প্রথম 200টি লাইন।
- Hormat! - Hormat!
Lipatan serbetnya sepertinya agak berantakan.
- Akan kuperbaiki. - Jangan lupa, penataan meja
sama pentingnya dengan masakan saat makan.
- Baik, Chef! - Waktu kita sedikit. Cepat bergerak!
- Selesaikan persiapan dengan benar. - Baik, Chef!
Aku berencana melakukan pelayuran sampai tingkat ini.
Menurutmu, apa yang cocok untuk hiasannya?
Daging ini tidak matang merata.
Akan kutunjukkan sekali, jadi perhatikan baik-baik.
- Apa ini sulit? - Kau memang hebat, Chef.
- Hei. - Sersan Yoon Dong-hyun!
- Kau tidak bisa mencuci piring? - Maafkan aku.
Kenapa? Apa kau merasa menyedihkan
karena mencuci piring, padahal sudah menjadi Sersan?
- Tidak. - Kerjakanlah dengan lebih baik.
- Ya? - Sersan Yoon Dong-hyun!
Kang Seong-jae.
- Seong-jae. - Astaga.
- Kang Seong-jae. - Apa?
- Kang Seong-jae. - Apa?
Tamtama Kang Seong-jae.
Kau mimpi apa sampai tersenyum seperti itu?
Dasar pemalas.
- Bangun, sudah waktunya berangkat. - Baik, aku mengerti.
Cepat bersiap.
Baik, aku mengerti.
SEDANG ADA OPERASI.
EPISODE 10
Jumlah personel Pos Jaga Ganglim saat ini
ada 29, cuti tiga, hadir 26.
Personel yang kembali dari cuti tak melaporkan ada masalah.
- Baik. Berikutnya. - Hasil pemeriksaan peralatan
perangkat TOD beroperasi dengan normal.
- Berikutnya. - Patroli pos jaga, tidak masalah.
Namun, CCTV di pos jaga tiga menciptakan titik buta
sehingga perlu penyesuaian.
Permintaan sudah diajukan ke bagian fasilitas.
Seharusnya melapor kepadaku dahulu sebelum mengajukan permintaan.
Karena ini masalah yang harus diperiksa dengan cepat
aku mengambil tindakan terlebih dahulu.
Sekalipun masalahnya harus diselesaikan dengan cepat
kau seharusnya melapor padaku terlebih dahulu.
Apa kau sengaja melakukannya
agar Komandan Kompi seolah tidak tahu apa-apa?
Maafkan aku. Lain kali, aku akan melapor terlebih dahulu.
Astaga.
Kita dikumpulkan untuk rapat sejak pagi
tapi kenapa begini? Kenapa suasananya seperti ini?
Wakil Komandan Pos Jaga, segera laporkan jadwal pelatihannya.
Aku mengerti. Terkait topik hak asasi prajurit
sebelum tengah hari pada Selasa pekan depan
program pelatihan...
- Hormat, Komandan Kompi! - Ada apa? Kami sedang rapat.
Ada apa?
Ada apa?
Kau sebaiknya segera pergi ke ruang makan.
Kapan kalian membersihkannya?
Aku melakukannya semalam.
Benarkah kulkas yang dibersihkan semalam
bisa sebanyak ini bunga esnya?
Saat masak di dapur, suhunya menjadi tinggi...
Bunga es tetap terbentuk, meskipun sering dibersihkan.
Apa itu yang kau sebut sebagai alasan?
Mengelola kulkas saja tidak becus
tapi mengeluhkan kondisi pasokan makanan.
Saat menjadi warga sipil, kau berpikir bisa asal bicara
tapi di militer, kau harus tahu betapa beratnya bobot perkataan
sebelum kau mengucapkannya, bukan?
Kau sudah datang.
Sesuai keinginanmu, kami melakukan inspeksi menyeluruh
di bawah perintah Komandan Resimen.
Aku minta kerja sama kalian.
Sudah waktunya truk pasokan datang, mari kita periksa.
Betapa buruknya kondisi pasokan itu.
Daun bawang kelas A dari Jindo, Provinsi Jeolla Selatan.
Bawang bombai kelas A dari Muan, Provinsi Jeolla Selatan.
Kondisinya terlihat bagus tanpa ada cacat.
Bagian mana yang membuatmu berkata kondisi pasokan ini buruk?
Kondisinya tampak sangat berbeda dari sayuran yang datang selama ini.
Sebelumnya, banyak bagian busuk
sehingga kami sering terpaksa membuangnya.
Jadi, apa ini terlihat dalam kondisi yang sangat buruk sekarang?
Ini foto pasokan yang bermasalah selama proses inspeksi.
Bukan hanya sekali atau dua kali, kondisinya terus buruk.
Jika kau sengaja hanya menunjukkan foto-foto seperti ini
masalah yang tidak ada pun akan terlihat seolah ada.
Daripada seratus lembar foto
aku lebih percaya pada perbekalan yang kulihat di depan mataku.
Aku ingin mengajukan keberatan atas proses inspeksi menyeluruh ini.
Sebagai penanggung jawab atas perusahaan pemasok
apa benar jika kau menanganinya secara langsung...
Hei!
Ucapanmu aneh sekali.
Jadi, maksudmu aku punya niat lain
saat melakukan inspeksi menyeluruh ini?
Bukan hanya ruang makan
aku akan melaksanakan inspeksi seluruh personel Pos Jaga Ganglim.
Aku akan menyelidikinya secara objektif dan saksama
jadi bekerja samalah dengan serius.
Dia benar-benar sudah berniat. Benar-benar berniat.
