প্রথম 200টি লাইন।
- Hei. - Ibu!
Astaga.
Kau baik-baik saja? Kau terluka?
Astaga! Aku harus bagaimana?
Maafkan aku!
Tidak apa-apa.
Senang bertemu denganmu. Halo.
Apa?
Bisa minta air lagi?
- Tentu. - Juga bir.
Hei! Kau selalu makan di restoranku.
Bu!
EPISODE 7
Seharusnya Ibu menelepon sebelum datang.
Bagaimana dengan restoran?
Ibu pikir harus memberimu lauk ini
selagi masih segar.
Ibu akan menyimpan ini dan pergi.
Tidak, kau baru datang.
Tinggallah sebentar.
Aku akan mengantar Ibu pulang.
Aku akan segera kembali.
Ini. Duduklah.
Maaf mengganggu kencanmu.
Sama sekali tidak.
Siapa namamu?
Aku Lee Ui-yeong.
- Ui-yeong? - Ya.
Aku sudah lama mengenalmu, tapi tak pernah tahu namamu!
Kau selalu datang dengan pacarmu, bukan, teman.
Kau bekerja di hotel dan suka soju.
Kau bisa minum dua...
Tidak, satu botol soju.
Ya.
Dia ingat semuanya!
Aku mengambil barang dengan menguping di meja
untuk melihat apa ada yang butuh sesuatu.
Baru-baru ini kau bilang akan melakukan kencan buta.
Di sanakah kau bertemu Tae-seop?
Ya, benar.
Kebetulan sekali!
Sudah berapa lama kalian berkencan?
Kami...
Kami belum resmi berpacaran.
Ini juga kali pertamaku di sini. Dia harus mengambil kacamatanya.
Begitu rupanya.
Tidak apa-apa, kalian bukan anak-anak.
Aku merestuimu.
Kalian berdua tidak boleh membuang waktu.
Kau harus mengenalnya dalam segala hal.
Apa?
Ibu sudah siap?
Aku akan mengantar Ui-yeong, lalu Ibu.
Kalian berdua bisa duduk di depan.
Tidak, kau bisa duduk di depan!
- Tidak, aku lebih suka di belakang. - Apa?
Kau bisa duduk di depan!
Tidak apa-apa. Duduk saja di depan.
Kalian berdua tampak serasi.
Tidak aman duduk seperti itu, Ibu.
Apa aku sudah bilang kalian berdua tampak serasi?
Ya.
Kau mengatakan itu sepanjang perjalanan.
Astaga!
Sungguh pasangan yang manis.
Terima kasih. Selamat malam.
- Hati-hati di jalan. - Baiklah.
- Tunggu. - Hati-hati di jalan.
Ibu akan duduk di depan.
- Aku akan duduk di depan. - Baiklah.
Aku mengatakan ini bukan karena Tae-seop putraku.
Dia pria yang baik. Tolong beri dia kesempatan.
Baiklah.
Datanglah ke restoran kapan saja
jika ada pertanyaan tentang keluarga kami.
Akan kuberi tahu semuanya. Aku tidak akan merahasiakan apa pun!
- Terima kasih. - Ibu.
Masuklah.
Selamat malam.
Sampai jumpa!
Berkencan berbeda sekarang.
Di usia 20 tahun, kami hanya saling mencintai.
Tapi sekarang, aku tidak bisa hanya memikirkan perasaanku.
Ini mungkin hubungan terakhirku sebelum aku menikah.
Kami harus mempertimbangkan keluarga dan keuangan satu sama lain.
Astaga!
Ibu mengagetkanku.
Hei, Ibu.
Kenapa kau sangat terkejut?
Ibu kira Ibu salah masuk rumah.
Aku hanya sedang berpikir.
Ibu baru pulang berolahraga?
Ya, Ibu berjalan-jalan.
Lalu kau?
Aku? Ibu tahu...
Ibu.
Aku penasaran, mau tanya.
Ibu ingin aku memacari pria seperti apa?
Apa Ibu yang berpacaran dengannya?
Jangan repot-repot jika kau tak yakin tanpa persetujuan Ibu.
Minggir.
Kenapa aku repot-repot bertanya ke Ibu?
Ibu tidak pernah mempermudah apa pun untukku.
