প্রথম 200টি লাইন।
ACARA INI MENGANDUNG ADEGAN KDRT.
PENONTON DIHARAP BIJAK.
Pedrito, Blanquita!
Kemarilah!
Cepat!
Aku sudah ceritakan kisah tentang ayam?
Dengan rubah yang mencuri telurnya setiap malam
dan memakan anak-anaknya?
Si rubah mengira mereka bodoh,
tapi para ayam berkumpul dan mulai bekerja sama
karena mereka sadar jumlah mereka banyak
dan rubahnya cuma sendiri.
Lalu suatu malam, si rubah datang untuk mencuri telur
dan para ayam menyergap mematuknya.
Lalu si rubah tak pernah mengganggu mereka lagi.
Batu, gunting, kertas.
Batu, gunting, kertas.
- Tidak! - Aku menang. Ke air.
Selama masa kecil mereka,
Blanca dan Pedro Tercero menikmati musim panas,
belum memikirkan gairah mencekam
yang akan membuat mereka gila seumur hidup.
RUMAH ARWAH
Nenekku tak bercerai, seperti yang lazim pada zaman itu,
karena suaminya menjauhi sihir dan eksperimen paranormalnya,
yang membuat nenekku merasa damai.
Kalian bertiga di sana?
Tentu saja, kalian selalu bersama.
Di sini cerah. Sangat bagus.
Di sana?
Mendung?
Aneh sekali. Kita tak begitu jauh.
Maksudku, secara fisik.
Aku tahu kita dekat dalam hal-hal penting.
Ya.
Ibu?
Ibu.
- Ibu. - Ibu.
- Ibu. - Ya?
Blanca menyembunyikan buku biologiku.
Dia juga pura-pura sakit untuk bolos.
Aku tak mau sekolah.
Jaime iri karena dia tak bisa ke pedesaan.
Jangan bertengkar.
Kalian akan saling merindukan saat kau di asrama
dan kau di pedesaan.
- Aku juga mau ke sana. - Ibu tahu.
Namun, kau tahu sikap ayahmu jika kau tak sekolah.
Kau boleh ke sana saat libur. Sebentar lagi.
- Bantu aku. - Ayolah, Jaimito.
Jangan begitu, Nak.
Ayo, biar kubuatkan kue favoritmu.
Ada apa?
Kau sudah dewasa.
Auramu berubah.
Kau menstruasi?
Bu, itu sudah sejak lama.
Nana menjelaskannya kepadaku
karena Ibu selalu di dunia sendiri.
Kita harus lebih sering bersama.
- Ya. - Di pedesaan.
Kakekku terus pergi ke Las Tres Marías
untuk meringankan perasaan terpisah dari istrinya.
Dia memasuki masa penuh kemakmuran
dan bisnisnya sukses seolah-olah diberkati.
- Selamat datang. - Selamat sore.
Aku tahu pelakunya.
Aku sudah menemukannya.
Mereka tak mau memanen kentang. Mereka minta naik gaji.
Satu lagi!
Ini baru tiba kemarin.
Ditemukan di kandang kuda.
"Hentikan penganiayaan. Perjuangkan negeri tanpa majikan."
Ini salahmu, Sánchez.
Kau makin lembek sekarang.
Ini terjadi di semua pertanian, Esteban.
Tak ada yang akan memberontak di Las Tres Marías.
Aku tahu cara menangani orang-orang ini.
Kau harus kendalikan dengan ketat.
Pakai cambuk jika perlu.
Dah.
Kita tak jadi bergembira bersama?
Sampai nanti.
Nona Blanca jelas suka di sini.
Dia sangat berbeda di sini, bagai ada dua Blanca.
Di kota, dia selalu sakit dan tak acuh, lihat di sini.
- Halo, José. - Halo, Nona.
- Kau lihat Pedro? - Di kandang kuda.
Lalu datanglah rubah.
Seperti setiap malam.
Untuk mengambil.
Untuk mencuri.
Kami lebih banyak.
Kami lebih banyak.
Untuk mencuri.
