200 dòng đầu tiên.
Seperti biasa, panas menyengat di Metropolitano di Barranquilla.
Kolombia-Bolivia!
Kami siap tim kami lolos ke Piala Dunia lagi.
Menang, meski hanya dengan skor tipis,
memungkinkan tim untuk lolos.
Tapi beberapa pertanda buruk ingin dia keluar dari tim nasional,
dan tak tampil di Piala Dunia berikutnya.
Ini akan jadi pertandingan dengan…
Gagal ke Qatar itu berat.
Tapi menurutku, kalah di sepak bola itu wajar.
Aku lebih sering kalah, dan di situlah aku paling banyak belajar.
Karakter dibentuk oleh kesulitan.
Maju ke kualifikasi, Timnasku!
Pertandingan ini menentukan untuk Piala Dunia berikutnya.
Aku bertaruh padamu, Kolombia! Melawan Bolivia!
Dari babak pertama, aku menginginkannya. Aku ingin bisa mencetak gol.
James Rodríguez menguasai bola, dia mengoper. Terlalu panjang!
Disundul, Bacca menyambutnya!
Dia mengarahkannya ke…
Aku harus mencetak gol hari ini agar bisa menjadi bagian dari sejarah.
Lucho merangsek dari sisi lapangan. Berhasil, dia melepas umpan.
Disundul, tapi diselamatkan kiper!
Sundulan James.
Lucho dari luar kotak penalti.
Dia menahan bola. Arias mengirim umpan rendah…
Gol!
Bisa ikut tiga Piala Dunia adalah hal besar bagiku…
Gol!
…karena menjaga konsistensi itu sulit, terutama selama bertahun-tahun.
Jadi, seolah aku berkata, "Hei, aku masih di sini."
James Rodríguez menjadi pencetak gol terbanyak Kolombia
di kualifikasi dengan 14 gol.
Dia sangat mencintai negaranya.
Aku mengaguminya, menyayanginya.
Dia panutan, dia punya asis terbanyak,
gol terbanyak di antara gelandang.
Kita semua menyaksikannya.
Setiap kali dia tampil memakai seragam kuning,
dia bermain sepenuh hati.
Di lini tengah…
Dengan tim yang kami miliki, kami bisa melakukan hal hebat.
Senang rasanya melihat semua orang bahagia,
apalagi kami gagal di Piala Dunia terakhir.
Lucho mengoper bola. Quintero dari luar kotak penalti. Gol!
Aku akan berusia 35 tahun.
Apa cara yang lebih baik untuk pensiun selain bermain di Piala Dunia?
Kita akan berpesta!
Semangat kami, hati yang bangkit lagi
di jalan menuju Piala Dunia!
Kegembiraan untuk Kolombia!
Kolombia kembali ke Piala Dunia!
Kami lolos, dan sekarang itulah yang penting.
Karier yang indah juga.
Kurasa ada lebih banyak momen baik daripada momen buruk,
dan itulah yang akan kubawa.
Aku mengenang semua yang telah kulakukan,
semua sejarahku dengan seragam ini.
Banyak hal terlintas di benak.
Pria yang akan selamanya diingat oleh orang Kolombia.
Gol!
Aku tahu itu tak mudah.
Saat menang, semuanya indah.
Tapi saat kalah, tak ada yang mendukungmu.
Sejujurnya, James tampaknya merasa dirinya hebat.
Kau menikmati pestanya?
Dalam semua yang kulakukan, kucurahkan hidupku untuk seragam ini.
- Selalu. - James!
Kolombia!
Satu, dua, tiga! Kolombia!
Jika aku merasa inilah akhirnya, aku akan pergi dengan bahagia.
Tapi aku merasa masih ada bab besar yang hilang.
Aguilar mengoper ke James.
Abel lagi, kembali ke James. Dia berbalik, bola ke arah kiri!
…oleh James! Gol luar biasa!
Astaga, anak ini bintang!
Brilian! Luar biasa!
Wawancara sembilan. James. Pengambilan gambar kedua.
Nenekku, semoga dia tenang di surga, pernah berkata,
"Biarkan mereka bicara, mau itu hal baik atau buruk.
Jika mereka tak membicarakanmu, kau melakukan kesalahan."
EPISODE 1 JAMES VS KEHIDUPAN
Ya, aku selalu tahu. "Aku ingin jadi pemain sepak bola," ya.
Pertama, karena aku berbakat, kedua, karena aku ingin bermain,
ketiga, karena aku suka bermain sepak bola.
- Tepuk tangan. - Bravo!
Aku selalu punya mental yang kuat,
dan aku selalu ingin lebih sejak aku masih kecil.
MEDELLÍN KOLOMBIA
Namaku María del Pilar Rubio.
Aku lahir di Ibagué, lalu pindah ke Bogota.
Aku tinggal di Medellín, lalu Argentina, lalu…
mengikuti anakku, James Rodríguez.
Aku ibu muda, tapi aku tak menyesal.
Jika aku harus mengulanginya, aku takkan mengubah apa pun.
Aku bertemu ayah James saat dia bermain untuk Deportes Tolima.
Aku menikah dengan cepat, sekitar dua bulan setelah kami pacaran.
Orang tuaku melarangku pergi sendirian. Aku masih 18 tahun.
Aku tiba di Cúcuta saat hamil delapan bulan,
dan dia terlilit tali pusar.
Mereka tak mau melakukan operasi caesar di klinik.
Kami kekurangan uang, tak punya banyak uang.