Ibu seperti ibu tiri yang jahat.
Ibu mau mandi lebih dahulu!
Ya, ini hidup dan cintaku.
Aku akan memilih yang kuinginkan dan menghadapi konsekuensinya.
Astaga.
Apa?
Aku baru pulang.
Ibuku membuat keadaan menjadi canggung, bukan?
Jangan biarkan dia terlalu memengaruhimu.
Tidak, aku bersenang-senang hari ini.
Beri tahu ibumu aku senang bertemu dengannya.
Aku tidak bisa menunjukkan wajahku di restorannya lagi.
Hilang sudah satu restoran bagus.
Tunggu.
Bukan itu yang harus kucemaskan. Bukan itu intinya!
Sayang, dua porsi ceker ayam.
- Yang satu ekstra pedas. - Baiklah, Sayang.
Tidak, aku tidak bisa! Tidak mungkin.
Aku hanya bisa memakannya.
Aku harus bagaimana?
Hei.
Kau memakan makanan pedas?
Ayolah. Ini lipstik!
Kenapa kau memakai lipstik?
Cuacanya bagus.
Cuacanya hangat, bunga bermekaran
begitu pula cinta.
Entahlah. Tamu penting mungkin akan datang.
Tamu penting? Siapa?
Kau ingat
pelanggan tetap yang selalu menutup pintu dengan lembut?
Orang yang kau sukai karena dia sangat lembut dengan pintu?
Yang pacarnya selalu makan dada ayam?
Apa kau menunggunya?
Tidak, mereka tidak berkencan.
Hanya itu yang bisa kukatakan saat ini.
Jadi...
Lupakan saja.
Kau sudah tampak sempurna.
Agar ceker ayamnya lebih mudah dimakan...
Hei, ini acara tentang makanan kesukaanmu.
Astaga.
Mereka menghabiskan tiga kotak lagi per hari.
Astaga, setiap pekerjaan itu sulit.
Astaga.
Ya ampun.
Mari kita tonton yang lain.
- Ibu sedang menonton acara itu! - Skandal Son Jeong-a
yang melibatkan perselingkuhan
dan suap seksual menjadi topik pembicaraan.
Tapi agensi Son
belum membuat pengumuman publik
untuk mengakui atau menyangkal tuduhan.
- Skandal ini menyebar... - Lihat wajahnya.
hanya dalam beberapa hari...
Kenapa dia melakukan hal itu dengan wajah seperti itu?
Benar, bukan?
Sutradara film yang sudah menikah...
- Ibu bisa terus menontonnya. - Apa?
Menurut rumor, dia mengencani mereka.
Kau mau pergi?
Ya, kepalaku sakit. Aku harus berolahraga.
Baiklah.
- Seseorang di industri... - Ada apa dengannya?
Kenapa dia masih tidur?
Apa kau Putri Tidur?
Pangeran Tidur?
Dia jelas lebih seperti pelayan daripada pangeran.
Apa?
Halo, Pusat Kebugaran Deukgeun Deukgeun.
Atau buruh.
Kau terdengar seperti baru bangun. Kau di rumah?
Ya, benar.
Kenapa? Aku sudah siap pergi ke pusat kebugaran.
Pusat kebugaran tutup sampai AC-nya diperbaiki.
Kenapa kau tak pernah memeriksa pesan pengumuman?
Astaga, aku berharap olahraga akan meredakan sakit kepalaku.
Keluarlah dan jalan-jalan.
Kencangkan otot perutmu dan berjalanlah menjinjit.
Berjalan 8.000 langkah dan kirim foto
- sebagai bukti. - Dia bekerja dalam tidurnya!
Baiklah. Beristirahatlah.
Baiklah.
Baiklah, ayo jalan-jalan.
Makin berat kaki, makin ringan hatimu.
Apa?
Hei!
Kau tidak mau bangun? Kau sudah lama tidak libur!
Kau tidak ingin melakukan apa pun?
Pergi ke bank dan kantor pos?
Apa?
Tapi ini akhir pekan.
Jadi, penatu?
Bukan yang harus kau lakukan!
Apa yang ingin kau lakukan?
Bagaimana kau bisa hidup
hanya melakukan hal yang harus kau lakukan?
No comments yet. Be the first to leave one.