155 dòng đầu tiên.
DUA PULUH SEMBILAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
WILAYAH RAAD DI KONTINEN UTARA
Sepertinya ada berbagai macam toko.
Pasti menyenangkan berbelanja di sini.
Kota ini sungguh ramai dan hidup.
Ada begitu banyak bar.
Oh, Frieren. Mari belanja bersama nanti.
Kurasa ada banyak toko bagus di sini.
Boleh.
Kau sedang apa, Frieren? Ayo.
CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE
PENGINAPAN
Itu sudah mulai keterlaluan!
Kau selalu jahat kepadaku!
Sebenci itukah kau kepadaku?
Sudahlah! Aku pulang ke rumah Guru saja!
Kenapa dia selalu seperti itu?
Tak bisakah dia mendengarkanku dulu?
Kenapa mereka ribut? Cekcok pasangan, ya?
Hari ini, Fern berulang tahun.
Tapi Stark tak memberinya kado.
Maka itu, Fern marah.
Jujur saja, sikapmu keterlaluan hari ini.
Kau bahkan tak mau mendengarkan penjelasan Stark.
Aku juga tak memberimu apa pun.
Pria memang tak pernah memerhatikan hal sepele
seperti ulang tahun dan hari jadi.
Aduh! Baiklah!
Nanti kuberi kado. Berhenti menendangku.
Lama-lama, lututku bisa cedera.
Ya ampun, kasihan sekali Stark.
Pria seusiaku, meski diperlakukan dingin, bisa dengan mudah mengatasinya.
Tapi pria seusianya
mudah terpengaruh oleh perlakuan wanita terhadapnya.
Sebaiknya kau mengejarnya.
Sana, kejarlah.
Aksesori rambutnya juga kupu-kupu, 'kan?
Dompetnya lucu sekali.
- Kau tak suka, ya? - Bukan.
Aku agak heran saja kau begitu berpengalaman.
Begitukah?
Sudah menemukan Stark?
Dia berada di alun-alun.
Kau tak bisa menghampirinya, ya?
Aku tahu kau tak membenci Stark.
Kau hanya tak tahu cara memperlakukan pria seusiamu.
Dasar anak muda.
Pokoknya, pilih apa saja yang kauinginkan.
Kita bisa melihat-lihat di toko lainnya juga.
Tidak perlu.
Kalau begitu, aku yang pilih.
Omong-omong, kau tak perlu geram hanya karena dia lupa memberimu kado.
Dia jelas bukan tipe pria yang mengingat hal semacam itu.
Aku berani jamin, dia pasti lupa hari ulang tahunnya sendiri.
Jadi, jangan diambil hati.
Tapi aku memberi Tuan Stark kado ulang tahun.
Begitu, ya? Apa kalian memilih kadonya bersama-sama?
Kok tahu?
Umumnya, orang tak akan menolak jika diminta memilih yang mereka sukai.
Mungkin dalam pikiranmu, itu adalah kenangan istimewa.
Maka itu, kau menolakku tadi.
Entahlah.
Aku hanya merasa ingin melakukannya.
Begitukah?
Kalau begitu, segeralah meminta maaf, lalu pilih kado dengannya.
Dia masih anak-anak.
Dia belum begitu peka.
Kau ingin berbaikan, 'kan?
Gunakanlah kata-kata untuk menyampaikan perasaanmu.
Kau benar.
- Aku mau kembali ke penginapan. - Tunggu...
Maaf tadi aku menendangmu.
Tuan Stark.
Fern...
- Aku... - Maafkan aku!
Sebenarnya, aku ingin memilih kadonya bersamamu.
Karena aku tak tahu apa yang kausukai.
Tapi
aku takut kau akan marah jika aku bilang begitu.
Jadi, aku tak mengatakannya.
Padahal, aku tak akan marah.
Maafkan aku, Tuan Stark.
Tadi, aku berucap yang bukan-bukan.
Tak masalah. Aku sudah terbiasa.
Aku sungguh meminta maaf.
Ayo.
Baiklah.
Kau memata-matai mereka?
Kau keren sekali, Frieren.
Begitu pun kau.
Sepertinya mereka sudah berbaikan.
Saat sudah dewasa,
kita belajar menangani orang lain
dan sebisa mungkin menghindari konflik.
Bertengkar seperti itu adalah keistimewaan anak muda.
Mereka pasti merepotkan, ya, Frieren.
Tak mudah mengurus anak-anak.
- Cara "menghadapi orang lain"? - Sepertinya kalian bertiga anak-anak.
Tadi Fern meminta saran kepadaku.
Alih-alih kepadamu.
Aku jadi penasaran dia teringat akan siapa saat melihatku.
Fern dibesarkan oleh Heiter.
Aku tak pantas dibandingkan dengan Priest mengagumkan seperti beliau.
Dia sama sekali tak mengagumkan.
Dia pemabuk yang selalu menderita karena pengar.
Dia ras Undead?
Dia juga suka pilih-pilih makanan.
Hentikan.
- Dia juga selalu berbohong. - Aku tidak minum-minum.
Dia hanyalah seorang Priest gadungan.
Meskipun kau lebih gadungan daripada dia, Sein.
Jangan asal bicara.
Tapi aku cukup terkejut.
Seingatku,
Tuan Heiter adalah kakek yang baik hati dan dapat diandalkan.
Tak sepertiku, dia adalah sosok dewasa yang ideal.
Kau sudah berubah, Heiter. Kini, kau tampak dewasa.
Apa maksudmu? Aku, 'kan, sudah jadi kakek-kakek.
Orang cenderung berubah seperti ini seiring bertambahnya usia.
Yah, itu yang ingin kukatakan.
Namun, kenyataannya, hatiku belum banyak berubah
sejak aku kecil.
Ini hanyalah akumulasi
dari upayaku untuk berlagak dewasa demi menjadi sosok dewasa yang ideal.
Aku yakin benar
aku akan terus berlagak dewasa sampai mati.
Anak-anak butuh sosok orang dewasa
yang bisa memberi mereka dukungan emosional.
Khususnya Fern yang pekerja keras.
Aku harus memberinya banyak pujian dan bimbingan.
Lantas siapa yang akan memujimu karena sudah berlagak dewasa
sampai mati?
Untuk itulah ada Sang Dewi.
Aku hanya perlu menunggu sampai aku masuk surga.
Kalau begitu, aku akan memujimu di sini.
Sungguh?
Tapi mungkin kau tak memahami bagaimana perasaanku sebagai manusia.
Bagaimana kau mau memujiku?
Wah, rupanya cukup menggembirakan.
Frieren, saat masuk surga,
aku akan menyampaikan kesan baik tentangmu.
Aku masih merasa
kau pantas dipuji oleh Sang Dewi.
Begitukah? Kalau begitu, akan kunantikan.
Apa-apaan ini, Frieren?
Kurasa proses pendewasaanmu berjalan baik, Sein.
Andai saja ucapan itu berasal dari wanita yang lebih tua dariku.
Justru bagus, 'kan?
Tak ada yang lebih tua dariku.
DUA PULUH SEMBILAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
HUTAN BANDE DI KONTINEN UTARA
Terima kasih.
Tak ada kereta kuda di sekitar sini. Untung ada kau.
Kita harus saling membantu di sini.
Sebenarnya, aku bekerja sebagai pedagang di desa sebelah.
No comments yet. Be the first to leave one.