İlk 200 satır.
(Semua karakter, organisasi, dan peristiwa dalam drama ini adalah fiktif.)
(Pengambilan gambar mengikuti panduan siaran untuk anak di bawah umur. Beberapa adegan menggunakan AI.)
Mau kabur lagi?
Jika kau mau kabur, lakukan yang benar,
agar kita tidak pernah harus bertemu seperti ini.
Ibu!
Anakku!
Ibu, itu pasti sangat berat.
Memang.
Gyeol terus bilang ingin melihatmu, jadi kubawa dia ke sini.
Apa semuanya baik-baik saja?
Ini, makanlah.
Kau tak perlu repot-repot.
Kau harus makan.
Aku pernah melihatnya di suatu tempat.
Siapa itu?
Di mana itu?
Aku sangat kenal wajah itu.
Ayo pergi, Sayang.
Sayang?
Sayang?
Ayo? Gyeol, ayo pergi.
Sayang, ayo.
Itu tadi dia, kan? Gyu Rim.
Aku tidak salah lihat, kan?
Bertahun-tahun mencarinya dan tidak ada jejak sama sekali,
dan sekarang dia ada di sini.
Untuk apa dia berada di kantor polisi?
Bukan itu masalahnya.
Dia memanggil pria berwajah mirip monyet itu "Sayang".
Jadi pria itu suaminya?
Dia sudah menikah juga?
Matanya pasti sudah rusak!
Bagaimana bisa dia meninggalkanmu demi pria seperti itu?
Lalu anak itu? Anaknya?
Itu sama sekali tidak masuk akal.
Tidak mungkin.
Jeong Woo.
Apa?
Setirkan aku.
Maaf. Apa aku mengejutkanmu?
Tidak perlu minta maaf, tapi ada apa ini?
Begini, itu...
Kurasa dia memanggilmu begitu agar pria itu tidak merendahkannya.
Begitukah?
Jika kau suaminya,
dia tak bisa dipermainkan dan dia punya tempat bersandar.
Tempat bersandar?
Begitukah?
Tapi bukan berarti aku menganggapmu cocok untuk Ibumu,
jadi jangan terlalu senang dulu.
- Gyeol, mulai hari ini tidak ada game. - Apa?
Dan kau,
meski dia memohon atau mengancam, jangan bawa dia ke tempat seperti ini.
Tempat ini jelas bukan tempat yang layak dikunjungi.
Lebih baik pastikan kau tidak pernah harus datang ke sini lagi.
Makanya, makan tahu ini yang benar,
dan jangan sampai berakhir di tempat seperti ini lagi. Paham?
Tidak ada game, sungguh?
Ya. Seharusnya sudah kilarang sejak dulu.
Kau bilang aku boleh bermain jika belajarku giat.
- Pokoknya, tidak ada game. - Di mana aku tahu pria itu?
Itu tidak adil.
Aku sangat kenal wajah itu.
Tidak ada game, dan itu sudah final.
- Ibu. - Aku tidak bisa mengingatnya.
Gyeol, cukup.
Tunggu aku!
- Tepikan mobilnya. - Apa?
Kubilang tepikan mobilnya.
Hei!
Kenapa kau hanya minta seratus ribu?
Jika kau mau mengambil uang, kenapa tidak minta seratus juta?
Apa harga diriku cuma bernilai seratus ribu dolar bagimu?
Apa yang kau bicarakan?
Kau bilang tidak akan kabur.
Kau berjanji tidak akan pernah kabur, bagaimanapun caranya.
Aku minta maaf.
Maaf? Kau minta maaf?
Apa kau tahu bagaimana aku hidup setelah kau menghilang?
Selama bertahun-tahun aku mencari ke setiap sudut bumi untukmu,
sampai separuh waras, hidup seperti orang gila!
Dan kau malah menikah, punya anak,
dan hidup dengan baik-baik saja?
- Mu Jin... - Jangan.
Bagaimana bisa kau mempermainkan seseorang seperti itu?
Siapa kau hingga berani mempermainkan orang?
Apa kau benar-benar pernah mencintaiku?
Apa kau masih manusia, wanita tak berhati?
Ayolah, Kawan.
Kau sudah benar-benar kehilangan akal.
Kim Mu Jin!
Aku akan jalan kaki sebentar.
Kau tidak sedang memikirkan hal bodoh, kan?
Sudah kubilang, masih banyak wanita di luar sana.
Aku akan kembali sebelum restoran buka untuk makan malam.
Betul! Itu dia. Pria itu.
Itu dia, kan?
Kau, di restoran itu sembilan tahun lalu.
Pria yang terus bilang menyukaimu...
Benar.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bukan, bukan dia.
Pria itu dan pria ini sama sekali tidak mirip.
Aku pasti salah orang.
- Heung Sik. - Ya?
Kenapa aktingmu buruk sekali?
Akting buruk? Aku? Sama sekali tidak.
Dia memang mirip, tapi itu bukan dia, kan?
Benar.
Aku tadi sempat bingung juga, jadi dia pasti salah orang.
