Corner Office

Corner Office

Tải xuống Phụ đề Indonesian

Thông tin phát hành

Corner-Office-2022-WEBRip-x264-AAC-[YTS MX]
Bình luận bởi rhaindesign

Tags

webdl
Được xuất bản vào: 2024-08-18
Lượt tải xuống: 105
Khiếm thính: No

Xem trước phụ đề Indonesian

200 dòng đầu tiên.

Pada hari setelah salju pertama turun,

Kuparkir mobil di tempat parkir dan membawa barangku masuk.

Seperti hari pertama sekolah.

Aku cemas, tentu saja, tapi juga penuh harapan.

Bisa kulihat dunia jadi tidak menyenangkan, membayangi,

atau aku bisa memilih melihat cahaya.

Kupilih melihat cahaya.

Wanita di resepsionis tersenyum.

Ada sesuatu dengan dia.

Aku tahu aku sudah datang ke tempat yang tepat.

Lift ke kanan.

Aku terbiasa jadi pemimpin dalam pekerjaan terakhirku.

Bukan manajer atau bahkan pemimpin tim,

tapi orang yang kadang mengarahkan pekerjaan.

Aku bertekad membangun posisi yang sama di tempat kerja baruku

secepat mungkin.

Akhirnya, aku bisa mengembangkan potensiku sepenuhnya...

jadi orang yang selalu kuinginkan.

Seseorang yang harus diperhitungkan.

Aku tahu harus buat platform untuk diriku sendiri

dan menunjukkan kemampuan pada bos sejak hari pertama.

Aku berbagi meja dengan Rakesh,

yang membantuku dengan berbagai detail praktis.

Begitu cara kerja mesin kopi.

Kukira itu istirahat menyengkan dari pekerjaan,

karena dia selalu mengajari hal-hal baru

yang harus kutahu.

Karet gelang.

Di sini penjepit kertas.

Dan di sini tempat pensil.

Beginilah cara tirai bekerja.

Aku tiba 15 menit lebih awal setiap pagi,

kemudian mengikuti jadwalku untuk sisa hari.

Lima puluh lima menit kerja terkonsentrasi,

dilanjutkan dengan istirahat lima menit.

Pasti aku akan cepat beradaptasi

dan segera menuju kesuksesan.

Perlahan tapi pasti, aku membangun profil

dari tetangga terdekatku,

karakter mereka, dan posisi dalam hirarki.

Shannon di perusahaan lebih lama dari Rakesh,

meski tak selama Carol.

Carol tampak berpengetahuan luas,

tapi juga tipe orang yang mengira dia tahu segalanya

dan sok tahu.

Shanon, dengar,

kau periksa apa yang tertulis di sini, kan?

Shannon tipe orang yang menertawakan segalanya,

bahkan saat apa pun yang baru saja dikatakan...

- Benar. - ...sama sekali tak lucu.

Karena dikatakan demikian. Aku mengerti.

Bisa jelaskan padaku?

Semua orang menghadap ke Carol saat mereka tak berani dekati bos.

Di seberang Carol duduk Mitchell.

- Buka pintunya. - Dia di sana lebih lama

- dari semua yang lain... - Hati-hati.

- tapi bagaimana dia berhasil... - Buka pintunya dengan hati-hati,

- di sebelah kanan akan kau temukan... - ...sangat jelas.

Ya, payung.

Carol punya gambar anaknya di bingkai dekat komputer.

Menunjukkan matahari tenggelam ke laut,

tapi gambarnya salah.

Di cakrawala, ada daratan

mencuat di kedua sisi matahari,

tentu saja, mustahil.

Aku penasaran apakah dia menyadari ketidakakuratan yang mencolok itu.

Bisa kubantu?

Mungkin dia dibutakan oleh keterlibatan emosionalnya.

Tak peduli apapun keadaannya,

anak itu pantas disadarkan akan kesalahannya,

agar kesalahan bisa dihindari di lain waktu.

Mau kopi?

Baik.

Masa jabatan lama Mitchell

sayangnya, tidak membuatnya aman.

Dia tampak selalu dalam ketakutan fana.

Kau dengar soal PHK?

Aku mengikuti jadwal dan tidak membiarkan diriku

terganggu di tengah periode itu

dengan obrolan ringan atau rehat kopi.

Terkadang aku mau pipis setelah lima menit

tapi selalu memastikan kembali duduk sepanjang waktu.

Itu pembentukan karakter,

dan membuat lega karena akhirnya mengurangi tekanan

yang jauh lebih besar.

Aku ke sana saat pertama kali menemukan ruangan itu.

Bau apek menusuk hidungku,

tapi aku tak ingat terlalu memikirkannya.

Ruangan.

Di penghujung hari, aku hampir lupa

pernah mengintip pintu yang mengarah ke ruang tambahan itu.

Beberapa hari kemudian, aku mencari kertas fotokopi.

