প্রথম 200টি লাইন।
"Love Me"
Omong-omong,
kenapa pacarmu tak datang hari ini?
Ya?
Kukira aku bisa bertemu dengannya.
Tadi katamu apa pekerjaan pacarmu?
Katanya dia akan segera menjadi profesor.
- Bukan profesor, melainkan dosen. - Begitu.
Dia akan jadi profesor.
Pasangan penulis hebat dan profesor keren sekali.
Makanya aku jadi makin penasaran.
Harusnya kamu suruh datang.
Sepertinya dia agak sibuk.
Apa? Ayolah. Pacarnya menang hadiah utama kompetisi,
dan dia terlalu sibuk?
Ayo cepat pergi.
Ya, kerja bagus.
Kalian masuk saja duluan, aku akan segera menyusul.
Kenapa? Mau menelepon pacarmu?
Suruh dia datang walau terlambat, aku mau bertemu dengannya.
Hei.
Hei!
Kamu tidak datang karena ini?
- Kamu sudah lihat, 'kan? - Kenapa kamu jadi sopir pengganti?
Aku butuh uang, memangnya aku iseng?
Makanya aku bertanya, kamu butuh uang untuk apa?
- Aku sibuk, ada panggilan masuk. - Seo Jun Seo.
Bagi orang biasa sepertiku, untuk menjadi dosen,
aku diminta bayar lima juta won.
Katanya harus bayar, lalu aku harus bagaimana lagi?
Kamu pikir ucapanmu itu masuk akal?
Kamu mau menjadi dosen sampai harus membayar?
Kamu mau jadi penulis hebat, aku tak boleh?
Setidaknya aku harus jadi dosen agar bisa membanggakanmu.
- Harusnya kamu bilang padaku. - Bagaimana aku bisa bilang?
Kamu pasti akan malu.
Kamu baru bangga kalau pacarmu profesor.
Kamu malu pacarmu sopir, makanya kamu bohong, 'kan?
Aku tidak bisa tidur
menyopiri bedebah mabuk dan kamu diwawancara dan dapat penghargaan.
Lalu apa, pakaian bermerek?
Kamu pikir aku senang kamu belikan barang mahal?
Kenapa kamu panggil aku kemari?
Kamu butuh aksesoris menyedihkan memakai baju itu dan menyelamatimu?
- Dasar bedebah. - Mau aku bicara lebih jujur lagi?
Aku tidak ingin memberimu selamat atas penghargaan itu.
Tiap kamu terima telepon selamat, hatiku hancur
dan aku merasa seperti parasit yang menumpang. Menjijikkan!
Lalu?
Lalu apa?
Kamu melakukan ini karena mau aku yang minta putus, 'kan?
Kamu saja yang bilang kita putus.
Kenapa?
Kamu tidak berani mengatakannya?
Sial.
Dasar orang bodoh menyedihkan.
Bangun, ayo kita pergi.
Apa kamu tahu?
Jun Kyung selalu berbohong.
Meskipun dia sebenarnya sangat rapuh,
dia berpura-pura kuat, baik-baik saja,
dan tegar.
Dia selalu berpura-pura seolah tidak ada apa-apa.
Padahal dia tidak bisa bohong.
Dulu
kalau ada apa-apa dengan Jun Kyung,
dia selalu datang padaku dan menceritakan semuanya,
tapi sejak bertemu kamu, hal itu jadi
jarang terjadi.
Aku jadi sedikit kecewa.
Aku agak sebal kepadamu, tapi
kurasa itu wajar.
Jadi,
saat dia meneleponku hari ini,
kupikir, "Asyik!"
Aku senang sekali.
Tapi dia tidak mau bilang ada masalah apa.
Jadi, aku juga tidak bertanya.
Tapi
dulu Jun Kyung tidak seperti ini.
Kalau ada yang membuatnya marah, dia akan marah.
Kalau dia sedih, dia akan menangis.
Maksudku...
Apa kamu mengerti maksudku?
Ya.
Konyol sekali.
Kamu tidak tahu apa-apa.
Dia hanya bilang itu salahnya.
Baiklah.
Jun Kyung pasti melakukan kesalahan.
Tapi,
aku akan selalu memihak Jun Kyung.
Aku sepenuhnya berat sebelah.
Terima kasih.
Mulai sekarang,
tolong teruslah berpihak padanya.
Akan aku awasi.
- Di mana Jun Kyung? - Dia sudah tidur pulas.