Kenapa kau perbesar masalah yang bisa diselesaikan diam-diam?
Sampaikan inspeksi ini pada prajurit yang tersisa di Pos Jaga.
- Cepat! - Baik.
Astaga. Karena berada di Pos Jaga, kalian hidup sesuka hati, ya?
- Ini barak berapa? - Kopral Kim Kwan-cheol, Barak Dua.
Seluruh personel Barak Dua dikenai poin pelanggaran.
- Wakil Komandan Pos Jaga, - Tunggu, bereskan semuanya dahulu.
Apa yang sedang kau lakukan?
Sesuai keinginan Komandan Pos Jaga
aku menyelidiki semua faktor yang menghambat
peningkatan ransum militer para prajurit.
Ternyata masalahnya bukan hanya satu atau dua, ya?
Kau pikir aku senang memeriksa orang-orangku sendiri?
Namun, para petinggi harus tahu apa saja masalahnya.
Seorang prajurit harus tahu
betapa berat dan pentingnya perkataan mereka
sebelum membuka mulut.
Aku harap kau belajar sesuatu dari kesempatan ini.
Baiklah.
Kau harus ikut dengan kami.
POS JAGA GANGLIM
Ada apa? Komandan Pos Jaga pergi ke mana?
Sepertinya dia dalam masalah besar.
Celaka. Sepertinya cuti kita akan dibatasi untuk sementara waktu.
- Sial. - Hei, dingin. Ayo masuk.
Aku sudah berbicara secara tegas dengan pihak pemasok
agar urusan perbekalan berjalan lancar
dan Cho Ye-rin sedang diperiksa oleh tim inspeksi.
- Min-gu. - Ya, Komandan Batalion.
Karena kau tidak menangani dengan benar
hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu
- kerugiannya bukan main. - Maafkan aku.
Aku sudah berusaha maksimal guna hentikan rumor dari Ganglim...
Betapa tidak becusnya kau menangani pekerjaanmu
sampai rumornya dari Ganglim, bukan dari tempat lain.
Kau tahu, bukan?
Karena orang-orang tidak berguna seperti Cho Ye-rin dan Kang Seong-jae
terus mengganggu...
- Maafkan aku. - Angkat kepala, tegakkan punggung.
Apa seorang prajurit boleh menundukkan kepala?
- Tidak. - Min-gu.
Jika sampai prajurit biasa pun mengajukan keberatan
ini bukan masalah yang bisa diselesaikan diam-diam, bukan?
Kurasa Kang Seong-jae tidak benar-benar tahu apa pun.
Hanya saja, dia beberapa kali melihat Cho Ye-rin
mengajukan keluhan tentang kondisi perbekalan
lalu sepertinya membicarakannya.
Lalu, seberapa banyak yang tampaknya diketahui Cho Ye-rin?
Saat menyelidiki pihak Bonggil Trading
dia menemukan di alamat pabriknya
ada pengepul barang bekas, bukannya pabrik.
Apa maksudmu?
- Aku hendak melaporkannya... - Kenapa kau tidak melapor kepadaku?
Karena dia hanya memastikan pengepul barang bekas itu dan pergi
aku menilai tidak akan ada masalah besar.
Sudah kukatakan, aku yang membuat penilaian!
Cho Ye-rin berusaha keras jika itu menyangkut Mayor Im.
Kalau kau sebodoh ini, apa Cho Ye-rin akan diam saja?
LETNAN SATU CHO YE-RIN.
Aku menemukan barang yang dia miliki dan mengambilnya.
Aku akan bertanggung jawab dan membereskan masalah ini.
Lakukanlah dengan benar.
Dahulu
aku suka betapa kau
seperti tikus yang terpojok dan berani melawan balik.
Namun, akhir-akhir ini semangat juangmu hilang.
Kumohon.
Tolong percaya padaku untuk kali terakhir.
Aku tidak ingin kecewa lagi.
Mayor Lee Min-gu.
IM SEUNG-BIN
Apa alasanmu menyelidiki perusahaan pemasok makanan?
- Seperti yang sudah kukatakan... - Adakah atasan yang memerintahkanmu?
Aku melakukannya sendiri. Namun...
Apa yang kau selidiki dengan meninggalkan area operasi
selama jam kerja tanpa melapor?
Melihat kalian mengetahui pergerakanku
- sepertinya kalian menyelidikiku. - Letnan Satu Cho.
Kau di sini untuk diinvestigasi.
Kalau begitu, jangan hanya menyudutkanku
tapi lakukanlah investigasi yang semestinya.
Lantas, siapa yang menyuruhmu meninggalkan area operasi?
Hanya karena ada sedikit bunga es di kulkas.
Sial.
Astaga.
Orang itu memang datang untuk mencari-cari kesalahan.
Percuma saja bicara dengannya.
Dia bahkan mengkritik
untuk apa ada kompor portabel di Kantor Administratif Kompi.
Sungguh, aku sampai tidak bisa menahan tawa.
Sersan Kepala, maafkan aku. Ini semua karenaku.
Sudahlah. Kau tidak tahu apa-apa, bukan?
Dia datang dengan niat untuk menghancurkan Pos Jaga ini.
Semoga Komandan Pos Jaga baik-baik saja.
Kepala Bagian Bantuan itu bertindak seenaknya.
Melihatnya diam saja saat diserang, aku jadi sangat marah.
Di saat seperti ini, Komandan Kompi seharusnya maju
dan mengatakan sesuatu dengan tegas.
Orang yang biasanya suka bicara itu
No comments yet. Be the first to leave one.