প্রথম 200টি লাইন।
Namaku Sadali.
Aku melukis dengan kata-kata.
Karena kadang warna tak mampu menggambarkan segalanya.
Aku lahir di Bukittinggi.
Sebuah kota yang dingin, tapi hatinya hangat.
Di sanalah aku mengenal debar cinta pertama.
Arnaza.
Sadali, jadi menantu Ibu, ya?
Alhamdulillah.
Lalu aku merantau ke Jogja.
Katanya, di sana cita-cita bisa tumbuh seperti tumbuh seperti bunga.
Aku cuma cari kamar sih, Mbak. Bukan rumah.
Tapi yang saya sewakan rumah. Bukan kamar.
Tapi kalau aku lihat-lihat dulu boleh, 'kan, Mbak?
Untuk?
Siapa tau aku enggak salah dan nemuin apa yang aku cari.
Emangnya kamu tau rumah ini disewakan dari mana?
Tau dari berita kampus.
- Oh, kamu anak ISI. - Anak bapak dan ibuku, Mbak.
Kuno amat bercandaan kamu.
Saya, Mera.
Aku menanam harapan, tapi yang tumbuh justru cinta yang baru.
Mera.
Perempuan yang rumit dan kuat itu jadi sumber segalanya dalam hidupku.
Lukisan, tulisan, juga harapan.
Arnaza, semoga suratku tiba di kamu tidak sampai jutaan tahun cahaya.
Apa sih, Uda?
Kamu tau kan? Kalau cahaya bintang tiba di Bumi
harus menempuh jutaan tahun cahaya itu?
Saat tiba di Bumi,
bintangnya sendiri sudah mati.
Tapi kenyataan tak selalu sejalan dengan harapan.
Mera menghilang seperti ditelan Bumi.
Aku mencarinya,
tapi setiap jejak yang kutemui berhenti di sunyi.
DIJUAL
Sepertinya,
dia memang tak ingin ditemukan.
Lalu di sinilah aku sekarang,
berharap waktu bisa membantu lupa.
Meski diam-diam aku tahu,
yang ingin dilupakan justru yang paling menetap.
Jadi, ini pameran tunggal pertama kali Mas Dali, ya?
Sebelumnya 'kan belum pernah.
Iya, pameran tunggal belum pernah.
Selalu bareng pelukis-pelukis yang lain.
Soalnya, saya takut sendirian.
Jadi, yang disuarakan di pameran tunggal nanti apa, Mas Dali?
Masih dirahasiakan.
Almarhum Pak Jim pasti sedih.
Lihat pelukis favoritnya jadi seperti ini.
Aku mulai lupa rasanya gelisah.
Aku berhenti resah, berhenti berharap.
Dan akhirnya aku berhenti merasakan apa pun.
Apa pun.
Naz, ngapain di sini?
Pak Akbar.
Bos Uda ini suka lukisan, ya?
Iya, ini dia mau kasih kata sambutan.
Ayo!
Ini partner.
Mustofa.
- Apa kabar? - Baik, Pak. Ini istri saya, Pak.
Halo, Pak.
Bu.
- Halo, Ibu. - Gimana?
- Seru? Rame? - Seru.
- Seru. - Seru sekali.
- Suasananya kayak gimana? - Seru sekali, ya?
Ya.
Bagaimana kalau kita ke dalam?
- Oh ya. Mari, mari. - Mari, Pak, Bu.
Yuk!
Pak.
Ayo!
Silakan.
Ah, lama-lama tipis meja itu, Uda.
Dicorat-coret, kau lupa hapus.
Lalu Uda Sadali coret lagi, lalu kau hapus lagi.
Makanya jangan dihapus.
Mahal itu coretannya Sadali.
Bicara coba dengan bosku.
Udah sampai mana kamu belajar melukismu?
Moles aja belum, Mas.
Mas, ini.
Makanya main-main ke tempatku.
Iya, nanti kalau libur.
Wih.
- Sadali. - Bud.
- Sehat, Bud? - Sehat-sehat.
Fah?
Mau bir, enggak?
Enggak, Uda.
Aku udah lama enggak minum.
Air putih saja.
