প্রথম 200টি লাইন।
Tak ada di dunia ini yang punya pagar kawat berduri sebanyak cinta.
Tak ada yang menyamai cinta sebagai penyebab banyak perang besar.
Dalam melewati waktu, tradisi, menang dan kalah...
Cinta berdiri sendiri, bersinar terang.
Kau sudah selesai?
Bu, potong rambutku. Aku harus terlihat seperti Chiranjeevi. Ibu mau?
Cepatlah. Ini semakin larut.
Ibu lihat foto itu… Aku butuh potongan rambut seperti itu.
Ibu, lihat aku...
Dia harus memotong di sini... dan di sini... Bu, lihat aku.
Disini dan disini...
Hei, tunggu… Tempatmu bukan disini… Pergi kesana…
Kau tahu aturannya, kan Manamma? Ajari anakmu! Pergi sana!
Bukan di sana... di sini. Seolah-olah desa punya dia…
Duduk... jangan pergi ke sana. Kenapa kau kesana?
Semoga dia terbakar! Semoga tangannya terluka!
Kita yang bekerja keras, tak boleh masuk. Diam!
Bu, kenapa kita tak boleh masuk?
Begitulah. Karena mereka lain dengan kita.
Ini tak akan berubah sampai perbedaan itu ada.
- Pak, akan kubayar 3 bulan lagi. - Kau gagal bayar bunga? Bawa anakmu.
Kau tak bayar pinjaman. Kami tak bisa merebut ladangmu.
- Kami harus bagaimana lagi? Ambil ini. - Jangan ambil pintunya, Pak.
- Astaga! Waktu yang sulit, Manamma! - Jangan menangis, ibu.
Sabarlah, Manama.
Bu… Akan sangat bagus jika ayah masih hidup, kan?
Ibu masih hidup, kan?
Kita harus ambil kembali tanah kita dalam waktu setahun.
Caranya, ibu?
Caranya?
Jika kita kehabisan uang, kita harus kerja.
Kita harus kerja dan dapatkan uang. Itulah caranya.
Revanth, kudengar kau tak sekolah!
Ibumu mengeluh kau menari di jalan.
- Aku akan belajar, guru. - Ambil ini.
- Kau harus menyelesaikannya. - Baik, guru.
- Bu, sampai di sini? - Sampai di sana.
Apa kita dapatkan ladang kita kembali?
Ya, kita dapatkan itu kembali.
Revanth kami suka!
Hei, ke mari. Tunjukkan tanganmu.
Untukku?
Terima kasih Pak.
Ibu, aku menari dengan bagus. Pak Narsimham memberiku uang.
Aku sudah terkenal di sekolah, dan juga dapat uang.
Sekarang tak akan ada masalah!
Bagaimana dia memberi? Dia letakkan? Atau dia jatuhkan?
Dia jatuhkan.
Kau lihat?
Bagaimana kau bisa menyebutnya sebagai pemberian?
Dia melemparnya padamu tanpa rasa hormat.
Ingat ini, Nak.
Agar perbedaan ini berakhir...
Kelak kita harus beri mereka uang. Tangan kita harus ada di atas.
Kau harus kerja keras untuk itu.
Rumah, tanah, pekerjaan, pola pikir... Apapun itu.
Kita harus jalani kehidupan yang lebih baik.
Tangan kita harus beri uang, bukan mengambil.
Dheeru, bangun.
Dheeru, sudah waktunya... Bangun.
Cepat kemari!
Ayo.
“Membakar lemak… Menjadi bugar… Lakukan Zumba”… Mulai.
Subtitle by RhainDesign Palu, 31 Oktober 2021
Lagi…
Lompat…
Bagus!
Ini harus dikurangi, Pak.
Baik, kita coba sesuatu di pertemuan berikutnya, Bu.
- Terima kasih. - Terima kasih, Bu.
- Pagi, Pak. - Bicaralah.
Pak, Suamiku menyuruhku tak bayar, Pak.
Dia bilang aku belum kurus sedikitpun, jadi tak perlu bayar.
- Boleh, Pak? - Bagaimana bisa?
Memangnya kami beri jaminan? Kami harus mengajarimu Zumba gratis?
- Kau tak perlu datang. - Biar kutangani ini.
Jangan menyalahkan kami, Bu.
- Kau harus berusaha, kan? - Tentu, Pak.
- Berusaha? Serius? - Itu tak berhasil.
Kau cuma diam, menatap orang di sekitarmu.
- Bagaimana kau akan kurus? - Jaga bicaramu!
Aku punya bukti videonya. Mau lihat?
- Tunjukkan! - Jangan ribut.
Lihat bagaimana dia berolahraga.
Pak, itu bukan aku.
- Bukan aku. - Tak apa.
Hei, kenapa kau bersikap kasar dengan klien? Pergilah!
Tak apa, bu. Mari ubah rutinitas olahragamu.
Bayar kami hanya jika kau suka. Tak ada masalah sama sekali.
- Sampai jumpa besok, Bu. - Pak...
Pertama, pecat si pendek ini. Dia sangat tak sopan!
- Pergi sana! - Dasar bodoh!
Ada apa denganmu? Kita tak memberinya jaminan.
Kenapa biarkan dia pergi tanpa bayar? Dewi Lakshmi sulit mendukungmu.
Apa pun yang kulakukan, Dewi Lakshmi-mu tak akan mendukungku.
Benar!
Siapa Dewa Kekayaan dalam Kristen?
Manajer bank itu Dewa Kekayaan kita.
Begitu dia setujui pinjaman kita, kita terlepas dari semua kekacauan ini.
Kita mau ke sana?
