প্রথম 200টি লাইন।
Iya, gue tahu gue berantakan.
Tapi gimana gue enggak hancur coba?
Di hidup gue yang menyedihkan ini,
sekalinya gue mau bahagia, justru malah kayak gini.
Sori kalo gue terlalu mengumbar cerita.
Nama gue…
Alma.
Supaya kalian tahu kenapa gue jadi kayak gini,
gimana kalo kita balik dulu ke awal?
Sebelum gue sehancur ini.
Waktu gue masih punya harapan buat bahagia.
Pertama kali gue jatuh cinta.
Cerita ini enggak dimulai di hari yang cerah.
Melainkan di sebuah badai yang akhirnya menghempaskan gue ke Budi.
Gila ya, cuacanya kayak gini.
Vacation apa ini?
- Ombaknya besar banget. - Iya.
Udah berapa hari, ya?
Katanya sih udah dua hari badai.
Dua hari?
Ya gara-gara ini semua, gue enggak bisa terbang besok.
Terbang?
Lo pilot?
Iya.
Budi.
Alma.
Alma?
Nama yang cantik.
Salam kenal, Alma.
Salam kenal juga.
Ya udah kalo gitu gue balik dulu…
Astaga! Aduh! Lo enggak apa-apa?
Aduh kayaknya nanti bengkak.
Sini.
Enggak usah!
- Aku anter, ya? - Iya, tapi enggak keseleo.
Kayaknya lebih nyaman kayak gini.
Jaga-jaga aja.
Terus kamarnya di mana, ya?
Kamar gue cuma di situ.
- Deket banget, ya? - Iya.
Ya udah, pelan-pelan aja ya jalannya.
Yah, udah nyampe.
Kontak aku. Aku cuma di sebelah sini.
Kalo kamu butuh apa-apa…
- Kabarin aku ya? - Kamu di sebelah sini?
Iya, sebelah sini.
Ya udah. Aku duluan, ya.
Jaga kaki kamu.
Sejak hari itu,
semua hari gue penuh dengan Budi.
Budi yang charming, Budi yang humoris,
Budi yang romantis.
Budi yang segalanya sempurna buat gue.
Karena itu, meskipun kita belum lama kenal,
ya gue enggak mikir panjang lagi waktu dia ngajakin buat lebih serius.
Pagi, Semuanya.
Dekorasi nikah, cek.
Tes makanan, cek.
Suvenir, cek.
- Highlight rambut? - Belom!
Belum check.
Ini tuh harusnya udah dikerjain dari bulan lalu ya, Alma.
Aku tuh paling enggak suka
kerja mepet-mepet kayak gini!
Oke, belum check.
Santai, Sis.
Sayang!
Tapi,
di saat kita lagi persiapan,
hal yang enggak pernah gue sangka-sangka itu terjadi.
Terus kamu gimana? Sayang?
- Sayang! - Alma! Alma, mau ke mana, Alma?
Rambut kamu belum check, Alma!
Cepetan kirim uang satu miliar dalam waktu 1x24 jam.
- Atau… - Tolong…
Lo bakal dapet kiriman kepala dia.
Ini kira-kira bebas ongkir enggak ya kirimannya?
Hah? Kok Papa ngomongnya gitu, sih?
Pa, ini masalah serius, Pa! Ini menyangkut nyawanya Budi!
Iya, Papa tahu.
Tapi uang yang mereka minta itu enggak kecil, loh.
Kamu tahu, 'kan?
Sudah berapa miliar yang Papa habiskan untuk persiapan pernikahan kamu?
Undangan kamu aja ini pake kupu-kupu hidup, loh.
Ini Papa impor dari Ekuador.
Kupu-kupu langka! Nih, tuh.
Tuh. Terbang deh, tuh.
- Tuh, 50 puluh juta, tuh. - Pa!
Aku enggak minta Papa bayar tebusannya, Pa.
Aku minta Papa untuk tolong selametin Budi!
Temen-temen Papa 'kan banyak orang-orang penting.
Ada jendral, ada presiden. Papa bisa minta tolong sama mereka.
Alma, Papa bukannya enggak mau bantu.
Apa kamu yakin dia itu diculik?
Jangan-jangan kamu lagi ditipu sama dia.
Pa, aku enggak mungkin ditipu.
Dia cinta sejati aku.
Dia selalu ada buat aku, enggak kayak Papa.
Aku aja ketemu sama Papa susah banget!
Tolong, Pa. Tolongin aku, Pa. Plis.
No, no. Papa enggak mau.
Papa udah begging sana, begging sini. Minta tolong sana, minta tolong sini.
Tahu-tahunya kamu ditipu, itu 'kan bikin malu.
