প্রথম 155টি লাইন।
UNTUK ORANG TUA KAMI TERSAYANG, SRI HIROO DAN SMT. VINITA BHARWANI
Akhirnya aku menemukanmu.
Bang Tengkorak.
Lihat saya.
Bang Tengkorak.
Lihat saya.
- - Sut!
- Ini. - Ini.
- Ini! - Ini!
Kita itu lagi nyari tengkorak gubernur Belanda.
Mana ada orang Belanda namanya Otong Surotong.
- Surotong? - Itu baca.
Makanya, ke dokter mata. Berobat.
Gengsi, dong.
Masa dukun ke dokter.
Pastiin dulu.
Benar enggak tengkoraknya. Entar salah lagi.
Coba dicek gigi emasnya.
Di kiri atas ada enggak.
Nah! Ada ini.
Dengan tengkorak ini,
berarti kita bisa menjalankan rencana kita.
Eh, udah…
Ke dokter gigi, gih.
Mulut kamu bau ketek.
Gengsi, dong.
Masa dukun ke dokter.
Hei!
Siapa kalian?
- Siapa? - Siapa?
Ya, siapa?
Oh, Pak Mongol.
Sekarang sudah dengan Adul?
Adul? Kiky.
- Kiky. - Kiky Saputri.
Bercanda saja.
Kiky yang di acara.
Laper Ga itu?
Iya, betul.
Artis buat apa malam-malam di situ?
Lagi syuting.
Sama tengkorak?
Properti buat syuting.
Properti syuting.
Film horor.
Sama seperti itu?
Makam yang dibongkar itu?
Iya.
Percaya, kan?
Iya, percaya.
Makasih ya, kita…
Eh.
Kakak Kiky sabar dulu.
Semenjak menikah itu,
saya sudah tidak pernah lihat Kakak Kiky mendesah di TV lagi.
Boleh mendesah satu kali buat saya?
- Enggak mau, sudah malu. - Lekas!
- -
Enggak usah. Diam.
Mari.
Sabar dulu, Kakak Kiky.
Saya boleh cek itu tengkorak?
- - Ah!
- Itu, soto sudah nunggu lama. - Ya.
- Kayaknya dari tadi sore itu. - Iya.
- Sotonya, Pak. - Makan dulu sotonya.
- Betul. Gratis lagi. - He'eh.
Terima kasih, Kakak Kiky.
- Iya. - Kok Kiky. Adul.
Ih. Bercanda.
Nah, banyak ini.
Silakan, Pak.
Enak ini.
- Terima kasih, Pak. - Sama-sama, Pak.
Permisi.
Maaf. Nanti, ya. Maaf.
- Pakde. - Eh?
- Kau. - Ada apa ini?
Tumben aku dipanggil ke TKP.
Ini kejadian luar biasa namanya.
Dua kuburan dibongkarnya,
tapi cuma satu tengkorak yang diambilnya.
Biasa Pakde enggak percaya sama hal-hal gini.
Ya, tapi kan kau expert -nya.
Ahli klenik kau.
Makanya kupanggil.
Eh, berapa mahal tengkorak ini?
Enggak tahulah.
Aku enggak jualan tengkorak.
Jadi, kenapa diambilnya tengkorak ini?
Terserah orang itu.
Untuk cincin mungkin.
Nah, itu!
Seperti cincin Pakde. Tengkorak.
Dia yang nyuri tengkoraknya.
Ini kan cincin.
Beda. Hah!
Lihat lah.
Sudah, sudah!
Sekarang kau cari bukti atau apa.
Supaya cepat juga terbuka kasus ini.
Kenapa Bapak bisa tertidur di sini?
Aduh…
Apa Bapak ingat peristiwa
yang semalam terjadi di sini?
Kira-kira jam berapa Bapak masih ingat peristiwa ini?
Siapa kalian?
Prajurit Petarung!
Mana matamu?
Ini mataku!
Mata kiri mataku!
Mata kanan mataku!
Mata-mata!
Hebat sekali!
Oke, Pak.
Bisa diceritakan perjalanan karier Bapak
dari mulai jadi tentara sampai sekarang
diangkat jadi Wakil Menteri Pertahanan?
Modal saya itu berani!
Waktu saya bertugas di Angkatan Laut,
saya lihat ada kapal selam,
saya makan!
Pempek!
Luar biasa!
Benar-benar prajurit petarung!
Lanjut, Pak.
Kapal selam saya ditembaki torpedo.
Torpedonya saya sate!
Tongseng!
Luar biasa!
Benar-benar prajurit petarung!
Ada lagi, Pak?
Pak?
Pak?
Tenang.
Saya pernah bertugas di hutan.
Ular kayak gini bisa jadi makanan dua minggu.
Maksudnya apa, ya?
King kobra ini! Bahaya ini!
Raja ular ini!
Modar kamu!
Mati kamu! Aku rica-rica habis ini.
Sut! Hei!
Kalau udah ketawa enggak bisa berhenti.
Masku. Cintaku, my love- ku.
Kamu sekarang semakin sakti.
Kamu bisa menyantet pejabat negara.
Tapi, my love.
Sayang, kekuatan kita baru bisa kelas wakil menteri.
Belum bisa menteri ke atas.
My love.
Kita coba laporkan ini kepada paduka.
Gimana?
Aha!
Benar juga.
No comments yet. Be the first to leave one.