200 dòng đầu tiên.
Kau melihat apa?
Ini bukan kali pertamamu melihat luka bakar.
"Episode Sebelumnya"
Ada luka bakar di bahu Moo Young.
Di bahu dan lengannya.
Hanya karena luka bakar, jangan bilang kau mencurigai
Moo Young sebagai...
Kau takut?
Kau pikir dia akan menamparku?
Bagaimana denganmu?
Kau juga menyukainya?
Beri tahu Seung Ah itu tak benar dan hanya bercanda.
Jawab aku.
Pernahkah kau memikirkanku?
"Mencari Anak Hilang"
"Ada luka bakar di lengan dan bahu kanan"
"Menghilang setelah pergi ke rumah sakit untuk perawatan luka"
"Episode 7"
Karena kau tak berperasaan.
Itu sebabnya kau mempermainkan orang sesukamu.
Kau bahkan tak menyesal jika menghancurkan mereka.
Lalu kau melihat mereka
dan senang karena menang.
Itu sebabnya kau bahkan tak sadar dirimu menyedihkan.
Yoo Jin Kang.
Mau kuberi tahu kenapa kau sangat marah?
Jawab aku.
Pernahkah kau memikirkanku?
Tidak.
Pernahkah kau merindukanku?
Tidak.
Pernahkah kau senang menemuiku?
Tidak.
Apa kau
tak menyukaiku sama sekali?
Tidak.
Astaga, sakit.
Jangan keras-keras.
Kalian hanya melakukan ini demi uang.
Kenapa berusaha keras?
Yang benar saja.
Bangun.
Sial.
Bangun.
Maaf. Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Maaf.
Halo? Ini...
Ini atap gedung Percetakan Wonyoung.
Segeralah datang.
Kemarilah secepatnya. Seseorang dipukuli...
Kim Moo Young!
Jangan memukulnya!
Jangan! Apa hak kalian memukulinya?
Kenapa kalian memukulinya?
Ayo pergi.
Kim Moo Young!
Moo Young!
Moo Young, bangun.
Moo Young!
Moo Young!
Ada empat orang?
Ya.
Kelihatannya salah satunya berusia akhir 30-an.
Yang lainnya...
Suasananya terlalu gelap.
Itu jelas seperti pengeroyokan?
Ya. Mereka seperti sekelompok penjahat.
Anda tak tahu alasan mereka menyerangnya?
Tak tahu.
Tenangkan diri Anda.
Kami harus menunggu korban hingga siuman.
Besok, suruh dia mengunjungi kantor polisi jika bisa.
Setelah bersaksi, dia bisa
mengajukan gugatan.
- Baiklah. - Ya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Terima kasih.
"Kakak"
Kakak.
Kenapa kau tak mengabari jika lembur?
Maaf. Aku tertidur.
Kakak belum tidur karena aku?
Tidurlah.
Baiklah.
Kakak mengerti.
Kau juga harus tidur.
Duduklah.
Kelihatannya lezat.
Apa-apaan?
Kenapa kau melakukan ini?
Dokter bilang, kau harus dirawat inap. Kenapa pergi?
Duduklah.
Jangan berteriak. Aku sedang sakit.
Siapa orang-orang tadi?
Kenapa kau di sini?
Aku lebih tertarik dengan itu.
Apa pentingnya? Lihatlah dirimu.
Siapa mereka?
Apa salahmu hingga para penjahat itu...
Kau ingin mengajak bertengkar?
Itu tak seperti dugaanmu.
Pergilah ke kantor polisi besok. Bersaksi dan tuntut mereka.
Untuk apa?
Untuk apa?
Mereka hanya sekelompok pekerja keras.
Bahkan, mereka tak tahu kenapa harus memukuliku.
Jika aku akan menggugat atau melawan balik,
harus tepat sasaran.
Ke orang yang sebenarnya ingin menyakitiku.
Bukan begitu?
Baiklah.
Masa bodoh kau akan melakukan apa.
Makanlah keik bersamaku.
Cho Rong.
- Halo. - Kau melihat Manajer Yoo?
Masuklah. Dia di kantor.
Bukan itu maksudku.
Dia sudah mengatakan sesuatu padamu?
Memangnya dia mau mengatakan apa padaku?
Kau pasti tahu ada apa dengannya.
Aku?
Mana kutahu?
Jika kau tak tahu, siapa lagi yang tahu?
Hei. Kenapa kau mendesakku?
Pikirmu aku tahu semuanya?
Tidak.
Aku sudah sibuk.
"Bubur"
Anda datang.
Halo.
Anda datang sendirian?
Korbannya tak ikut?
Dia belum mampir?
Justru itu aku bertanya.
Bisakah saksi mata melapor?
Ya, bisa saja.
Anda sudah melaporkannya kemarin.
Anda sudah melapor kemarin, gugatan hanya bisa diajukan korban.
Secara langsung.
Baiklah. Begitu rupanya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Pus.
Kenapa kau kemari tanpa memberi tahu?
Apa maksudmu?
Sudah kuduga kau akan berdiam di rumah seharian.
Apa ini?
Buatkan aku semur ayam.
Itu keahlianmu. Aku ingin memakannya.
Dulu aku sering memapahmu kemari saat malam karena kau mabuk.
Rasanya asing saat datang siang hari.
Ini hari Sabtu. Di mana Jin Kang?
Dia berkencan. Sepertinya hubungannya lancar dengan Cho Rong.
Sungguh?
Baguslah.
Ini mirip sepedaku.
Indah sekali.
"Hwang Geon"
- Permisi sebentar. - Ya.
- Halo, Geon. - Kau di mana?
Hari ini aku libur.
Sulit dipercaya.
Komandan.
Kurasa Cho Rong sudah gila.
Ada apa? Dia kesiangan?
Dia bilang ini hari liburnya,
jadi, dia ingin beristirahat.
Dia pasti menganggap pekerjaan ini lelucon.
Kau tak mendisiplinkannya?
Akhirnya aku mewujudkannya.
Aku membuat daftar 100 hal yang ingin kulakukan bersamamu.
Ini salah satunya.
Bersepeda denganku yang nomor satu?
Bukan sepeda biasa, tapi sepeda tandem.
Bukan yang nomor satu, tapi bersepeda termasuk prioritas.
Cukup atas.
Selanjutnya apa?
Tak seru jika aku memberitahumu.
Nantikan saja.
Ayo.
Mau makan apa?
Sesuatu yang lezat.
Sangat lezat.
Sepertinya lezat.
Kau terlihat baik-baik saja.
Apa maksudmu?
Kau bercerita
tentang luka bakar Moo Young.
Tapi kondisimu tak seburuk dugaanku.
Tentu saja.
Itu hanya khayalan.
- Seperti katamu, itu khayalan. - Benar.
Ini.
Tunggu.
- Bagaimana? - Enak sekali.
- Kau hebat juga. - Ambilkan soju.
- Ambilkan minumannya. - Ya.
- Minuman tak boleh dilewatkan. - Tentu.
Terima kasih.
Biar aku saja.
No comments yet. Be the first to leave one.