İlk 200 satır.
EPISODE 16
Apa yang Ibu tertawakan?
Tadi nenekmu ke sini dan menceritakan hal yang lucu.
Cerita apa?
Lelucon dewasa. Kau tak akan mengerti.
Biar aku yang menentukan bisa memahaminya atau tidak.
Ya?
Ini cerita mengenai kenalan nenekmu.
Bukan cerita yang baik. Lebih baik tak tahu.
Cukup ibu saja yang tahu.
Mari menikah.
Menikahlah denganku.
Aku tak bercanda.
Kau pasti tak sedang bercanda sekarang.
Jalan saja.
Kau tak cocok dengan Profesor Park dalam berbagai hal.
Kau mengajakku menikah karena aku tak cocok dengan Profesor Park?
- Bukan begitu. - Kami berkomunikasi dengan baik.
Sifatnya membuatku tertarik.
Kalau begitu, perasaanmu kepadanya bukan cinta.
Kita pun tak saling mencintai.
Kau tahu itu bohong.
Jangan sangkal kebenarannya.
Apakah putus dengan seseorang yang kau sukai menyenangkan bagimu?
Cinta tak sesederhana itu.
Itu sudah berlalu.
- Aku tak peduli. - Kau yakin?
Aku tak ingin berdebat denganmu.
Bukan waktu yang tepat juga.
VOLUME
Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Anda akan dialihkan…
Silakan dimakan, Ibu.
Yu-sin, ruang tamu terlihat berkilau, 'kan?
Setelah dibersihkan dengan penyedot debu, aku mengepelnya sendiri.
Pasti pakai alat pel.
Ya. Alat pel manual.
Kucuci dua kali dengan mesin cuci.
Sarung bantal pun kuganti.
Orang-orang mencuci dengan tangan dulu.
Apa sulitnya menggunakan mesin?
Harus diambil dan dikibas dulu…
- Itu mahal… - Bisa dicuci.
Jangan terlalu dimarahi. Pembantu tak datang?
Karena mahal, aku akan mencucinya di penatu.
Sudah lama pembantu tak datang.
Kata Ibu tak perlu karena ada dua wanita di sini.
Aku membersihkan kamar Ibu dengan sangat saksama.
- Panggil dia. - Biar ibu yang urus.
Kau pikirkan masalah rumah sakit saja.
Aku tidur dengan sangat nyenyak karena lakukan pekerjaan rumah seharian.
Seharian apanya?
Cuci piring bekas sarapan
- dan makan siang. - Mesin yang mencucinya.
Apa piring bisa masuk ke mesin sendiri?
Harus dilap, dimasukkan, dan dikeluarkan satu per satu, lalu disimpan.
Lalu mencuci pakaian.
Secepat apa pun aku bekerja, bersih-bersih butuh setidaknya tiga jam.
Membersihkan bak mandi, melipat cucian kering,
- belanja bulanan, makan malam - Aku yang masak…
Namun, aku yang mencuci, membersihkan, dan memotong.
Panci besar harus dicuci dengan tangan secara terpisah.
Stroberi ini juga dicuci dengan air mengalir satu per satu.
Hari berjalan sangat cepat belakangan ini.
Meski tak bisa baca buku,
aku tetap bahagia.
Panggil pembantu.
Kita membantu mereka dengan memanggil dan menggaji.
- Dia tetap dapat gaji. - Digaji, tapi tak dipanggil?
Kenapa? Agar aku mengerjakan pekerjaan rumah?
Maksudku,
agar Ibu bisa mengajariku?
Kurasa itu tak benar.
Apa masuk akal menggajinya, tapi tak dipanggil sama sekali?
Suruh ke sini mulai besok.
Aku menyiapkan teh barli untukmu.
Aku membuat bubur juga.
Aku ingin sendirian.
Kurasa ibu dan ayahku…
mengikutiku ke sini.
Mereka pasti di sini.
Baiklah.
Kau sudah menyemayamkan mereka?
Pimpinan bilang ingin menyarap di Hotel Shimseong.
Baik.
Tolong minta Gyeong-suk menyiapkan bekal untuk piknik.
- Sekarang? - Antar ke kantor sebelum pukul 11.00.
- Untuk dua orang. - Baik.
Tak perlu menyiapkan anggur. Biar aku saja.
Baik.
Ya.
Aku tak enak badan.
Jalang licik.
Ya, Ayah.
- Ibu. - Ya?
Ayah akan segera sampai untuk menyenangkan kita.
Katanya mau menyarap di sini.
Bukankah kehadiran Ayah saja sudah menyenangkan kita?
Itu pasti Ayah.
- Selamat datang, Ayah. - Terima kasih.
Aroma minyak yang menggiurkan.