Kenapa? Apa aktingku juga buruk?
Sedikit?
Percayalah padaku. Itu bukan dia.
Pemandangan yang bagus.
Kalian terlihat seperti sebuah keluarga.
Ayo pergi.
Tidakkah menyenangkan jika kalian bertiga hidup bersama seperti keluarga sungguhan?
Pemandangan yang indah. Jangan bergerak.
Berdirilah lebih dekat.
Itu terlihat bagus.
Bagaimana bisa kau hanya berdiri diam dan membiarkannya bicara?
Sudah cukup kubiarkan, tapi ini sudah keterlaluan.
Siapa yang kau kira sedang kau jodoh-jodohkan?
Bagaimana bisa Han Gyu Rim menjadi keluarga denganmu?
Gyu Yeong.
Apa yang dilakukan rubah itu di sini lagi?
Benar, kan?
Ini hanya harapan. Hanya sebuah harapan.
Apa aku bahkan tidak boleh mengucap harapan?
Ibu, sudah cukup.
Lalu kenapa harapanmu harus Han Gyu Rim?
Carilah di tempat lain.
Untuk wanita yang selevel dengan anakmu.
Di mana sopan santunmu pada orang yang lebih tua?
Kenapa memukulku? Apa aku salah?
Semua yang kukatakan itu benar.
Gyeol, katakan padanya.
Semua yang dia katakan itu benar.
Cukup benar untuk diganjar tamparan yang pas.
Gyeol, kau ini...
Gyeol-ku kelak harus jadi hakim. Pintar sekali.
Ada apa denganmu?
Dulu kau bilang Ibumu bahkan terlalu bagus untuk Kim Woo Bin,
dan sekarang dia malah terpikat pada pria benalu itu?
Apa? Kau baru saja memanggil anakku benalu?
Kau buntut rubah berumur seratus tahun.
Ibu, apa yang kau lakukan? Sudahlah.
Kau baru saja memanggilku buntut rubah?
Apa kau pernah melihatku bersikap seperti rubah?
Dan apa kau pernah melihat sebaliknya?
Apa kau pernah melihat anakku mencuri sebutir beras pun?
- Waktu itu... - Kemarilah.
Gyeol, sebaiknya kau juga jaga sikapmu.
Butuh sedetik saja untuk mengubah marga Han menjadi Cho, bocah sialan.
Tutup mulutmu. Bisa tidak kau tutup mulutmu?
Kenapa kau menyalahkanku?
Sekarang kau akan menjadi seorang Cho. Cho Gyeol.
Siapa yang mau menampung bocah sepertinya?
Jika kau berani membawa pulang gadis seperti itu,
aku akan gali lubang dan masuk ke dalam sana. Terserah kau.
Apa aku sudah gila? Berkencan dengan wanita sepertinya.
Aku harus menabur garam. Ambilkan aku garam.
Bahkan garam pun sayang untuknya. Cukup, hentikan.
Lepaskan. Kubilang itu sakit.
Sakit.
Itu sakit.
Itu benar-benar sakit.
Hanya mengandalkan tenaga tanpa pakai otak.
Aku jadi memar nanti.
- Ada apa denganmu? - Apa?
Kau hampir tidak pernah datang ke toko.
Bahkan jika kau mendengar ucapannya, kau harusnya pura-pura tidak dengar,
bersikap seolah tidak tahu apa-apa, dan langsung pergi.
Jadi kenapa hari ini kau malah masuk, cari ribut, dan memarahi semua orang?
Karena aku menolak menjadi keluarga dengan benalu itu.
Apa salahnya Heung Sik?
Sudah kubilang sampai berbusa.
Jika mencari pasangan, carilah yang setengah tingkat di atasmu.
Sepertinya kau sedang berhalusinasi.
Aku tidak sehebat itu.
Akulah yang menyedihkan, penuh kekurangan, dan kelas dua.
Heung Sik seribu kali, sejuta kali lebih baik dariku.
Lalu?
Maksudmu kau mau menikah dengan benalu itu?
Aku akan bersyukur jika dia mau menerimaku.
Apa kau sudah kehilangan akal?
Aku belum pernah sejelas ini dalam berpikir.
Apa ini karena benalu itu...
Pernah menolongmu di jalanan dulu hingga membuatmu tersentuh?
Kau juga pernah menyelamatkan ibunya saat pingsan, bukan?
Jadi bukankah itu membuat kalian buntung dan untung?
Tanpa mereka berdua, aku sudah mati bertahun-tahun lalu.
Lalu?
Apa kau benar-benar berencana pergi ke suatu tempat bersama mereka?
Aku sangat menentangnya.
Tidak ada yang memintamu menikah dengannya, jadi kenapa mencampuri hidupku?
Sejak kapan kau begitu peduli padaku?
Aku khawatir kalian semua ikut merusak hidupku.
Aku mohon pada kalian,
saat kuperkenalkan kau sebagai keluargaku, meski aku tak bisa bangga padamu,
No comments yet. Be the first to leave one.