İlk 153 satır.
Genya!
Yamiyo wo kakenukete doko e mukau Ke mana aku harus berlari dalam gelapnya malam?
Tsukiakari dake ga tada hitotsu no michishirube Satu-satunya pemandu hanyalah sinar rembulan
Itami mo kanashimi mo nuguikirezu Aku tak bisa hapus rasa sakit serta kepedihan
Saredo kono mune no honoo wa kesasenai Namun, aku tak akan biarkan kobar api dalam hatiku mati
Ta ga tame ni boku tachi wa kono omoi wo tsuranuite Untuk siapa kita harus emban kehendak ini?
Yami wo saki hi no shita de hikari sasu hi made Haruskah kita emban hingga sinar mentari menyingkap kegelapan?
Tokihanatareta kokoro ni yadoshita hi yo Dengan diselimuti api yang menyala dari hati yang bebas
Maiage matoe ima yoake no mukou gawa e Aku melesat jauh, dan kini, bisa melewati fajar
Kimi ga iru kono sekai mou ichido aiseru made Sampai aku bisa cintai dunia ini tempat kau berada sekali lagi
Wa ga inochi hateyou to mo tsunagete yukou Akan aku teruskan meski harus meregang nyawa
Kizuna ga tsumuide umareta kiseki wo Sambung keajaiban yang lahir dari ikatan batin yang kita jalin
Bukankah Kau Ingin Menjadi Pilar?
Episode 6
Genya?
Apa-apaan tebasan itu tadi?
Tak bisa pulih!
Seranganku mempan.
Sakit sekali seperti terbakar!
Diam! Kau memalukan!
Meski perlahan, kita bisa pulih!
Aku tak tahu keadaan Genya sekarang, tetapi aku tahu dia berhasil memenggalnya.
Kemungkinan, meski empat- empatnya dipenggal bersamaan,
mereka tak langsung kalah seperti Gyutaro dan adiknya.
Menyerang iblis empat emosi ini bisa dibilang nyaris sia-sia.
Nezuko!
Nezuko!
Nezuko!
Ada hal yang selalu terpikirkan olehku.
Apa mungkin kelemahannya bukan di lehernya?
Bau yang sesaat itu membuatku merasa tak nyaman.
Ya, itu adalah
bau sosok yang kelima.
Ada sosok iblis yang kelima.
Harus kutemukan.
Pastilah kepala iblis kelima itu...
Jangan sombong kau!
Akulah yang akan mengalahkan Iblis Tingkat Atas!
Genya.
Yang mengalahkan Iblis Tingkat Enam Atas bukanlah kekuatanmu sendiri!
Karena itulah kau tak bisa menjadi Pilar!
Ah, ya, itu memang benar.
Sebelum kau, akulah yang akan...
Genya, kau mengiler. Apa yang terjadi?
Kau juga mencekikku.
Akulah yang akan menjadi Pilar!
Begitu, ya? Baik, aku mengerti.
Aku dan Nezuko akan mendukungmu sekuat tenaga!
Ayo berjuang bersama-sama bertiga!
Harusnya ada iblis kelima.
Biar aku cari. Tolong ulur waktu untukku.
Aku tahu rencana busukmu!
Kau mau membuatku lengah agar...
Awas!
Si Iblis Marah sudah bangkit.
Kami harus bergegas.
Genya!
Akan kuberi tahu begitu aku temukan iblis kelima.
Tolong tahan iblis itu sebentar!
Mereka semua sudah pulih.
Hati-hati untuk tak menyerang Nezuko.
Dia adik perempuanku.
Di mana iblis yang kelima?
Aku harus menemukannya selagi Nezuko dan Genya menahan mereka.
Tunggu, ini...
Bau belerang mata air panas terempas berkat angin si Iblis Kipas.
Cari dia!
Konsentrasi!
Aku akan baik-baik saja. Mereka tak bisa menemukanku.
Aku akan baik-baik saja.
Si Empat Emosi itu akan mengalahkan orang jahatnya.
Ketemu!
Ketemu! Ketemu! Aku menemukannya!
Genya!
Urogi!
Lurus ke timur laut!
Iblis kelima sembunyi rendah di atas tanah!
Genya!
Pergilah! Aku urus mereka!
Timur laut!
Gawat! Dia akan mengeluarkan petir.
Nezuko, bantu Genya!
Jangan biarkan si Iblis Petir menghalangi Genya!
Jangan sampai terempas!
Aku tak boleh menjauh dari sini!
Celaka! Serangan petirnya akan datang!
Nezuko!
Sesak, ya?
Pasti sesak sekali.
Sama saja, sia-sia.
Tak hanya sia-sia dalam menggunakan ilmu napas,
sebentar lagi kau akan mati kehabisan napas di situ.
Melihat wajah orang yang menderita sungguh nikmat sekali!
Memberiku ide, seolah kreativitasku mengalir deras!
Jangan melawan.
Perlawananmu membuatku sedih.
Sekido.
Aku tahu.
Tahan saja dia...
Bocah itu...
Gerakannya menjadi lebih cepat.
Tidak, bahkan sejak pertama bertemu, dia lebih kuat daripada cerita beliau.
Dia punya refleks yang luar biasa dan cepat beradaptasi dalam pertempuran.
Dia tumbuh secara drastis di saat-saat genting!
Gawat.
Karaku! Karaku!
Diam di situ, Bocah!
Bagus, sisanya tinggal bocah dengan timah panas...
Aku kena tebas.
Bocah bedebah!
Genya!
Belok kanan! Dia ke arah selatan!
Cari dia!
Aku sedang cari, nih! Dari tadi aku mencarinya!
Jurus iblis, ya?
Apa aku tak bisa lihat karena suatu jurus iblis?
Sial! Sial! Sial! Di mana dia?
Jika makin lama, malah aku yang jadi kehabisan tenaga.
Ke arah barat!
Agak ke kanan! Posisimu dekat! Di bawah!
Di mana?
Di...
Genya, lihat bawah!
Kecil banget!
Terlalu kecil! Itu tubuh utamanya?
Si kerdil ini?
Berengsek! Makanya susah banget dicarinya!
Ini sih seukuran tikus sawah.
Empat sosok itu kuatnya kelewatan.
Dan si kerdil ini yang mengendalikan mereka?
Kami harus memburu tikus selagi melawan mereka berempat?
Merepotkan banget, sialan!
Pantas saja anggota-anggota korps bisa dikalahkan dengan mudah.
Yang benar saja, dasar bajingan licik!
Kau membuatku jengkel!
Kena kau! Aku menang!
Aku... Aku gagal? Tak bisa kutebas!
Mana mungkin! Mustahil!
Padahal lehernya cuma setebal jemari!
Tak mempan!
Celaka! Aku terlalu makan waktu.
Tak sempat menghindar.
Aku bisa mati.
Aku tak bisa memulihkan kepala.
Abang.
Aku ingin menjadi Pilar supaya Abang mau mengakuiku.
Dan aku ingin minta maaf soal waktu itu.
Ibuku memiliki tubuh yang kecil.
Tak butuh waktu lama sampai tinggi badanku menyusulnya.
Ibu bekerja dari pagi hingga malam.
Aku tak pernah melihatnya tidur.
Ayah memiliki tubuh yang besar, tetapi dia sampah masyarakat.
Orang-orang membencinya, hingga akhirnya dia ditikam sampai mati.
No comments yet. Be the first to leave one.