Terlepas dari semua desakan untuk bertanya soal berbagai hal,

Aku tak mau mengekspos diriku pada penghinaan dan cemoohan

dengan menunjukkan celah dalam pengetahuanku soal pengaturan.

Di tempat terakhir aku bekerja, ada kebijakan ketat

mengenai penggunaan perlengkapan kantor.

Terpikir olehku menyembunyikan kertas di tempat yang tak terduga

mungkin strategi untuk hindari pemborosan.

Awalnya, aku tak bisa menemukan lampu.

Kuraba dinding di kedua sisi pintu, lalu menyerah.

Sungguh tempat yang aneh untuk meletakkan saklar lampu.

Aku dengan cepat bisa memastikan tak ada kertas di sana,

tapi, aku langsung merasakan

Ada sesuatu yang istimewa dengan tempat ini.

Aku keluar,

menutup pintu...

dan matikan lampu.

Kubuka pintu lagi,

cuma untuk memastikan lampu sudah tak menyala di sana.

Setiap orang memiliki tembok kecil,

atau pembatas, antara meja...

dan kita tidak.

Aku memintanya beberapa waktu lalu, tapi ada penghematan.

Tak masalah.

Tak ada yang kita sembunyikan.

Kita mencoba memikirkan lantai.

Tentu.

Tentu saja.

Aku kesal karena tidak memikirkan penutup sepatuku.

Jelas, akan kulakukan, jika punya waktu.

Andrew berhasil membuatku merasa bodoh dan risih,

padahal, aku salah satu yang terpintar di sana.

Bukankah orang biasa memberi ucapan semacam itu dengan lelucon

atau sedikit tersenyum?

Selain itu, tak sopan langsung pergi begitu saja.

Aku beralasan periode 55 menit ini sudah rusak.

Aku harus duduk di luar

dan mulai lagi dengan yang berikutnya.

Ini tugas sederhana untuk melepaskan yang rusak

dan menggantinya dengan yang baru.

Aku heran tak ada yang melakukan apa-apa

pada masalah yang begitu sederhana.

Jika dipadukan dengan cambangnya yang panjang

dan lingkaran di bawah matanya,

Jaket Rakesh memberi kesan berantakan yang tak biasa.

Jujur, jaketnya menggangguku

sejak pagi tadi,

bahkan sebelum masalah penutup sepatu itu.

Aku sungguh tak suka jaketnya.

Aku harus lakukan sesuatu untuk jernihkan pikiranku.

Saat itulah aku masuk ruangan untuk ketiga kalinya.

Setelanku lebih pas dari perkiraanku,

dan ada cara untuk menggantungnya

yang membuat tubuhku terlihat jantan.

Aku terlihat sangat santai,

sekaligus percaya diri dan sadar.

Aku tak pernah menganggap diriku menarik,

tapi aku menyadari sudah waktunya mulai melakukannya...

karena yang terbaik adalah tatapan mata.

Ini aset baru.

Sepasang mata yang bisa menuntut apapun

dan meraihnya.

Rakesh melakukan tugasnya

dengan sikap santai yang sama

seperti orang lain.

Pakai telepon sesukanya,

istirahat kapan pun dia mau.

Dia akan berlama-lama melamun

yang tampaknya tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Sesekali, dia bahkan mencoba ngobrol denganku.

- Apa yang terjadi? - Aku akan menolaknya,

dengan lembut tapi tegas,

biasanya dengan isyarat tangan yang sederhana.

Itu berhasil.

Rakesh punya kebiasaan menjengkelkan mendorong kertas-kertasnya ke mejanya

setiap kali dia memulai sesuatu yang baru,

yang berarti pada akhirnya,

mungkin tidak hari ini, mungkin tidak besok,

tapi suatu hari,

Desktop Rakesh akan meluap.

Rakesh.

- Ya? - Punya waktu sebentar?

- Ya, tentu. - Lihat di sekitarmu.

Apa yang kau lihat?

- Aku tidak tahu. - Kita harus segera mengurus ini.

- Dengan apa? - Sebelum ini lepas kendali,

Aku mau kau dengar. Kurasa kau akan mengerti perkataanku.

Ayo jalan-jalan.

Baik.

- Ya. Baiklah. - Ya. Ayo.

Akan lebih baik menangani ini secara pribadi.

Ada sesuatu yang kuperhatikan.

Apa?

Kau tidak mengembalikan berkas lamamu

setiap kali kau ambil berkas baru.

- Tunggu, apa maksudmu? - Maksudku...

Kau membiarkan semua berkasmu

menyebar ke seluruh mejamu.

Sekarang, itu ada di sampingku,

kemudian itu akan merambah ruangku.

Pasti kau mengerti,

aku sangat ingin memanfaatkan ruang penuh mejaku.

Ya.

Cukup merepotkan kita harus bekerja

tanpa sedikit privasi.

Seberapa sulit memasang sekat sederhana?

Benar.

Tapi jangan khawatir. Itu bukan masalahmu.

Aku cuma minta kau menerima beberapa kebiasaan baru

Bình luận

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left