Aku di klinik sejak pukul 07.00 dan dia lahir pukul 21.00.
Dan ayahku… Itu yang mereka katakan.
Dia menjemputku dan membawaku ke kantor catatan sipil.
Dia bilang, "Namanya James David."
Seharusnya Juan David.
Bayangkan, aku seorang remaja yang baru punya anak,
dan dia dinamai James David.
Saat aku berusia 15 hari, kami pindah ke Tolima.
Aku langsung kembali ke Ibagué dan kami memulai hidup baru di sana.
Kami pamannya, tapi tak jauh lebih tua darinya.
Jadi, kami lebih seperti kakak-adik.
Dia selalu memainkan bola ke sana kemari.
Walau dia masih sangat muda,
tak ada banyak perbedaan antara dia dan kami.
Dalam lima kesempatan berbeda, James Rodríguez…
Dia selalu kompetitif.
Selalu. Dia selalu benci kalah.
Kurasa dia tak punya kenangan tentang ayah kandungnya.
- Dari masa kecilnya. - Dari masa kecilnya.
Kurasa itu pasti memengaruhinya.
Awalnya, dia ada saat James lahir. Tapi setelah itu, dia tak ada.
Dia meneleponnya setiap Natal. Kami tak punya hubungan.
Syukurlah aku punya keluargaku.
Kalau tidak, semuanya bisa lebih sulit.
Saat dikelilingi kasih sayang dan cinta, semuanya mengalir, bukan?
Menurutku, sosok ayahnya
sangat dipengaruhi oleh disiplin Juan Carlos.
Ayah tirinya, ayah Juanita, putriku,
dia selalu ada untuknya.
Kadang dia sangat keras.
Seorang bocah pirang berusia tiga tahun yang gelisah muncul,
selalu membawa bolanya di bawah lengannya.
Ayah tiriku, masa kecilku penuh aturan bersamanya.
Bekerja, selalu gigih,
selalu tepat waktu.
Dia memberiku fondasi yang baik.
Aku ikut seleksi di dua akademi,
dan mereka bilang aku payah.
Mereka bilang, "Suruh dia main catur atau apalah. Dia tak berbakat."
"Anak ini tak berbakat." Lalu aku pergi ke akademi ketiga,
Academia Tolimense, di tempatku tinggal.
FINAL PONY FÚTBOL 2004
Pony Fútbol, membina generasi baru
untuk Kolombia yang bermain sportif.
Ini adalah final besar Pony Fútbol.
Ayah tiriku berperan penting dalam permainan sepak bolaku.
Dia bilang, "James bagus dengan kaki kirinya, bawa dia ke sana."
Aku tak mau karena pengalamanku
dengan ayah James.
Aku benar-benar membenci sepak bola.
Ibuku tak mau aku bermain sepak bola
karena ayahku juga bermain itu, dan Ibu punya pengalaman buruk.
Citra Ayah di luar lapangan tak bagus.
Bola di sudut lapangan. Empat puluh menit.
Academia Tolimense akan menendang.
Bolanya melesat. Ke tiang gawang!
Hidup Pony Fútbol, Tuan-Tuan!
James Rodríguez, bintang tim Academia Tolimense, menendang.
Hampir gol dari tendangan sudut.
Kami mulai mengikuti kejuaraan dan dia yang terbaik, dan aku seperti…
Sampai aku berkata, "Ini salah. Aku tak punya pilihan."
Inilah sang bintang, bakat yang terpampang nyata,
James Rodríguez.
Dulu, agar dia masuk rumah,
ibuku tahu bahwa pukul 18.00 ada serial berjudul Captain Tsubasa.
Aku biasa menonton Captain Tsubasa.
Itu acara favoritku saat kecil.
Bahkan, aku punya tato Tsubasa Ōzora saat dia bayi.
Dia nomor 10, dia juga kapten.
Aku ingin jadi Tsubasa.
Inilah pemain yang ada di lapangan.
Namanya James Rodríguez.
Awas! James Rodríguez maju! Mengarah ke gawang
Gol!
Mimpiku jadi kenyataan.
Gol Olimpico, bagus sekali.
Semua penonton bisa menikmati kualitas dan kelas yang dibawa anak ini.
Wasit mengangkat tangan! Mereka juara!
Academia Tolimense juara!
Untuk siapa kemenangan ini?
Kurasa aku akan mendedikasikannya untuk ibuku dan ayah tiriku.
Sejauh apa mimpimu, James?
Mimpiku adalah menjadi pemain profesional.
Untuk tim apa?
Mulai dari Tolima, lalu terserah Tuhan.
Sangat menyenangkan, sangat emosional.
Ini awal dari sesuatu yang besar baginya. Dia mewujudkan impian dan cita-citanya.
Kami yakin harus mendukungnya
dan selalu melangkah maju bersamanya.
DIM dan Envigado masing-masing membeli 25% hak atas nilai transferku.
James Rodríguez melakukan debut profesionalnya.
Dia mengenakan nomor punggung 25 dan baru berusia 14 tahun.
Aku masuk ke ruang ganti dan menunggu di pintu karena takut.
Lalu dia melihatku dan berkata, "Nak, sedang apa kau di sana?"
"Aku dipanggil."
Aku malu. Bermain dengan orang lebih tua, entah apa yang akan terjadi.
Kami mendukungnya.
Aku dan suamiku selalu mendukungnya.
Aku tak pernah meninggalkannya. Aku dipanggil "pelatih" di Envigado.
No comments yet. Be the first to leave one.