Ya, dia meneleponku, kakak. Mereka menunggu kita di bank.
- Kita harus di sana tepat waktu. - Baik, kakak.
Revanth… Tunggu…
Kau apakan drainase-nya?
Sudah kuminta kau benahi selama 3 hari... kau mengabaikanku...
Tidak pak. Kemarin hari libur, Pak.
Hari ini aku ada urusan di bank. Nanti kubereskan.
Ok, aku juga sibuk.
Orang-orang mengeluhkan Mumba-mu sangat berisik.
- Aku harus bicara dengan mereka... - Itu bukan Mumba, Pak. Itu Zumba.
Terserah... Itu berisik.
Aku akan ke tempatmu besok. Ini mendesak. Akan kubereskan.
- Ok, Ayo. - Jangan abaikan kali ini.
- Kapan kita akan tinggalkan tempat ini? - Kawan...
- Tunggu... - Biarkan pinjaman disetujui.
- Kita akan sewa tempat baru. - Jika berhasil, kita harus rayakan!
Semua surat-suratmu sempurna… kau akan dapatkan pinjaman.
Tapi itu butuh waktu enam bulan. Dan 50 ribu.
50 ribu?
Untuk apa itu, Pak?
Untuk membuatmu maju.
- Membuat apa, Pak? - Meningkat!
Bagaimana itu bisa menjadi peningkatan, Pak?
Membeli riksha baru untuk rikshwala, itu akan tetap jadi riksawala.
Peningkatannya di mana, Pak?
Kau benar. Tapi pemerintah mengatur ini. Kami harus bagaimana?
Aku mulai dari nol, pak! Aku berhasil dirikan pusat Zumbaku sendiri.
Aku kerja keras Pak. Aku punya rencana hebat. Tolong, Pak.
Pak usaha kami sudah jelas.
Semua orang jadi gemuk, kelebihan berat badan, stres, dan tiroid.
Kami minta mereka belanjakan uang untuk kesehatan, bukan untuk tagihan rumah sakit…
Mereka akan antri di depan Pusat latihan Zumba kami, Pak.
Tentu saja, aku percaya. Tapi kau tak bisa yakinkan bank, kan?
Begini saja, bawa berkas propertimu sebagai jaminan.
Akan kupastikan kau dapatkan pinjaman secepatnya.
Kami tak punya properti, Pak!
Kau punya tanah setengah hektar di desamu, kan?
Itu punya ibuku. Dia tak akan setuju.
Bagaimana bank bisa percaya padamu, jika ibumu sendiri tak percaya?
Tanah kita? Akan kubunuh kalian jika coba bicarakan tanahku.
- Kubeli itu dengan tabunganku. - Astaga, hentikan!
Aku tak mau itu. Aku hanya beritahu yang dia bilang.
Kalian sudah makan?
Rajesh suruh Haleem ... ambil makanan. Paham?
Kakak...
Bagaimana kita akan bayar sewa? Kita bahkan kehilangan pelanggan.
Saudara, ambil sekop. Cepat.
Saudara, dia minta sekop.
Halo... namaku Sunny.
Aku butuh pekerjaan paruh waktu di pusat Zumbamu.
Aku akan datang pagi. Akan kubersihkan kamar, kusiapkan sarapan, buat teh.
Akan kulakukan apa pun maumu. Aku bahkan tak minta gaji.
Kau tak perlu gaji?
Tapi kau akan memberi kami teh.
Menurutmu aku bodoh?
Kau pikir aku tak tahu alasanmu? Kau di sini demi Geetha.
Aku akan memukulmu jika aku melihatmu lagi. Enyah!
- Saudaraku, komohon... - Hei, pergilah!
- Setidaknya kau memberitahunya. - Pergi!
- Apa itu berhasil? - Ayo!
- Itu tak menimbulkan masalah, kan? - Tidak.
Ayo.
Sudah beres, Pak.
Seharusnya tak bocor lagi.
Tidak, Pak.
Kau dapatkan pinjaman?
Kami akan dapat, Pak. Segera.
Kusewakan ruanganku untukmu, karena kau akan membantu.
Tapi kau tak membayar sewa dua bulan terakhir.
Hei, berhenti!
Ini rumahnya. Berhenti!
Kau harus bilang sebelumnya, Nyonya.
Hei, kau tak kembalikan lima rupe.
Lima rupe?
Aku tak punya uang kecil. Beri aku lima rupe, kukembalikan sepuluh.
Aku tak punya lima rupe.
- Aku tak punya. - Aku harus bagaimana?
Tak ada uang kecil. Bu, kenapa kau ribut demi lima rupe?
Kubilang aku tak punya uang kecil, kan?
- Kau harus kembalikan. - Apa?
Ini rumahmu?
Pergi ambil. Kutunggu disini.
Tunggu disini. Aku akan kembali.
Ya, akan kutunggu. Pergilah.
Bikin repot saja!
Hai... Lima rupeeku!
Dasar pencuri!
Mouni, kenapa berkunjung mendadak?
Akan kuceritakan...
Kenapa kakimu?
Tidak. Sopir bajaj itu tak punya hati. Dia curi lima rupeeku.
Lima rupee?
Dia jahat, kau jangan diam.
Kau harus ribut. Mau minum teh?
Tidak, tak perlu.
Kavya meneleponku, katanya ada lowongan di kantornya.
Dia bahkan mengirimiku lembar jawaban.
Syukurlah. Kau harus rayakan kali ini.
Tunggu sampai kudapatkan pekerjaan, akan kuberi apa pun maumu.
Aku sekarat di sini.
No comments yet. Be the first to leave one.