- Halo. - Ya.
- Guacamole? - Ya.
Sudah lama tak makan.
- Bagaimana Ayah mau menyenangkan kami? - Setelah makan. Perlu tenaga lebih.
Ayah selalu menyenangkan.
- Bukankah begitu, Ibu? - Ya.
Ibu, akhirnya berhasil?
- Ya. - Apa?
Adonan ini setipis kertas.
- Kurasa ini tembus pandang. - Benar juga.
- Apa rahasianya? - Kasih sayang.
Tak mungkin. Pasti ada rahasianya.
Tak akan beri tahu.
Aku bukan menantu, tapi anak Ibu. Tolong beri tahu aku rahasianya.
Nanti.
Diajarkan pun tanganmu belum bisa menurut.
Enak sekali.
Lebih enak dibungkus panekuk gandum daripada nacho.
- Setuju. - Teksturnya juga bagus.
- Mau kerja sambilan? - Kerja apa?
Aku datang tiap hari untuk menyarap.
- Akan kubayar. - Setuju!
Bukan kau yang memasak.
Kita hanya perlu menambah satu sendok dan mendapatkan uang.
- Aneh jika tak mau. - Benar.
Bisa bertemu Ayah juga. Ayah sungguh berhati besar.
Tentu karena mencintai Ibu.
Apa hanya ibumu?
Aku tahu bahwa aku ada di peringkat kedua.
Tak ada urutan dalam cinta.
Bagaimana Ayah akan menyenangkan kami? Beri uang jajan?
Uang jajan dan yang lainnya.
Ayah akan mengantarmu ke sekolah mulai sekarang.
- Bisa? - Ayah tak akan berenang pagi.
- Tak perlu. - Ji-a lebih penting daripada olahraga.
Antar Ji-a saja. Sarapan terlalu merepotkan.
Hanya nasi dingin, kecap asin, dan udang kering pun tak apa.
Ini membuatmu senang, 'kan?
Melebihi itu.
- Ibu sudah berubah? - Apanya?
Ibu selalu mencium Ayah saat seperti itu.
- Di pipi Ayah. - Kita sedang makan.
Ini.
Ada istrimu.
Kau boleh mengantar Ji-a, tapi tak boleh menyarap di rumahku.
Kau tak nyaman?
Meskipun hanya menyarap?
Ya. Aku tak nyaman dan risi.
Seharusnya kau cukup puas bisa bertemu Ji-a setiap menginginkannya.
Keserakahan bisa mendatangkan bencana.
Aku memang sudah menderita.
Mau kuberi tahu Ji-a?
Dia pasti tak akan mau bertemu denganmu.
Kau mau itu?
Aku sudah banyak mengalah. Jangan menguji kesabaranku lagi.
Kau tertarik dengan Pak Seo yang sudah tua
hanya karena dia anak pimpinan SF Electronics?
Ternyata kau materialistis juga.
Apa dia lebih baik daripada aku?
Baiklah.
- Segar, 'kan? - Kau lebih beruntung daripada aku.
Pimpinan bahkan memandikanmu.
Ya, Ayah.
Jika lihat di drama, orang-orang berendam di bak mandi dengan gelembung.
Kalian tak punya? Padahal ada bak mandi di sini.
- Ada. - Jangan beri tahu istriku.
Ada di mana? Beri tahu ayah.
Apa suamiku pergi jalan-jalan?
Mungkin ada di kamar mandi.
Sejak tadi?
Apa dia sakit perut?
- Bu So! - Rupanya sakit perut.
Kau makan terlalu banyak tadi pagi.
Kau tak sakit perut?
Lepaskan pakaianmu.
Pakaianku? Kenapa?
Biar kumandikan.
Siapa? Aku?
Ya. Aku akan memberimu layanan spesial.
Biar kubantu.
Ada apa denganmu?
Kau iri dengan Dongmi.
Kau berlebihan sekali!
Aku sudah menambahkan gelembung. Berendamlah.
- Apa kau gila? - Ya, aku sudah gila.
Tak enak dilihat Song Yuan.
Apa kita orang asing? Kita pasangan suami istri.
Jangan aneh-aneh.
- Mau kucakar? - Terserah.
Dicakar lima kali pun tak masalah.
Astaga. Ada-ada saja.
Anggaplah sebagai kenangan.
Kenangan cinta.
Bagaimana dengan kenangan ini?
- Aku akan mengeramasimu. - Aduh.
- Jangan. - Boo Hye-ryung datang ke sini.
- Siapa? - Hye-ryung.
- Dia pikir kita senang melihatnya? - Tak salah dengar?
Halo.
Aku tahu kalian tak senang bertemu denganku,
No comments yet. Be the first to leave one.