প্রথম 200টি লাইন।
Ayo!
Sakit!
Aku tahu.
Kau akan baik-baik saja.
Cepat!
Sakit!
- Jangan disentuh! - Panas!
Jangan disentuh!
Kau akan baik saja.
Aduh!
Aduh!
Kita hampir sampai!
Minggir!
Bertahanlah.
Sedikit lagi.
Coco, kau tidak apa?
Kemarilah, dasar!
Maria, sedang apa kau? Ayam untuk apa itu?
Entahlah. Aku ingin mengeluarkannya.
Jangan, ayamnya bisa tertabrak.
- Kalau begitu ini untukmu. - Tidak!
- Aku sibuk. - Tidak bisa.
Aku bilang tidak bisa! Aku...
bisa.
Ayam cantik.
Aku sudah muak dengan keran ini!
Maria!
Matikan pompa airnya!
Yann masih belum datang. Aku harus bagaimana?
Jangan, Yann. Turun.
Pergilah!
Apakah parah?
Kau tahu apa yang terjadi?
Dia tak apa.
Dia bersama kakaknya.
Dia tidak menjawab.
Kami datang karena kau tak bisa dihubungi.
Aku sedang bekerja.
Apa kau tahu putramu sendirian?
Dia sudah tidur saat aku pergi.
Kakaknya baru mau pulang dari latihan.
Dia pemain trompet.
Sudah dekat belum?
Sedikit lagi.
Dia di ruang tunggu bersama kakaknya.
- Baik. - Dia sudah boleh pulang.
- Dadanya saja? - Ya.
Luka bakar tingkat dua.
Kau harus hati-hati dengan bekas lukanya.
Itu dia.
Kau tidak apa?
Coba perlihatkan.
Dia ingin menggoreng kentang.
Tapi apinya membesar dan dia siramkan air.
Kau menggoreng kentang tengah malam?
Aku lapar.
Dapurnya hancur karena aku.
Tidak masalah. Dapurnya memang jelek.
Yang membalut lukanya sampai empat orang.
Dia tidak mau disentuh.
Aku belum makan. Aku lapar.
Ayo makan. Tapi bukan kentang goreng.
Ada seekor ayam di tempat kerja Ibu.
- Seekor ayam? - Ya.
Sungguh?
Ibu, sini!
Mainanku tidak ada!
Jean-Jacques!
Ibu, sini!
Coba cek adikmu.
Ibu sedang sibuk.
Pergilah.
Tak ada yang menyentuh mainanmu!
Tapi di sini tidak ada!
Di mana lagi? Lihat, kamar ini saja berantakan!
Sini bantu Ibu.
Hitungan ketiga.
Satu, dua.
Ayo.
Hati-hati.
Terlalu besar. Lihat.
Sial.
Harus dibongkar.
Kita tidak mungkin membongkarnya.
Kalau begitu mau dilempar lewat jendela?
- Ibu, mainanku di mana? - Tidak tahu!
Ibu akan carikan.
Coba kau lepas pintunya.
Pintu tidak bisa dilepas.
Mainan apa?
Mainan pesawat.
Sudah cek di bawah ranjangmu?
Berantakan sekali di sini. Celana dalam,
kaus kaki lama.
Kau harus merapikannya.
Ini.
Ini.
Rusak.
Perbaiki saja.
Dia akan senang di sini.
Ya.
Aku taruh di sini saja?
Ya.
Katak.
- Selamat tinggal. - Ayo.
Pelan-pelan.
Saatnya pergi.
Selamat tinggal.
Dia tidak terbang.
Tidak bisa. Sayapnya dipotong sejak lahir.
Kenapa?
Supaya tidak terbang jauh.
Kita tak bisa meninggalkannya di sini. Hujan.
Dia akan sangat senang.
- Tapi... - Tidak!
Ibu, aku mohon!
Kita tak bisa meninggalkannya.
Halo?
Ya.
Itu aku.
Mau bertemu sekarang?
Aku tidak bisa.
Kenapa kau ingin menemuiku?
Aku tidak apa-apa.
Dia juga baik saja.
Jangan datang. Kami tidak di rumah.
Tidak tahu.
Aku tidak mengerti, aku...
Ibu, aku mohon!
Aku harus pergi.
- Aku mohon, Ibu! - Tidak!
- Ayo pergi. - Ibu, ayolah!
Jangan takut. Ikuti perkataan Ibu.
Tadi Ibu bilang apa?
- Bernapas. - Lihat Ibu.
Geli.
Tunggu.
Pelan-pelan. Menunduk.
Sudah.
Cepatlah.
- Hentikan. - Sudah, Sayang.
Hentikan.
Lagi.
- Buka pintunya. - Tidak, tidak.
Tidak boleh ada yang masuk.
Ibu harus pergi.
Bisa temani adikmu sampai tidur?
Baiklah.
- Hati-hati. - Jangan cemas, Ibu pergi saja.
- Aku bisa salah. - Sampai nanti.
Bukannya marah, aku hanya tidak suka polisi.
Kau bilang tidak mau ribut lagi. Ada masalah apa?
- Polisi itu menyebalkan. - Terserah.
Mau pesan bir.
- Mereka baru pertama kali datang. - Benar.
- Aku mau bir. - Tunggu giliranmu.
Tidak lihat dia sibuk? Tunggu.
Menyebalkan.
24 euro.
Terima kasih.
Sylvie, kenapa kau tidak pergi saja?
Jangan ikut campur.
Proyekmu bagaimana?
Yang di Spanyol itu.
- Telepon mereka. - Lalu pergi begitu saja?
Ya, pergilah dan kerja sebagai programmer musik mereka.
Untuk apa menunggu?
Ini.
Sylvie, saudaramu sakit.
Sial.
Jangan! Jangan sentuh dia.
Hati-hati!
Kita tak bisa meninggalkannya di sini.
Harus kita pindahkan.
- Jangan sentuh dia! - Dia akan terinjak!
Lepaskan. Jangan mendekat.
Jangan tinggalkan dia di sini.
Berhenti menyentuhnya.
Seperti reaksi kimia.
Atau termal.
Dia akan punya bekas luka.
Meski kau ada di rumah, dia akan tetap melakukannya.
Kurasa tidak.
Sofiane hanya fokus pada satu hal.
Apa ini?
Jangan sentuh kuenya!
Kau sudah gila?
Dia akan membunuhmu!
- Ini enak. - Jangan dimakan!
Tutup pintunya!
Ya, ya. Sudah selesai.
- Aku lapar. - Lalu?
Aku belum makan dua hari.
Apa kau tahu Isabelle mengusirku?
Lagi?
- Serius? - Ya.
Dia sudah tidak waras.
Gila sekali.
- Dia membuang piringan hitamku. - Benarkah?
Aku ditinggal di koridor hanya pakai celana dalam.
No comments yet. Be the first to leave one.