İlk 170 satır.
Aku begadang semalam sebelum dunia yang kukenal runtuh berantakan.
Cepat!
Kamu tidak apa-apa, Hisashi?
Dasar bodoh!
Tapi!
Tidak! Pergi!
Re—
Rei!
Hisashi!
Lihat itu?
Kamu harus memukul kepala mereka supaya mereka berhenti.
Rei! Hisashi! Lewat sini! Cepat!
Baik!
Sial...
Apa-apaan ini?!
Sebenarnya apa yang terjadi?!
Fureta Genjitsukan Nakushita mama de
Saat perlahan aku kehilangan pijakan pada kenyataan,
Gareki no Youni Tsumikasanaru
emosiku menumpuk bagai reruntuhan berserakan
Kono Kanshou wa Doko e Yuku
Ke mana perginya semua perasaan itu?
Tsuieta Kioku Kakae
Sambil membawa kenangan yang telah hancur,
Akai Ame o Harai Hashitta Muchuu ni
aku berlari menembus hujan darah tanpa sadar diri
Kuzureta Kanjou no Hate ni
Setelah semua perasaanku tumpah ruah,
Nani o Miru
apa yang akan kulihat?
Nani ga Aru
Apa yang akan kumiliki?
Mada Shiranai
Aku masih belum tahu
Hakanai Subete no Minori wa
Namun dalam keheningan ini,
Tada Muon ni Me no Mae ni
semua hasil sesaat dari semua itu
Hirogari Tsudzuketa
terhampar tanpa akhir di hadapanku
Aku akan jadi istrimu, Takashi!
Beneran? Beneran serius?
Iya! Ayo kita janji kelingking!
Kenapa kamu tinggal kelas?
Kamu kan murid bernilai A semua.
Kamu memang tidak ngerti-ngerti, Takashi.
Kita sekelas lagi. Asyik juga.
Janji kelingking...
Sumpah mati, kalau bohong ditusuk jarum di mata...
Kamu bodoh, ya?
Takagi...
Kamu selalu lari ke tempat yang sama tiap kali ada masalah.
Kayak anak kecil aja kamu.
Ini baru awal semester.
Kalau terus bolos, kamu bisa kena kelas tambahan atau lebih parah lagi, tinggal kelas.
Halah, siapa juga yang ngomong.
Jam pelajaran kelima belum selesai, tapi kamu udah di sini.
Tidak masalah aku bolos, kan aku jenius.
Kalau kamu, bisa masuk sini aja karena keajaiban.
Hei, Takagi...
Kenapa sih kamu selalu—
Aku benci orang bodoh.
Aku paling benci yang tidak sadar kalau dirinya bodoh.
Untungnya, kamu bukan salah satunya.
Jadi, kalau aku terus bilang kamu bodoh, mungkin kamu bisa jadi tidak sebodoh itu.
Bodoh.
Apa?
Semua ini gara-gara cinta masa kecilmu mutusin kamu?
Bodoh banget.
Soal Takashi...
Dulu aku memang suka sama dia, tapi dia tidak pernah sadar, jadi...
Terus? Terus kenapa?
Siapa itu?
Dia kelihatan aneh.
Permisi, tapi menurutmu kamu lagi ngapain?
Hentikan itu!
Sudah, sudah, Bu Hayashi.
Biar aku yang urus dia.
Hei!
Waduh, Pak Tejima!
Jangan main kekerasan...
D-Dia sudah mati...
Tidak mungkin...
Itu cuma gigitan...
Bapak tidak apa-apa, Pak Tejima?
Pak Tejima!
Syukur—
Komuro!
Tidak bisa apa cuma bolos aja? Kamu harus ganggu suasana belajar orang lain juga!
Ayo, kita keluar dari sini.
A-Apa?
Ada apa ini, Takashi?
Ada orang yang baru saja terbunuh di gerbang sekolah. Terlalu berbahaya kalau kita tetap di sini.
Serius?
Memangnya apa untungnya buatku kalau aku bohong soal ini?
Mundur!
Aku tidak pernah ngerti apa yang kamu pikirkan—
A—
Diam dan dengarkan!
Jadi, kamu mau kasih tahu kami apa yang terjadi?
Ada seseorang di gerbang sekolah.
Waktu guru-guru olahraga pergi memeriksanya, terjadi sesuatu.
Dan sekarang guru-guru olahraga itu saling bunuh.
Masa kami harus percaya itu?
Kenapa? Ada yang ketinggalan?
Kalau yang kamu bilang itu benar, kita butuh senjata.
Ini, Rei.
Kalau kamu?
Aku memang tidak kelihatan begini, tapi aku pemegang sabuk hitam karate.
Pokoknya, ayo kita pergi dari sini.
Biar aku telepon polisi. Ayahku seorang polisi.
Peraturan memang dibuat untuk dilanggar, kan?
Tidak mungkin...
Ada apa?
Mohon tunggu dan hubungi kembali nanti.
Saluran darurat polisi sedang sibuk saat ini.
Mohon tunggu dan hubungi kembali nanti.
Saluran teleponnya sibuk? Tidak mungkin...
Perhatian untuk seluruh siswa!
Telah terjadi kekacauan kekerasan di area sekolah!
Siswa diharap segera mengungsi dari area sekolah sesuai arahan guru masing-masing.
Sekali lagi.
Telah terjadi kekacauan kekerasan di area sekolah!
Akhirnya mereka sadar juga.
Siswa diharap segera mengungsi dari area sekolah—
Tidak mungkin...
Tolong! Selamatkan aku!
Hirano.
Takagi...
Kita pergi dari sini.
Tidak! Tolong!
Minggir!
Lewat sini!
Kita tidak lari keluar?
Semua orang lari keluar dari ruang kelas.
Kita akan kabur lewat ruang tata usaha!
Hisashi selalu benar. Turuti saja kata-katanya.
Aku tahu!
Bukannya itu guru Bahasa Jepang Modern kita, Pak Wakisaka?
Awas! Dia—
Tidak! Pergi!
Rei! Tusuk dia!
Jangan ragu! Lakukan saja!
Tidak!
Jangan macam-macam sama anggota Klub Sojutsu!
Baiklah!
Tidak mungkin!
Aku sudah menusuk jantungnya!
Kenapa dia masih bergerak?!
Cabut sekarang!
Menjauhlah darinya, Hisashi!
Tenang saja. Aku bisa mengatasinya.
Kenapa dia kuat sekali?
Lepaskan Hisashi, sialan!
Hisashi!
Kenapa?
Kenapa dia belum juga lepas?!
Sudah kuduga...
Dia sudah mati.
Dia sudah mati tapi masih bergerak!
Hisashi!
Tolong dia, Takashi!
Bukannya kamu ini laki-laki?!
Pokoknya...
Lakukan sesuatu!
Kamu tidak apa-apa, Hisashi?
Ini cuma luka gores. Tidak perlu dikhawatirkan.
Tidak! Jangan gigit aku!
Kita tidak bisa hadapi mereka semua sendirian.
Naik ke atap.
No comments yet. Be the first to leave one.