প্রথম 198টি লাইন।
Pagi-pagi begini, suamiku suka telepon.
Jadi, aku olahraga.
Biar tetap segar, tetap cantik.
Walaupun cuma guru SD,...
tapi cantik untuk suami.
Biasanya Aa sudah bangun jam sebegini.
Kenapa tidak menelepon?
Lihat, 'kan? Kambuh lagi!
Tidak telepon. Kemarin baru diberi peringatan.
Kemarin baru dikasih tahu, berantem!
Jangan tidak pernah tidak angkat telepon!
Jangan pernah tidak telepon!
Memang kebiasaan si Aa.
Aduh.
Aku harus cari alasan yang meyakinkan.
Kalau tidak, Andini bisa murka!
Welly!
Lihat itu!
Itu sasaran kita.
Montok dan seksi!
Apa itu? Montok, seksi.
Aa?
Aa!
Ayo.
- Ayah. - Sudah, arahkan senjatamu.
Ayo.
- Ayah, takut! - Hei!
Jangan berisik!
Nanti kabur targetnya!
Kita digigit sama babi?
Tidak, ayo!
Aku harus melakukan sesuatu...
demi keutuhan cinta suci rumah tanggaku!
- Ayo. - Aduh.
- Itu terbalik! - Aduh...
Bagaimana kau ini?
Andini?
Andini.
Andini.
Andini!
Andini!
Andini!
Ke mana anak ini?
Mbak, ke Jakarta sebentar lagi, 'kan?
Astaga.
Ini tidak seperti kebiasaannya.
Andini!
Aduh, Ayah, celaka kalau Andini bunuh diri!
Andini!
Andini!
Ternyata pergi benaran!
Aku mau menyusul Aa.
Ayah!
Andini ke Jakarta, Ayah!
Sudah, yuk.
- Andini ke Jakarta. - Sudah.
Kita susul!
Sudah, jangan menangis!
Kita susul. Sudah, ayo!
Jangan-jangan...
- Jangan gemetar! - Ya, Ayah.
- Ayo! - Ya.
Astaga.
Aku gemetaran. Aduh.
- Bidik. - Tunggu, Ayah.
- Apa lagi? - Tunggu, Ayah. Masih bisa, ayo.
Babi...
Ayah, kita dosa tidak menembak babi?
- Astaga! - Ya, Ayah.
- Ya, Ayah. Aduh. - Ayo.
Kau bisa.
Fokus. Baik. Bidik.
Tembak!
Ayo. Kita kejar!
Ayo.
Aduh...
Ayo, Wel. Cepat!
Ayah...
- Ayo! - Aduh, Ayah.
- Wel, itu babinya! - Ya, Ayah.
Aduh!
Welly?
=9 Bulan=
Aduh!
Maaf, Mas. Celananya aku turunkan.
Jangan, Perawat! Aku malu!
Perawat!
Aduh, itu sakit sekali, Dok.
Lagian aku tidak habis pikir, Ayah.
Bisa-bisanya Ayah menembak Mas Welly?
Karen.
Ayah tidak sengaja.
Tadi itu pandangan aman.
Sasaran tepat ada di depan.
Lalu, Welly lari dan jatuh.
Tiba-tiba dia bangun.
Bokongnya muncul.
Mas Welly!
Kenapa kau malah di sini, tidak di dalam?
Itu...
Bokongnya yang kena, Ayah.
Bokong suamimu, 'kan?
Ayo, masuk.
Ya.
Aduh. Kayaknya si Andini kabur lagi.
Aku harus menyusul ke stasiun.
Aduh, Andini.
Ayahku!
Nak.
Nak.
Baru aku mau menemuimu.
Kita bertemu di sini. Aku mau ke rumah.
Mau mengajak Ayah sama Andini ke kampung.
Ada bazar. Kebetulan banyak diskon, Ayah.
Aku senang sekali dengan diskon.
Namun, kayaknya Andini kabur lagi ke Jakarta.
- Andini ke Jakarta lagi? - Ya.
Kenapa, Ayah?
Aku tidak tahu.
Makanya aku juga cari tahu.
Sekarang mau ke stasiun.
Ya sudah. Sebentar, Ayah. Kalem.
Aku telepon dulu Andini.
Jangankan kau. Aku saja telepon, tidak diangkat.
Mendingan langsung ke stasiun.
Ya sudah. Ayo cepat, Ayah, masuk mobil.
- Mau antar? - Ya, ayo. Cepat.
Aduh, ke Jakarta lagi si Andini.
Wel, tidak apa-apa, 'kan?
Karen!
Kau kenapa masuk ke sini?
Aku disuruh Ayah.
Aduh. Perawat, pelan-pelan.
Dok, itu bagaimana?
Untung pelurunya kena dompet.
Mungkin dia cuman syok saja.
Namun, aku sudah kasih dia obat penenang.
Ya sudah. Bagus kalau begitu.
Aduh, sabar, Wel.
- Itu... - Maaf, Mas.
- Pak, maaf... - Aduh!
Karen, kau jangan bicara di depan bokongku!
Tidak, aku tidak melihat.
- Aku takut, Ibu. - Takut apa? Kau tidak usah takut, Nak.
- Kau mau ke mana, Nak? - Sakit.
Ayo, tidak usah takut, Nak.
- Aku tidak mau. - Ayo, Nak!
Rudi.
Di mana si Aa? Aku telepon balik tidak diangkat.
Kalau laki-laki diam-diam begini,...
pasti ada apa-apa.
Aa pasti lagi macam-macam.
Aa, tega sekali.
Andini.
Andini.
- Andini. - Andini.
Andini, tunggu.
Andini.
Aba, ingat.
Aku sudah menjadi istri orang!
Aba dosa melarang Andini!
Aba mau merusak rumah tangga Andini?
Sama saja Aba merusak kebahagiaan Andini!
Bukan begitu, Andini.
Masa kau pergi ke Jakarta sendiri?
Ya, 'kan?
Setuju, Ayah. Betul.
Berisik kau.
Ingat, Aba.
Kalau Aba masih melarang Andini,...
aku tidak bakal mau ke Ciamis lagi!
Andini.
Sebentar, Andini.
Andini! Sebentar, Andini!
Andini!
Dengarkan Aba, Andini!
Ayah, si Andini bawa ke ustaz.
Apa maksudmu?
Sudah jelas Andini dipelet sama si berengsek, Welly!
Lihat, dia sampai tergila-gila begitu.
Welly pasti pakai bantuan setan, hantu, iblis!
Kalau dia benar memelet Andini,...
tidak mungkin dia minta bantuan setan, hantu, iblis, dan sebagainya.
Maksudmu bagaimana?
Setan dan iblisnya adalah kau sendiri.
Bicara sama Ayah itu pusing!
Kang, bicara sama setan, ya?
Kau juga sama!
Aku menjadi pusing!
Aduh.
- Yuk. - Ya.
Ya.
Aduh!
- Aa, terima kasih. - Ya.
- Aku pulang dulu ya, Mas. - Ya.
Silakan. Hati-hati.
Ya, Pak.
Aman.
No comments yet. Be the first to leave one.