Terima kasih sudah mengantar Soo Jin, Do Hyun.
Jun Kyung juga.
Hati-hati di jalan.
Ayo.
Maafkan aku.
Hei, kenapa tidak dimakan?
Minya mengembang.
Baik.
"Kantor Pengelola"
Ja Yeong.
Ja Yeong.
Dia...
Istriku penderita Alzheimer.
Ponselnya mati. Sepertinya baterainya habis.
Aku sudah mencari di seluruh area perkemahan,
tapi kami tidak punya tetangga, jadi, dia tidak punya tujuan.
Kami sedang memeriksa CCTV, jadi, mohon tunggu sebentar.
- Ya. - Hanya ini jalan keluar dari kamp.
Bisa saja dia pergi ke gunung.
- Apa ini pernah terjadi sebelumnya? - Tidak, ini pertama kalinya.
- Itu Anda, 'kan? - Ya, itu aku.
Mungkinkah ini orangnya?
Sepertinya dia sedang melihat Anda.
Sepertinya dia menelepon sambil melihat ke arah Anda.
"Persimpangan Tiga Desa Palbon"
Anda tidak bertemu dengannya?
"Stasiun Palbon, Jembatan Yangmun"
"Pos Polisi Palbon"
Makan malam kantor?
Kamu tidak bilang apa-apa soal itu.
Hari ini ada makan malam kantor.
Aku tidak bisa melewatkan acara hari ini.
Sepertinya aku akan pulang terlambat.
Baiklah.
Sudah lama, 'kan? Minumlah dan bersenang-senanglah.
Ya, jangan menungguku. Tidurlah lebih dulu.
"Halte Bus"
Hei, Ja Yeong.
Jin Ho,
kamu sudah naik bus?
Belum.
Jin Ho.
Jadi, sekarang kamu di mana?
Ja Yeong, orang-orang sudah memanggilku.
Aku akan pulang naik taksi. Jangan khawatir, tidurlah duluan.
Sudah dulu, ya.
Jin Ho,
maafkan aku.
Lagi-lagi aku menyusahkanmu.
Aku tulus mendoakan kebahagiaanmu.
Kukira aku juga akan bahagia di sisimu.
Sepertinya itu tidak akan terjadi.
Jin Ho.
Jin Ho.
Jin Ho.
Aku tidak tahu sampai kapan aku akan mengingatmu,
tapi semoga kenangan terakhirku
adalah kamu.
Kamu baik-baik saja?
Aku yang bersalah, kenapa kamu mengkhawatirkanku?
Kamu tidak melakukan kesalahan.
Aku yang...
Maafkan aku.
Terima kasih sudah menahanku.
- Pak. - Ya?
Anda harus pulang sekarang.
Kami sudah menghubungi perusahaan taksinya.
Begitu ada kabar, kami akan langsung hubungi Anda.
Tidak apa-apa, akan kutunggu.
Anda sudah menunggu terlalu lama.
"Polisi yang Ramah dan Terpercaya Bersama Masyarakat"
Anda mungkin sudah tahu,
panti wreda berbeda dengan rumah sakit lansia.
Fokus kami perawatan sehari-hari, bukan pengobatan.
Kami memastikan para pasien bisa makan dengan nyaman
dan juga bisa hidup dengan aman.
Kami merawat seluruh aspek kehidupan mereka sehari-hari.
Lebih mudah begitu. Mudah dipahami.
Seperti yang terlihat, ada kelas melukis atau menyanyi,
olahraga, dan beragam program lainnya.
Para staf dan perawat kami
akan merawatnya seperti keluarga, jadi, jangan terlalu khawatir.
Yang akan tinggal di sini ayah atau ibu Anda?
Aku.
- Daniel. - Aku bukan anak Ayah?
Aku sungguh...
Benarkah aku bukan anak Ayah?
Kenapa Ayah membohongiku?
Daniel, lihat ayah.
Bukannya ayah bohong, tapi...
Aku tidak bisa memercayai siapa pun lagi.
Ibu
akan membawaku
kembali ke Jerman.
Sekarang semuanya sudah berakhir.
Semuanya sia-sia.
Anda juga tahu, kan?
Waktu itu...
Saat aku datang menemui Anda...
Waktu itu Anda sudah tahu, 'kan?
Padahal aku sangat menyukai Anda.
Kenapa Anda tidak bilang? Kenapa?
No comments yet. Be the first to leave one.