Sebentar, ya.
Sejak kapan enggak minum kau, Bud?
Sejam lalu?
Di Jakarta mengubahku jadi lebih baik, Dal.
- Silakan. - Terima kasih.
Kamu dari masih minum udah baik kok, Bud.
Aku ketemu Mbak Mer di Jakarta.
Di Jakarta dia sekarang?
Mungkin.
Cuma aku enggak nanya.
Kita cuma papasan sebentar.
Ibu.
Ibu.
Hai.
Kok sore sekali pulangnya kamu, Nak?
Iya.
- Ibu, tebak. - Iya.
Siapa tadi yang menang lomba melukis di sekolah?
- Bukan kamu, 'kan? - Aku, ibu.
- Mana lukisannya? - Dipajang di sekolah.
Wah.
Emangnya kamu melukis apaan, sih?
Objek favorit aku.
Objek favorit kamu? Apa, ya?
Ayo tebak?
Pohon nanas.
- Ibu, lah. - Ibu?
- Iya. - Masa?
Ibu 'kan sumber inspirasi yang tidak habis-habis.
- Waduh, kata siapa tuh? - Ada, deh.
- Mau minum? - Mau.
- Panas, ya? - Iya.
- Kikan? - Hai, Jes.
Hai, Kikan. Hai, Ibu.
Hai, Sayang. Apa kabar?
Kenapa muka kamu?
- Biasa. - Berantem lagi sama papa kamu?
Iya.
Ya udah, ibu ke depan, ya.
Iya.
Nanaz.
Naz rindu Bukit, ya?
Besok mau ke sana?
Naz memang selalu rindu dengan Bukit, Uda.
Tapi enggak perlu lah pergi ke sana.
Lagi pula, Uda juga 'kan sibuk.
Atau Naz mau liburan?
Ya?
Memangnya Uda enggak sibuk?
Tuh, 'kan? Naz ingin liburan, ya?
Tuh mukanya langsung ceria.
Kapan?
Nanti kukabari.
Tunggu Uda Mustofa dapat izin dulu dari kantornya.
Naz aja dulu ke sini. Kita jalan-jalan dulu berdua.
Baru Uda Naz tuh menyusul, ya?
Menarik.
Tapi dibolehin enggak ya, sama Uda?
Coba tanya sajalah dulu, Naz.
Ya sudah.
Hei, helaan napasmu, Naz.
Kenapa?
Helaan napas orang butuh liburan.
Apa sih, Latifah?
Fah, sudah dulu, ya?
Oke. Naz, langsung tanya, ya?
Uda?
Uda?
Uda Sadali?
Satu dulu, yang lain nyusul.
Ini benar kamu yang lukis?
Enggak ada kamu dalam lukisan ini.
Dua bulan. Waktumu dua bulan.
Itu bukan waktu yang lama.
Aku ingatkan sekarang.
Saya saja.
Terima kasih.
Tifah?
Naz!
Aku rindu sama kamu.
Aku pun rindu. Kamu cantik sekali.
Naz juga.
- Naz, silakan. - Terima kasih, Fah.
Jadi, kita cuma punya waktu sebentar nih, sebelum Uda Mustofa menyusul?
Iya.
Makanya besok ambil cuti, supaya kita bisa jalan-jalan seharian. Ya?
Ya? Ayolah.
Gayamu, masih saja manja.
Seperti ini kok dibiarin jalan duluan ke sini?
Sebetulnya Uda Mustofa itu sudah mau pergi sama aku ke sini.
Tapi biasalah, urusan kantor.
Malah Uda itu suruh aku untuk tunda.
Naz enggak mau lah.
Naz langsung keluar tadi gaya manja Naz.
Uda Sadali masih sering kemari.
Sungguh gila rasanya aku menahan diri tidak bilang ke dia.
Hei!
Perempuan yang pernah kamu sakiti itu sahabatku!
Naz udah enggak sakit hati.
Yakin?
Aku tau kamu, Naz.
Makanya aku bingung ketika Naz menerima pinangan Uda Mustofa.
Dimakan.
Terima kasih.
Mbak Mera minta nomor teleponku.
No comments yet. Be the first to leave one.