarkan kau menghabiskan malam bersama Aliyah.
Arnold, apa yang kau lakukan?
Diamlah.
Pastikan kita menang.
Baiklah, kartu dibuka.
Kau kalah, Nak.
Bagus!
Sudah kubilang!
- Bagus! - Selamat, Bro!
Sudah kubilang.
Tuh kan? Kuduga juga apa.
Sesuai kataku.
Bikin Aliyah senang malam ini.
Nah, begitu!
- Sepertinya kau mau giliran juga. - Enyah kau dari sini!
Ayolah.
Masuk dulu ke rumah kami.
Masuklah.
Mari selesaikan ini agar aku bisa pergi.
Kau ini ada-ada saja.
Kenapa?
Bukankah itu kesepakatan kita?
Ya.
Tapi tenang saja.
Aku bukan tipe pria seperti itu.
Lagi pula,
aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau.
Meskipun...
Aku sudah lama menghayal tentang video seksmu dan Mariel.
Maaf.
Memalukan memang mengatakannya, tapi...
Aku benar-benar sering menghayalkannya.
Kau bisa tidur di kamar tidur.
Aku akan tidur di sofa.
Kau yakin?
Kenapa? Kau tidak percaya padaku?
Aku hanya tidak terbiasa.
Dari semua pria tempat Arnold menyerahkanku,
hanya kau yang tidak menginginkan apa pun dariku.
Istirahatlah sana.
Agar besok,
kau bisa kembali ke rumah peristirahatan Arnold.
Terima kasih.
Tunggu, kuberi sesuatu.
Ini, aku punya baju ganti untuk kaukenakan tidur.
Terima kasih.
Aku mau keluar sebentar menghirup udara segar.
Hei, Aliyah. Kau sudah bangun.
Mari.
Sarapanlah dulu sebelum kau pergi.
Nyenyak tidurmu semalam?
Tentu saja.
Maaf. Hanya ini yang bisa kuhidangkan.
Tidak apa-apa.
Sepertinya kau sangat suka telur dan terong.
Aku butuh tenaga untuk bekerja.
Kau tahu sendiri lah.
Aliyah, apa kau keluar kamar semalam?
Eh...
Tidak. Kenapa?
Eh...
Kira-kira...
Lupakanlah.
Mm.
Dennis.
Hmm?
Bolehkah aku tinggal di sini untuk sementara?
Apa?
Bolehkah aku tinggal di sini bersamamu?
Kumohon?
Tuan Arnold bisa marah.
Lagian Mariel sedang bersamanya.
Aku tahu dia sudah lama menginginkan Arnold.
Lagi pula...
Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan Arnold.
Aku muak dengan semua yang diperbuatnya padaku.
Dia terus memaksaku tidur dengan pria berbeda-beda.
Rasanya dia bahkan tidak menganggapku manusia.
Baiklah, kalau itu maumu.
Benarkah?
Kau sendiri yang bilang.
Terima kasih.
Ayo, kita makan.
Silakan, makanlah sepuasmu.
Aliyah?
Aliyah?
Aku cuma mau bilang...
Aku berangkat kerja.
Kau akan baik-baik saja sendirian di sini?
Ya, Dennis.
Hati-hati.
Baiklah.
Oh.
Dennis, kau masih di sini?
Eh...
Tidak, aku tadi... kembali.
Ada yang tertinggal.
Oh.
Baiklah, hati-hati.
Hati-hati di tempat kerja.
Mariel.
Apa ada kabar dari Aliyah?
Ada apa denganmu?
Aku yang ada di sini.
Tapi kau masih mencarinya?
Hei.
Apa kau lupa?
Kau sendiri yang setuju dengan kesepakatan ini.
Jadi kau tidak berhak cemburu.
Apa kelebihan Aliyah dibanding aku?
Kenapa kau masih terobsesi padanya?
Entahlah.
Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Begitulah kira-kira.
Lalu kenapa kau biarkan pria lain menidurinya?
Karena itu...
Justru semakin membuatku bergairah...
Menyadari pria lain telah menidurinya.
Rasanya...
Jauh lebih mendebarkan dan mengasyikkan!
Aku sudah sering meneleponnya.
Tapi dia tidak mau mengangkatnya.
Mungkin dia tidak mau kembali lagi.
No comments yet. Be the first to leave one.