Untuk mengambil…
García! Kenapa kau tak bekerja?
Blanca!
Kau datang lebih cepat.
Aku membujuk ibuku.
Aku butuh udara pedesaan.
Lihat.
Aku membawakan hadiah.
Kurajut sendiri.
Kau makin besar.
Karena pekerjaanku.
Itu lagumu?
Aku mau memberimu kejutan.
Kejutan?
Ya.
- Ayo. - Apa?
Berhenti.
Diam.
Aku harus kembali bekerja.
Pergilah.
Lalu aku ada kelas di San Lucas,
mungkin malam ini?
Di tepi sungai.
Nenekku tak bisa mendekati Pancha seperti yang dia mau.
Bahkan saat dia mengetahui
bahwa putranya Esteban meninggal karena mabuk.
Dia tak bisa memaafkan dirinya karena tak bisa membantu
satu-satunya putra Esteban yang meneruskan namanya.
Karena meja dan papan tulisnya tak digunakan lagi,
kita bisa sumbangkan ke sekolah desa.
Itu sangat baik.
- Biar kutangani. - Terima kasih.
Anak-anak terbiasa dengan sekolah baru di San Lucas?
Ya.
Kata mereka, anak-anak Las Tres Marías adalah murid terbaik di sana.
- Berkatmu. - Bukan.
Berkat mereka sendiri.
Berkatmu juga, orang tua mereka.
Waktu cepat berlalu.
Itu membuatmu sedih?
Tidak.
Rasanya aneh.
Aku merasa selalu terlambat mengetahui hal yang biasa kutebak.
Bicaraku gila.
- Tidak. - Abaikan saja.
Mungkin karena aku tua.
Jangan begitu. Kau masih muda.
Kau lebih semangat daripada kami semua.
- Terima kasih. - Tidak!
Keluar! Cepat!
Keluar!
Keluar!
Kenapa aku baru tahu kau di sini dari seorang karyawan?
Halo.
Aku punya firasat harus kemari, jadi kami datang.
- Kau keberatan? - Tidak sama sekali.
Aku mulai merindukanmu.
Cobalah kue Nana. Kali ini aku tidak lupa.
Halo.
Enaknya.
Ladangnya indah, Ayah.
Kau dari mana? Bermain dengan babi?
Aku cuma jalan-jalan.
Aku mau Ayah mengajariku semuanya tentang Las Tres Marías
agar suatu hari aku bisa membantu.
Blanca, kau sudah cukup dewasa untuk bersikap seperti wanita.
Makanlah.
Kau kurus. Tak ada yang akan suka jika begini.
Jangan sampai ada perawan tua di sini.
Jangan begitu, Esteban. Kami baru tiba.
Itu demi kebaikannya.
Baiklah. Ada kabar apa dari ibu kota?
- Halo. - Halo, Pedrito.
Pastor José María!
Pastor!
- Pedro. - Apa kabar?
Aku senang kau terus datang ke sekolah.
- Seru? - Ya, aku belajar banyak.
Ini manifestonya.
MANIFESTO KOMUNIS
Hati-hati. Itu berbahaya, apalagi sekarang.
Kaum kaya menggunakan agama untuk mencegah yang miskin berkuasa.
Apa cuma itu yang kau ingat?
Aku berharap lebih darimu.
Yang mereka tidak tahu
adalah Tuhan ada di kanan,
tapi Yesus selalu di kiri.
Jangan lupakan itu.
Tidak!
Apa ini?
Tidak!
Apa yang kau lakukan?
Teganya kau.
Menyakiti makhluk kecil ciptaan Tuhan.
Biarkan dia berlatih menembak. Itu akan berguna.
Belas kasih.
Itu yang akan membantunya.
Belas kasih.
- Hei. - Apa?
Biar kubesarkan cucuku sendiri.
Kau membantuku membesarkan putraku, lihat hasilnya.
Jangan kurang ajar.
Kau kenapa?
Nak.
Kau tahu perbuatan majikan kepada Ezequiel Rojas dari ladang Sánchez?
No comments yet. Be the first to leave one.