প্রথম 200টি লাইন।
WE ARE ALL TRYING HERE
KOMPLEKS HYOWON
Kau tinggal di mana?
Akan kusebarkan koin ini untukmu!
Kau tinggal di mana?
Dulu salah satu muridku menulis sebuah kisah.
Seorang gadis akhirnya berkesempatan untuk berkencan dengan gebetan lamanya,
tapi dia bangun kesiangan dan telat datang.
Gemas saat membacanya.
"Kubilang, "Hei, jika itu aku, aku pasti bangun subuh untuk bersiap-siap.
Aku pasti tak bisa tidur.
"Kenapa dia bisa bangun kesiangan saat mau menemui gebetannya?"
Tahu apa katanya?
"Saat aku merasa dicintai,"
aku merasa tenang dan tidur nyenyak,
"seolah belum pernah tidur."
Aku tidur pulas semalam.
AKU TIDUR PULAS SEMALAM
DONG-MAN
Apa maksudmu?
Persis kayak yang kutulis. Aku tidur pulas semalam.
Baguslah jika kau tidur pulas.
Aku tak tidur sama sekali.
Kenapa?
Kukirim skenarioku kepada Eun-a,
tapi belum ada tanggapan.
Aku jadi gelisah.
Apakah wajahmu akan menjadi datar?
EUN-A, PRODUSER
Hei, ada panggilan dari Eun-a. Sudah, ya.
Ya ampun.
Halo, Eun-a.
Sutradara Lee.
Bacaan yang bagus.
Aku lega sekali.
Aku benar-benar khawatir.
Eun-a, kau masih di kantor, 'kan?
Mau makan malam?
Aku sudah ada rencana nanti malam.
Akan kukirim catatanku lewat surel.
Bagaimana perasaanmu belakangan ini?
Belakangan ini?
Aku baik-baik saja.
Bukankah semuanya terlihat di data?
Terkadang,
datanya tidak sesuai dengan pengakuan peserta.
Boleh beri tahu apa perasaanmu saat ini?
- Maaf? - Apa perasaanmu saat ini?
Baik-baik saja.
CEMAS
Nona Byeon Eun-a!
Lewat sini.
Aku mau memberitahukan sesuatu.
Kami telah menemukan orang lain berpola emosi "tidak diketahui" sepertimu.
Di sini.
Profil emosinya cocok dengan kondisimu saat mimisan.
Ini baru terdeteksi sekali, jadi kami masih perlu memantaunya,
tapi apa pun itu, sudah ada orang lain.
Ada pesan "tidak diketahui"?
Ternyata ada sekitar 20 emosi
yang belum ditentukan sebutannya.
Orang-orang dengan pola yang sama berkumpul untuk berdiskusi
dan menentukan sebutan apa yang tepat.
Kayaknya seru juga.
Aku suka membuat nama.
Semoga "tidak diketahui" juga ada di jamku.
Kapan pesan itu muncul, Eun-a?
Saat aku mimisan.
Saat ada amarah yang meluap-luap,
keputusasaan,
dan ketidakberdayaan yang tak tertahankan.
Saat itulah aku mimisan.
Bukankah itu akibat tensi tinggi?
Aku penasaran emosi apa itu.
Apa sebutannya, menurutmu?
"Merusak diri".
Entah kenapa,
kayaknya lebih menakutkan daripada "lapar".
Ada "lapar" juga?
Tentu saja.
Tapi itu bukan emosi.
Sepertinya, 'kan?
Tapi itu cocok dengan kondisinya.
Saat itulah aku terpukau.
Yang beri nama "lapar" harus diberi penghargaan.
Aku menderita, tapi meski begitu, aku sangat terkesan.
"Lapar"?
Sungguh sebutan yang pas.
Aku sangat menyukai orang yang pintar merangkai kata-kata.
Dulu kakakku suka menulis puisi.
Katanya ada dua tipe penulis.
Yang pernah membaca habis kamus minimal sekali dan yang belum.
Kakakku sampai tiga kali.
Wah.
Dia akhirnya membuat kamus sendiri.
Dia sangat suka memakai kata-kata untuk mencari kebenaran.
