İlk 200 satır.
Sebelumnya di Vikings.
Para Dewa menginginkanmu mendapatkan masa depan cerah.
Hidup, Earl Ragnar!
Hidup, Earl Ragnar!
Bagaimana kita bisa setara sekarang, Adikku?
Aku mengandung lagi.
Aku tahu kau lelaki, putraku.
Kita harus pergi dari sini. Mereka akan mengucilkan kita.
Takkan ada yang memaksamu untuk pergi.
Mereka takkan berani.
Aku sudah menjadi pejuang seumur hidupku.
Kumohon, Tuan,
berikan aku kesempatan mati terhormat di medan tempur.
Mari kita ajak dia.
Ya!
Apakah kaum pagan ini bukan manusia seperti kita?
Apakah mereka tak berdarah saat terluka?
Mari persiapkan diri untuk bertahan.
Mereka tak diterima di kerajaanku.
Menyingkir! Ayo!
Menyingkir!
Saudaraku!
Saudaraku! Di mana dirimu?
Aethelwulf?
Syukurlah kau datang.
Kenapa kau kira aku tak datang, Tuanku?
Aku tak pernah meragukanmu. Tapi yang lainnya...
Adik bungsu kita kabur ke Mercia.
Dia selalu yang paling pengecut.
Orangtua kita seharusnya menenggelamkannya saat lahir.
Di mana kaum kafir itu?
Hanya satu, mungkin dua hari hingga mereka tiba.
Pasukanmu sudah siap?
Ya, jika kau siap memimpinnya.
Itu merupakan kehormatan, Tuan,
untuk membela kerajaanmu dan tanah lahir kita.
Tak ada yang lebih baik, Tuan Aethelwulf.
Para penyair bersyair memuji pertempuranmu
di istana.
Itu karena aku membayar mereka.
Jika kau membayar mereka, mereka juga akan memujimu.
Itulah inti syair!
Ratuku, berdoalah, kau tak punya waktu untuk tertawa?
Tidak, Tuanku Aethelwulf, hanya rasa takut.
Berapa lama lagi hingga mereka tiba?
Secepatnya.
Kuharap begitu.
Aku tak sabar menanti Valhalla.
"Skandinavia"
Selamat siang, Semuanya. Ada masalah apa?
Masalahnya dia!
Apa yang dia lakukan?
Dia memegang seorang anak, bocah yang dia gendong.
Ada apa dengannya?
Dia bukan anakku.
Kami bertahun-tahun berusaha mendapatkan anak,
tapi selalu gagal.
Kemudian setahun lalu,
seorang pemuda datang ke rumah kami.
Aku ingat hari itu sedang membuat alat tenun.
Pemuda itu bilang namanya Rig.
Dia memberikan nasihat bagus mengenai pekerjaan kami
dan menginap di rumah kami.
Dia pergi setelah tiga hari,...
...sembilan bulan kemudian, dia melahirkan putraku.
Anak siapa ini?
Aku tak tahu, Tuan Putri.
Kami tidur di satu ranjang.
Aku terlalu takut.
Dia wanita pembohong.
Dia bercinta dengan Rig
dan tak bisa mengatakan yang sejujurnya kepadaku!
Kau tahu siapa Rig ini?
Tidak. Dia hanya pemuda saja.
Sebaliknya.
Kita tahu dari kisah leluhur kita...
...bahwa Rig adalah nama lain untuk Heimdal.
Dewa Heimdal?
Tuan Putri!
Ya, Dewa Heimdal!
Kau beruntung
dia memilih untuk muncul di rumahmu.
Itu hanya kisah!
Hidup kita berdasarkan kisah.
Kau seharusnya malu karena tak memercayai istrimu,
walaupun dia telah memberikan kebahagiaan dan kenyamanan bagimu,
serta fakta Dewa memilihmu
untuk dikunjungi.
Jangan menghukumnya, tapi bersyukurlah dengannya.
Minum anggur dengannya.
Korbankan salah satu hewanmu
bagi Dewa Heimdal.
Tapi jika kudengar kau menyakiti wanita ini,
atau anak ini,
kau akan menghadap aku!
Sepertinya mereka ingin bertahan di sini sesaat.
Aku tak menyangka.
Tuanku, kenapa kita tak menyerang?
Posisi mereka lebih kuat.
