Preman Pensiun

Preman Pensiun

Tải xuống Phụ đề Indonesian

Thông tin phát hành

Preman Pensiun 2019 NF WEB-DL
Bình luận bởi Putra14
Netflix Retail.

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
Được xuất bản vào: 2020-08-09
Lượt tải xuống: 28
Khiếm thính: No

Xem trước phụ đề Indonesian

184 dòng đầu tiên.

Kita dipertemukan oleh bisnis.

Bisnis, yang oleh Kang Bahar, disebut sebagai

bisnis yang bagus, tapi bukan bisnis yang baik.

Bisnis yang sudah lama ada,

jauh sebelum Kang Bahar ada di dalamnya.

Dan masih tetap akan ada

sampai jauh setelah kita meninggalkannya.

Kita sudah pergi.

Kita boleh menengok ke belakang untuk melihat sejarah dan belajar,

bukan untuk kembali.

Ingat.

Ketika kita akan berubah,

tidak serta-merta jalan menjadi mudah.

Kita akan menempuh masa sulit dan rasa sakit.

Kita harus bekerja keras

dan berhasil.

Kita buktikan pada Kang Bahar yang sudah tenang di sana.

Di sini, kita punya bisnis yang bagus

dan juga bisnis yang baik.

Ini... pertemuan... terakhir.

Hei, jangan lari!

Hei, jangan lari!

Hei!

- Hei! -

- Jangan lari! Hei! -

Hei!

Kang, bangun!

Bangun! Sudah siang!

Kang!

- -

- Jam berapa sekarang? - Jam 06.30.

Jam 06.30 itu masih pagi.

Sudah siang.

Kalau si Neng bertemu gurunya sekarang,

dia akan bilang, "Selamat pagi," bukan "Selamat siang."

Masa?

Kalau tidak percaya, ya sudah.

Percaya.

Tunggu...

- Kopi. - Gosok gigi dahulu!

Kopi itu enaknya justru sebelum gosok gigi.

Jorok!

- Asalamualaikum. - Walaikumsalam.

- Ada apa? - Laporan.

Duduk.

Penjualan kicimpring kita semakin minim, Kang.

Dahulu, saat brownies kukus muncul,

banyak yang mau. Ramai.

Tapi, kemudian biasa lagi. Cenderung sepi.

Lalu, keripik pedas muncul. Banyak yang mau. Ramai.

Tapi, kemudian biasa lagi. Cenderung sepi.

Lalu, kita menjual kicimpring...

Banyak yang mau. Ramai.

- Sekarang... - Sepi, Kang.

Iya, sepi.

- Lalu, bagaimana, Kang? - Apanya yang bagaimana?

Kalau penjualan kicimpring semakin lama semakin sepi,

mungkin nanti terpaksa tutup.

Bisnis kicimpring ini harus dipertahankan sebisanya.

Jangan sampai tutup!

Sebab banyak orang

yang nafkah keluarganya datang dari sini.

Kang Mus, kopinya ditaruh di dalam atau di sini?

Saya tadi menyuruh istri saya.

Ini buatan Ceu Esih. Saya cuma mengantarkan.

Sini.

Silakan.

- Kamu mau kopi? - Sudah, Kang.

Saya ulangi pertanyaannya. Kamu mau kopi?

Tidak, Kang.

Kalau mau, bilang mau. Jangan bilang tidak.

- Boleh. -

Kalau mau, bilang mau. Jangan bilang boleh.

Mau...

Itu.

- Kenapa kopinya diberikan ke saya? - Karena kamu mau.

- Lalu, Akang bagaimana? - Tidak jadi.

Kenapa?

Karena kopinya sudah saya berikan ke kamu.

Tidak enak, Kang.

Minum kopi itu enak, Jang.

Yang tidak enak itu saya. Tidak jadi minum kopi.

- Jangan begitu, Kang. - Begitu.

Kang, ada telepon dari Teh Kinanti.

- Iya, Teh? - Kinanti di Bandung.

Baru sampai tadi malam.

Rindu Bandung?

Seminggu lagi seribu hari Papih.

- Seminggu lagi? - Iya.

- Seribu hari? - Iya.

Tidak terasa sudah seribu hari Papih pergi.