Dia kerja apa sekarang?
Yah…
Kurasa
dia sekarang mengelas dan minum-minum,
sambil tetap mencari kebenaran.
Poster buronan lebih baik dari foto kenangan.
Serang. Jangan rusak diri.
Serang.
Serang.
Seingatku,
aku tak pernah lihat orang seperti biasanya.
Tapi sebagai kumpulan.
Kumpulan emosi.
Wah, aku suka itu.
"Kumpulan emosi".
Seolah tubuh mereka bukan dari darah dan daging.
Tapi dari satu emosi yang terus terbentuk sepanjang hidup.
Kita bisa menamai mereka semua
dengan satu emosi.
- "Waspada". - Benar.
"Sok keren".
"Sombong".
"Gelisah".
"Sebal".
"Bosan".
Mereka benar-benar
hanya kumpulan emosi.
Tak banyak kumpulan emosi yang bagus.
Aku selalu bertanya-tanya
kenapa orang di kereta bawah tanah jelek sekali.
Tapi kurasa yang jelek bukan wajah mereka.
Emosi mereka yang jelek.
Tahu kenapa bocil lucu?
Karena emosinya belum terbentuk.
Begitu ternyata.
Bagaimana denganku?
Apa kumpulan emosiku?
Katakan saja kesan pertamamu.
Jangan diubah.
"Cemas".
Kau benar.
Aku cemas.
Tapi bukankah kecemasan bagian dari sifat manusia?
Kita muncul sebagai individu terpisah,
jadi kenapa kita tak merasa cemas?
Kata favoritku
adalah "ketenangan".
Tenang dan damai.
Aku belum pernah merasakannya,
tapi aku punya gambaran seperti apa rasanya.
Rasanya sangat aman
dan hangat.
Seperti makan jeruk di bawah selimut saat musim dingin, sambil membaca komik,
tapi jauh lebih menenangkan.
Lihatlah, aku bawel banget.
Kau tahu kenapa?
Setiap kali aku merasa tiba-tiba diserang gelombang kecemasan,
aku jadi berisik dan terus mengoceh
untuk menghilangkannya.
Aku takut kesunyian.
Aku takut
kebenaran langsung muncul dalam kesunyian.
Tanpa diduga.
Kebenaran seperti apa?
Saat lagi sunyi…
Aku merasa ada setan mirip Gollum yang muncul…
Dan berbisik di telingaku.
Kau…
Tidak berharga.
"Kau…"
"Tidak berharga."
Biasanya aku tak menonton
film yang kuperankan.
Mungkin lebih tepatnya, "Aku tak bisa".
Karena kurasa kesalahanku banyak.
Tapi kali ini, referensi novelnya sangat bagus,
jadi mustahil ada kesalahan.
Kupikir, "Akhirnya aku memerankan film yang membuat putriku bangga."
SESI TANYA JAWAB IBUKU
Sebelum jadi ibunya, sebagai aktris berpengalaman,
aku selalu punya rasa dahaga itu.
Pak Choi mengundang kita minum di Agit.
Katanya dia yang traktir.
Dia sangat senang.
Satu juta tiket dalam waktu singkat.
Kini dia berharap sepuluh juta tiket terjual.
Kau ikut, 'kan?
Aku berencana pergi ke restoran yang telah kutunggu selama dua bulan.
Tak kusangka kau bisa menunggu selama itu, Mi-ran.
Aku serius soal makanan.
Kita pergi minum saja. Pak Choi sudah menunggu.
Jangan bilang kau "serius" soal sesuatu.
Cukup bilang "Aku suka makanan".
Itu terdengar jauh lebih tulus.
Memakai ungkapan kekinian biar terlihat "keren", seperti sebutanmu,
sama sekali tak keren.
Politisi dan artis yang tak punya gaya ekspresi sendiri
tak akan bertahan lama.
- Lain kali saja kita minum. - Baik.
- Sampai jumpa di rumah. - Jaga diri.
- Kerja bagus. - Bagus, Semuanya.
Jangan terus melihat ponsel.
Sesenang itukah kau?
Ada aroma kesuksesan di balik angka ini.
No comments yet. Be the first to leave one.