Jika kita bisa membuat mereka meninggalkan posisi
dan menyerang mereka.
Bagaimana cara kita melakukannya?
Mereka pemulung, tak lebih dari hewan buas.
Kita seharusnya bisa memperdaya mereka.
Jika kita biarkan lebih lama,
pertahanan mereka akan lebih kuat.
Tuanku, jika serigala mendatangi dombamu,
kau tak perlu memperdayainya lagi.
Kau harus mengusirnya
- atau membunuhnya! - Kau berani menentangku?
Tuan Aethelwulf, maafkan kami. Kami hanya bermaksud...
Aku mengerti.
Kau sudah merasa sebagai pejuang yang lebih hebat dibanding aku,
walaupun kau masih pemula
seperti bayi.
Lakukan tugasmu. Dirikan kemah.
Kau melihat mereka di atas sana?
Ya, aku bisa melihatnya.
Apa yang kita tunggu?
Untuk melihat langkah mereka.
Kau mau mereka bergerak duluan.
Kita tak bisa kehilangan setengah pasukan kita
dengan bertindak bodoh dan menyerang.
Kita tunggu sampai posisi kita unggul.
Bangun! Kita diserang!
- Ambil senjata kalian! - Bangun!
Lari!
Odin!
Mereka menyerang kita! Senjata!
Tuanku, kita diserang!
Amin.
Siapa kau?
Aku Tuan Aethelwulf, saudara Raja Aelle.
Kau saudara sang raja,
tapi kau memimpin pasukannya?
Apakah dia mengirimmu untuk semua pertarungannya?
Di tempat tidur juga?
Ragnar!
Lihatlah!
Besi mereka lebih kuat dan baik dibanding kita.
Kita juga sudah menangkap selusin kuda mereka.
Aku lapar!
Kau kenapa, Kawan?
Dewa tak mau mengangkat kutukanku.
Aku ditakdirkan terus hidup di dunia menyedihkan ini.
Siapa ini?
Ini?
Ini saudara raja.
Bagaimana menurutmu?
Apakah kita perlu mengunjungi raja?
Tuhan, bantu kami!
Saudaraku kalah. Tewas.
Tuhan, tolong Northumbria.
Tuan, kita tak tahu apakah adikmu sudah tewas.
Tapi kami tahu, Tuan, bahwa dia kalah!
Siapakah orang barbar dan biadab ini?
Kenapa mereka kemari dan menyiksa kita?
Tuan, beberapa pria terdidik dan bijaksana
bilang orang-orang Utara ini dikirim oleh Tuhan
untuk menghukum rakyat kita
untuk semua dosa dan pelanggaran mereka.
Bahwa kita telah menyimpang dari jalan kebenaran
yang telah ditetapkan oleh Tuhan,
jadi, sekarang dia memberikan hukumannya.
Maafkan aku, Yang Mulia,
tapi bagaimana jika Tuhan tidak mengirim orang Utara kemari
untuk menghukum kita?
Lalu siapa yang mengirim mereka?
Tuan, bukankah
ini mungkin perbuatan setan?
Kalau begitu apa saranmu?
Saranku adalah
karena kita menghadapi kekuatan setan,
kita harus melawan mereka sekuat tenaga.
Bahkan jika mengorbankan nyawa kita semua,
jika diperlukan.
Karena setan tak bisa diajak berdamai
ataupun menyetujuinya.
Ya!
Tuan, bolehkah aku bicara?
Aku yakin
bahwa para pagan ini kemari
atas keinginan mereka sendiri
dan mereka bukan kiriman Tuhan ataupun setan.
Mereka hanya biadab saja,
lebih tertarik untuk merampok dan menjarah
dibanding mementingkan kejiwaan.
Lalu apa saranmu?
Tuan, karena mereka kemari untuk mendapat keuntungan,
maka kita tawarkan uang secukupnya
atau apa pun yang mereka inginkan,
agar mereka pergi dan tak mengganggu kita lagi!
Memalukan!
Dia benar!
Buat apa mengorbankan nyawa lagi?
Kita bayar saja mereka!
Tuanku,
biar kupikirkan dulu.
Untuk sementara waktu, perlu diketahui
aku mengirim utusan untuk menambah jumlah pasukan
No comments yet. Be the first to leave one.