İlk 200 satır.
Laba-laba kecil.
Harimau putih?
Kata sandi salah!
Laba-laba kecil.
Tunggu.
Pendongeng kita telah tiba.
Masuk.
Kau sudah menemukan buku harian nenekmu?
Sudah ditemukan atau tidak?
Keluarkan dia dari grup dan kita ubah kata sandinya.
Baiklah. Jika aku tidak diinginkan. Aku akan pergi.
Legenda Bramaraksasa!
Hei, buka cepat.
Tunggu. Aku juga ikut.
Mulai.
Dahulu kala
di suatu tempat yang jauh.
Ada sebuah hutan.
Di dalam hutan itu,
ada sebuah desa.
Kamarottu.
Hei.
Kami sudah tahu Kamarottu Bramaraksasa.
Ini bukan cerita itu.
Cerita yang lebih besar.
Cerita yang lebih besar dari itu?
Hebat.
Cepat. Mulailah membaca.
Orang-orang takut memasuki Kamarottu.
Tidak ada yang berani meninggalkan rumah.
Anak-anak takut untuk melangkah keluar dan bermain-main.
Dan suatu hari.
Hantu muncul.
Hantu?
Siapa nama hantu itu?
Penerjemah: zahrahh87 Telegram: @zahrahh87
Duduklah, sayang. Kau bisa jatuh.
Ya?
Kapan aku bisa membawamu ke sirkus di sini?
Setelah kembali ke Bangalore,
kita semua akan pergi bersama.
Ya?
Tidak.
Jangan begitu.
Aku membelikanmu es krim.
Aku membelikanmu balon.
Lupakan.
Siapa yang paling kau suka di sirkus?
Aku tak mau bilang.
Aku tahu.
Mau aku bilang?
Pelawak.
Apa kata pelawak itu?
Kau harus tertawa.
Kau harus tertawa.
Kau harus tertawa terbahak-bahak.
Lebih keras.
Kau tidak apa-apa, sayang?
Apa yang terjadi?
Ibu! Apa yang terjadi?
Tunggu lima menit.
Ya?
Ini akan...
Sayang, tidak apa-apa.
Sialan!
Sayang. Tunggu sebentar.
Aku akan segera mengambil kuncinya.
Lihat aku.
Lihat aku.
Sampai aku kembali,
tutup saja matamu dan duduklah dengan tenang.
Aku mendapatkan kuncinya.
Sekarang kita bisa pergi.
Saudara, klakson.
Saudara, bunyikan klakson.
Klakson.
Bunyikan klakson.
Apa kau tuli?
Apa-apaan ini?
Saudara. Jangan buka pintunya.
Kau akan bergelinding menuruni bukit.
Andai tidak naik mobil ini,
aku pasti sudah sampai di rumah.
Mulai sekarang, kau harus terus bergulir.
Kau tahu harga 1 liter bensin?
6 rupee.
Solar?
3 rupee.
Tidak ada lagi orang yang akan beli mobil.
Lebih baik naik gerobak sapi seperti sebelumnya.
Hiya! Hiya! Hiya!
Hiya!
Saudara!
Kita hampir sampai.
Begitu aku menghentikan mobil...
Kawan.
...kau bisa turun dan muntah sesukamu.
Tunggu sebentar. Kita hampir sampai.
Istriku Fatima juga seperti ini.
Muntah dimana-mana.
Sekarang dia hamil lima bulan.
- Sekarang dia hamil lima bulan. - Sial.
Berapa anak Pakru?
- Delapan, kan? - Bu. Berikan kamera itu.
Terakhir kali ketika kita di sini,
anak yang ketujuh lahir.
Tidak, kak.
Anak kesebelas.
Sudah 4 tahun sejak terakhir kali kau berkunjung.
Bagaimana kau bisa mengharapkan aku untuk duduk diam?
Sebelas anak!?
Apa kau sedang membuat tim kriket?
Kau mau jadi wasitnya?
- Munna! - Hanya aku yang tahu apa yang akan aku lalui.
Senyum!
Panna.
Bisa jaga sikap?
Berhenti mengganggunya.
Dia muntah sepanjang perjalanan, ibu.
Hei.
Aku menyimpan kotak kacamataku di lemari.
Ambilkan itu.
- Viswanath! - Aku memberikannya pada kakak.
Hei, apa ini?
Mohan Chandra?
Aparna.
Senang melihat kalian.
Aku tidak menyangka kalian sudah besar.
Bukankah sudah 11-12 tahun?
Kakak.
Hei, apa ini Eknath?
Kecuali perut ini, semuanya masih sama seperti sebelumnya.
Kau bersinar
seperti pengantin.
Ini pernikahan putrimu atau pernikahanmu?
Kapan pernikahannya?
Kakak!
Aku ingin menanyakan padamu sebelum menetapkan tanggal.
Apa anak itu dari kasta kita?
Tidak, kak.
Anak dari mitra pabrik tekstilku.
Kami sudah lama menjodohkannya.
Kakak. Kau menjadi lebih gemuk.
Berapa lama kau tinggal di sini?
Kakak.
Kami berencana mengadakan pernikahan di sini.
Di candi mana?
Di rumah Kamarottu.
Bahkan kami bisa tinggal di sana sampai pernikahan selesai.
Hei! Vishwanath, kau sudah gila?
Tidakkah kau tahu tentang rumah itu?
Kakak.
Ayah dan ibu,
sangat ingin melihat pernikahan Panna.
Di mana lagi bisa diadakan?
Paling tidak,
aku ingin mengadakan pernikahan di rumah.
Bertahun-tahun kau pergi,
kau tidak memikirkan ini?
Setiap kali ada maksud baik,
ayahku dan ayahmu
selalu saling mendukung.
Demikian pula,
pernikahan ini hanya bisa terjadi berkatmu.
Itu sebabnya aku datang meminta persetujuan.
Ya! Persetujuan!
Jika kau tidak menghormati kata-kataku,
kenapa perlu persetujuanku?
Eknath!
Berikan dia kuncinya.
Vishwanath!
Kakak benar.
jika kau memang ingin tinggal di rumah itu,
maka sebelum membuka kunci, mari kita melakukan puja.
Sebelum itu, kalian bisa tinggal di sini.
Baik.
Kakak.
Di mana Shaku?
Diamlah.
Pergi cari tahu sendiri.
Datang untuk persetujuan.
Eknath,
kakak dan iparmu masih saling mendiamkan?
Tidak.
Tapi kenapa paman dan bibi tidak saling berbicara?
Shaku
memiliki seorang putra.
Sanju adalah biji matanya.
Suatu hari dia mencuri permata dewa dan
kakak memukulnya dengan tongkat.
Kemudian menyuruhnya mendapatkan kembali permata itu.
Hari itu Sanju pergi
dan tak pernah kembali.
Sejak itu kakak dan
kakak ipar saling mendiamkan.
Sudah 28 tahun.
Surat!
Kakak.
Sepertinya akan turun hujan.
Suruh Maila memindahkan semua pinang
No comments yet. Be the first to leave one.