Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
182 dòng đầu tiên.
SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS
-Gua tahu lu gak punya nyali. -Elu kali!
Ayo, Bro.
Dan di sisi sebelah sana,
-ada juara bertahan kita -Dan juga jagoan dari Bojong Soang!
Hanya orang yang gak bisa ngaceng, bisa ngapain aja tanpa takut mati.
Kemarin ada anak tolol seusiamu, dah mati.
Mau tahan lama, burungnya digosok odol.
Tahan, ya.
Kadang-kadang, laki-laki itu memang otaknya di burungnya.
Jadi ingat bapakmu.
Iwan Angsa? Ia bukan bapakku.
Katanya, kamu itu anaknya kok.
Apa yang kau tahu darinya?
Ia itu mau kamu sembuh.
Malam itu, diam-diam burungmu diolesi sambal.
Ia tak pernah bercerita kepada aku.
Lah, ia tidak mau terlihat tolol.
Sekali-sekali balas,
olesi pakai sirup.
Biar sekalian dirubung semut.
Heh.
Jangan digigit.
Biar gak berantakan. Langsung telan.
Itu takkan berguna, Mak.
Sesukamulah.
Buka.
Tahan.
Mau sembuh apa tidak?
Mau, Mak.
Aduh.
Tidak ada yang lebih menghina pelacur,
kecuali burung yang tidak bisa berdiri.
Pulang sana.
Bulan depan balik lagi.
Kalau ada uang.
- -Janda yang mana?
Itu, yang suaminya digebukin sama anak buah Pak Lebe.
Karena gak bisa bayar kontrakan, atau gak beres tunggakan bandeng?
Awalnya sih, urusan bandeng. Tapi, Pak Lebe kegatalan sama istri orang.
Pak Lebe sengaja bikin si suami ngutang.
Si suami gak bisa bayar?
Si istri dipakai sama Pak Lebe.
Enaknya jadi perempuan, anunya bisa dipakai buat bayar hutang.
Dasar, Lonte!
Eh Jo, burungmu apa kabar?
Uh!
Ketololan apalagi ini yang ada di otaknya?
Ia tidak akan berhenti, sampai burungnya bangun lagi.
Oh, sungguh sia-sia.
Yah, tidak ada yang sia-sia di mata Tuhan.
Diam kau, sok tahu.
Dan jangan kau bawa-bawa Tuhan dalam masalah ini.
Aku tidak suka dia mati sia-sia.
Minimal dia harus dibayar,
biar bisa bayar ongkos rumah sakitnya sendiri.
Dibayar atau tidak, aku ingin berkelahi.
Kau tahu, di mana aku bisa menemukan Pak Lebe?
Hmm!
Hei! Ada urusan apa?
Aku mencari Pak Lebe.
Ia sibuk. Sampaikan saja padaku, apa urusanmu!
Aku tidak berurusan dengan perempuan.
Kutarik kata-kataku, aku mau berurusan dengan perempuan.
Bosmu itu seorang bajingan.
Aku tahu. Dia membunuh suami orang, lalu menghamili istri orang itu.
Dan kau masih melindunginya?
Hei gila, mau lari ke mana kau?
Karena dengan Tangan Kosong, mereka membayarku.
Kau sama bajingannya.
Aku menerima pekerjaan ini sebelum aku tahu siapa dia sebenarnya.
Ah!
Senang jika kau mau mengejarnya.
Tapi kau harus membuatku ambruk, karena aku dibayar untuk tidak berkhianat.
Eh tolol, mau mati?
Aku mencari Pak Lebe.
Aku Pak Lebe, kau siapa?
Aku Ajo Kawir, setan dari neraka.
Kau mau apa?
Ah, Iteung, Iteung!
Tak usah kau teriak-teriak. Gadis itu sudah sekarat.
Kau kenali wajahku ya, jika kau ingin membuat perhitungan denganku.
Bagus. Sebagai tanda kesepakatan, aku mau minta sesuatu darimu.
Apa? Mau apa?
- -
Aku punya obat Tiongkok, kau bisa minum itu.
Iwan Angsa.
Masa sih, kau takut menghadapi dia.
Aku gak takut.