Mau dikemanain muka Papa?
Pa.
- Udah. - Pa.
Gue enggak nyangka.
Papa kok bisa setega itu sih sama calon suami anaknya sendiri?
Dia bukan cuma cinta pertama gue,
tapi dia orang pertama yang bikin gue berasa bisa deket sama orang lain.
Ya…
Dia sahabat gue.
Dia segalanya buat gue.
Makanya gue enggak mungkin nyerah sama keadaan.
Gue akan lakuin apa pun buat Budi.
Termasuk ngejual perhiasan kesayangan almarhumah nyokap.
Saya udah transfer, saya juga udah kirim bukti transfernya.
- Transfer berapa? - Loh? Satu miliar.
Coba tolong dicek, deh!
Oke, oke. Sebentar saya cek dulu.
Sekarang saya mau ngomong sama Budi.
Mana Budi?
Transferan sudah saya terima. Terima kasih.
Aduh, gimana, nih?
- Al. - Sayang!
Hai, aduh.
Kamu enggak kenapa-napa, 'kan?
Berkat kamu.
Terima kasih ya, udah bebasin aku.
Sori papa kamu harus nebusin aku.
Sayang, kamu enggak perlu mikirin apa pun.
Pokoknya aku udah usahain semua buat kamu. Papa enggak keluar uang apa-apa.
- Kamu enggak perlu khawatir. - Uangnya dari mana? Sayang?
Sayang, kamu enggak perlu pikirin apa-apa.
Pokoknya yang penting kamu selamat, kamu baik-baik aja.
Kamu tahu, 'kan, kamu di mana sekarang? Kamu bisa pulang?
Bisa. Bentar lagi aku pulang, ya?
Al.
Aku cinta kamu.
Kata-kata Budi itu
yang bikin gue semakin yakin sama dia.
Gue tetep ngejalanin pernikahan yang udah kita rencanain sama-sama.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Cobalah beberapa saat lagi.
Ma, belum datang?
Belum.
- Ma, udah dua jam kita nunggu. - Ya habis gimana, dong?
Alma. Eh, udah siap?
Tamu-tamu VIP Papa udah dateng semua. Yuk, kita sambut, yuk?
Sekalian ajak Budi, yuk.
Budinya mana?
Pa, Budi bilangnya dia langsung ke sini pas dia nyampe Jakarta, Pa.
Belum nongol jam segini?
On the way, Pa! On the way!
Wah, kacau kalo gini, nih!
Eh, Papa bilang juga apa. Kamu kena tipu, deh, kayaknya.
- Pa! - Waduh! Kamu udah bayar miliaran.
Mati, deh!
Papa yakin, dia pasti penipu.
Papa kenapa sih selalu bilangin Budi penipu?
Cuma penipu yang bisa ngenalin penipu lain dengan gampang.
Memang Papa penipu?
Udahlah Papa mah mikirin tamu mulu! Kalo Budi kenapa-kenapa gimana?
- Dia oksigen aku, Pa. - Oksigen.
Tamu-tamu Papa itu penting semua. Super VIP.
Papa malu. Mau dikemanain muka Papa kalo kamu enggak jadi nikah?
- Jadi! - Budinya mana?
Diem!
Pak, kalo enggak jadi nikah, sama saya aja, Pak, Alma-nya.
Sehat kau!
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Cobalah beberapa saat lagi.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Cobalah beberapa saat lagi.
Tapi…
Sampai semua tamu pulang,
dia enggak dateng juga, loh.
Sumpah gue takut banget ada apa-apa sama Budi.
Apa jangan-jangan dia enggak dilepas ya sama penculiknya?
Sampai tiba-tiba,
seseorang yang punya info tentang dia akhirnya menghubungi gue.
Sudah dua tahun belakangan, banyak yang ngelapor ke sini.
Di saat hari pernikahan mereka.
Jadi, Mbak bukan orang yang pertama dateng ke sini.
Mereka juga jadi korban penipuan orang ini.
Modusnya sama, di saat hari pernikahannya
dia mengaku diculik dan minta tebusan 400 sampai 500 juta.
Kok saya satu miliar?
Dan kalian tahu 'kan ceritanya?
Kebayang 'kan kalo jadi gue?
Rasain 'kan apa yang gue rasain?
Sakit!
Alma.
Budi!
Mau sampai kapan kamu kayak gini?
Bengong, melamun, nonton TV, nangis.
Makanya kamu enggak usah sok-sokan bikin keputusan sendiri.
Coba kalo dulu kamu mau dijodohin sama pilihan Papa.
Pasti sekarang kamu udah settle.
No comments yet. Be the first to leave one.