- Iya. - Ya sudah, saya jemput ke sana.

- Kapan? - Besok.

Kabari saja kalau Teteh mau kemari. Biar Akang tunggu.

Iya, Kang.

- Kalau begitu, saya pamit dahulu. - Sebentar.

Iya, Kang?

Kemarin, ada kejadian apa di Pasar Baru?

Tidak tahu. Memangnya ada kejadian apa?

Kalau saya tahu, untuk apa tadi saya bertanya padamu?

Maaf, Kang.

Sudah, Kang?

Sudah. Sana, pergi.

Iya, Kang.

Teh, Kinanti jemput Teh Kirani dahulu, ya.

- Amin. - Iya, Teh?

- Berangkat. - Iya, Teh.

Amin!

- Iya, Teh? - Mau ke mana?

- Ambil kunci mobil. Tertinggal di dalam. - Cepat.

- Amin. - Iya, Teh?

Pintu pagarnya tidak dibuka dahulu?

Oh, iya.

- Halo. - Kang...

Iya?

Tahu kejadian di Pasar Baru kemarin?

- Tahu. - Siapa?

Bukan orang sana, tapi kejadiannya di sana.

Akang kenal?

Tidak ada info. Setelah kejadian, langsung ada polisi.

Periksa dahulu para saksi. Bidik maksimal. Segera ungkap tuntas kasus itu.

Siap laksanakan, Komandan.

Ledeng! Ledeng!

Ledeng! Ledeng!

Ledeng! Ledeng!

- Ledeng! Ledeng! - Ayo, cepat!

- Majalaya? - Benar, Pak. Silakan.

Majalaya.

- Bubun di mana? - Ledeng!

Di sana, Kang. Mau saya panggilkan sebentar?

Tak usah. Biar saya yang ke sana.

Iya, Kang.

Bun!

Kang...

Alhamduilllah.

- Bagaiaman kabar Akang? - Tidak baik.

- Tidak baik? - Iya.

- Duduk dahulu, Kang. - Iya, Bun.

- Kopi? - Boleh.

- Masih panas. - Aku tahu.

- Kenapa dari tadi melamun terus? - Tidak.

Iya.

Tidak.

Imas bisa melihat.

Bukan melamun, tapi berpikir.

Memikirkan apa?

Akang mau kembali ke sini? Menguasai terminal lagi?

Tidak. Saya hanya ingin bertemu saudara dan teman-teman.

Bagaimana kabar Bohim?

Kausnya. Kausnya. Boleh lihat dahulu.

Yang sayang anak, ada kaus ukuran anak.

Yang sayang istri, jangan sampai tergoda perempuan lain!

Jangan-jangan, kamu memikirkan perempuan lain. Bukan bisnis jaket.

- Kamu selalu curiga. Tidak. - Bohong!

Benar.

- Sumpah? - Sumpah!

- Demi apa? - Kamu maunya demi apa?

- Demi anak dan istri. - Iya, Bun.

- Kopinya diminum, Kang. - Iya.

Kalau si Cecep, kabarnya bagaimana?

Menganggur...

Kalau Mang Uu?

Pulang ke Rancaekek.

Balik jadi pawang kuda lumping?

Iya, Kang.

Dari dahulu, dia sudah jadi pawang kuda lumping. Dari sana. dia pindah ke sini

hanya karena ingin menjadi anak buah Kang Bahar.

Di atas dia, ada saya. Di atas saya, ada Kang Mus.

- Iya, Mak? - Mau ke mana?

- Mengatur para pekerja. - Pulangnya bawakan martabak.

Martabak adanya malam, Mak.

- Ya sudah, surabi saja. - Surabi adanya sore, Mak.

- Kalau bakso, siang hari pasti ada, 'kan? - Ada.

Ya sudah, bakso saja.

- Iya, Mak. - Ya sudah. Sana berangkat.

Iya, Kang.

Hati-hati.

Teteh sungguh tidak mau ikut?

Tidak.

Teteh masih sering bertemu Kang Mus.

- Teteh? - Tidak. Masih lelah.

Semangat!

Ayo, cepat!

Kondisi suamimu bagaimana?

Preman Pensiun subtitles in other languages

Bình luận

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left