Aku cuma gak tertarik menerima tawaran ini.
Aku punya istri dan anak untuk dipelihara.
Ini yang terakhir kalinya saya minta bantuanmu.
Karena saya butuh seseorang untuk menghentikan si Macan.
Aku tobat. Aku tak mau lagi berkelahi.
Aku benci mengatakan ini,
tapi mungkin ada seorang bocah yang akan tertarik menerima tawaranmu.
Ya, katakan sajalah.
Namanya Ajo Kawir. Panggilannya Ajo.
Aku menemukannya sewaktu bayi di pinggir kebon pisang.
Bocah yang menarik.
Ia mungkin tak perlu duitmu.
Tapi, ia pasti akan senang
memiliki alasan untuk berkelahi.
Itu bagus.
Jika ia menolak,
urusan kita selesai di sini.
Itu yang membuat saya senang
karena kau selalu memberikan solusi.
Solusi.
-Maaf, Dik. -Ah?
-Apa adik ini yang namanya Ajo Kawir? -He'eh.
Kenalkan, Paman Gembul.
Oh? Jadi, kau yang namanya Paman Gembul?
Maaf, aku tak tertarik. Tak tertarik berkelahi.
Dah, aku gak mau kelahi.
Ajo Kawir gak mau kelahi?
Sudah budek aku.
Jatuh cinta itu.
Siapa namanya?
Sok tahu.
Kalau kau tak mau aku tahu, sebut dia dalam hati.
Bisa, kan?
Eh?
Siapa namanya?
Siapa namanya?
-Iteung. -Iteung.
- -
Jantungmu, dag dig dug lebih kencang.
Peredaran kan jadi lebih lancar.
Jatuh cinta itu!
Apalagi rasanya?
Hangat-hangat manis.
Dari seorang gadis bernama Iteung
kepada Bang Jagoan dari Bojong Soang. Salamnya,
"Eh Jagoan, masih ingat aku? Ini aku yang waktu itu."
"Minggu lalu, kau berhutang obat Tiongkok denganku."
Ayo Bang Jagoan, semangat!
Buat kalian berdua yang penuh warna di dalam kalbu,
kukirimkan sekuntum rindu.
Aku tak tahu kau bekerja di sini.
Ini pekerjaan baru. Aku berhenti bekerja dengan Pak Lebe.
Oh.
Kamu, maksudku, kau tampak jauh lebih nyaman.
Aku menimatinya. Dan kamu boleh panggil aku, kamu.
Bagaimana lukamu? Sudah sembuh semua?
Sudah. Tapi rasanya masih membekas.
Rasa apa?
Hangat-hangat manis.
Bagaimana dengan lukamu?
Tak ada yang serius.
Kau petarung hebat.
Iteung, woi. Udah malam.
Diam kau, setan. Kau bukan ibuku.
Santai saja, tidak usah teriak-teriak!
Santai saja, tidak usah teriak-teriak.
Santai saja, tidak usah teriak-teriak.
Santai saja, tidak usah teriak-teriak.
Santai saja, tidak usah teriak-teriak.
Terima kasih, tapi aku belum memberi bagianmu.
Tidak usah.
Esok-esok saja.
Burung.
Kau harus bangun!
Kau tak perlu lagi mencarikan kerjaan untukku.
Kau tak bisa pergi begitu saja dariku, Iteung.
Tangan Kosong menyelamatkan hidupmu.
Aku tak berhutang pada siapa pun.
Ayahku membayar lunas uang masuk perguruan ini.
Kau membutuhkanku, Iteung.
Itu anggapanmu selama ini.
Kau salah.
[instrumental "Rayuan Pulau Kelapa" diputar di radio]
Jatuh cinta seperti penyakit.
Tak bisa ditolak, bagai kilat, bagai geledek.
Cinta merupakan sesuatu yang tak terelakkan.
Terima kasih kiriman lagunya. Dari Nona Iteung
yang semoga tetap tabah dalam hidupnya, ya. Baiklah…
Orang bisa mati kalau gak tidur.
Aku tak peduli.
Temuilah dia.
Minimal kau balas lagu-lagunya.
Katakan kau mencintainya atau semacamnya.
No comments yet. Be the first to leave one.